Mengulik Sejarah dan Warisan Budaya Lasem, BWCF Sukses Laksanakan Workshop Jurnalisme Arkeologi

workshop jurnalisme arkeologi yang diadakan oleh Borobudur Writers and Culture Festival (BWCF). (Novi)
REMBANG, utrembang.com – Sebanyak kurang lebih 30 peserta mengikuti kegiatan workshop jurnalisme arkeologi yang diadakan oleh Borobudur Writers and Culture Festival (BWCF). Kali ini workshop dilaksanakan di Lasem dengan mengusung tema “Lasem : Museologi & Heritage” dengan mengunjungi beberapa situs dan tempat bersejarah di Lasem.
Tak hanya di Lasem, namun juga beberapa tempat di wilayah Kabupaten Rembang juga. Para perserta datang dari berbagai wilayah, seperti Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Medan, dll dengan latar belakang yang berbeda pula, seperti penulis, jurnalis, arkeolog dan lainnya.
Kegiatan workshop ini juga mendatangkan pemateri dari latar belakang yang berbeda – beda, seperti Agni Malagina dari tata kota, Kwa Tong Hay yang merupakan ahli klenteng China di Lasem, Mahandis Yoanata Thamrin dari jurnalis National Geographic Indonesia, Udaya Halim yang merupakan pemilik Liem Heritage Museum, dan para ahli lainnya.
Kegiatan ini berlangsung selama 5 hari, dimulai pada hari Kamis, 26 Juni 2025 yang merupakan malam pembukaan kegiatan workshop ini yang bertempat di Liem Heritage dan dilanjut dengan kegiatan kuliah lapangan dan kelas malam selama 3 hari pada 27 hingga 29 Juni 2025 dengan mengunjungi berbagai situs dan tempat bersejarah di Lasem dan sekitaran Rembang.
Materu yang disampaikan oleh beberapa pemateri dan kurator. Lalu pada tanggal 30 Juni 2025 para peserta mulai meninggalkan lokasi penginapan dan kembali ke tempat asalnya, namun ada juga yang masih tanggal di Lasem untuk melakukan penelitian lebih lanjut.
Para peserta diberikan berbagai fasilitas dalam kegiatan workshop ini, seperti penginapan dimana para peserta menginap di Lasem Boutique Hotel milik Udaya Halim dan merupakan pemilik Heritage Liem Museum serta transportasi untuk mengunjungi tempat – tempat yang akan dituju dalam kegiatan workshop ini.
Hari pertama kegiatan lapangan yaitu Jum’at, 27 Juni 2025 mengusung tema “Klenteng – Klenteng Tua di Lasem” dimulai dengan kunjungan ke 3 klenteng di Lasem yang termasuk klenteng tua di Lasem, yaitu Klenteng Cu An Kiong, Klenteng Gie Yong Bio, dan Klenteng Poo An Bio.
Selanjutnya peserta diajak ke Rumah Candu Lasem dan Museum Batik Tiga Negeri lalu dilanjutkan kelas malam pada malam harinya yang membahas materi tentang posisi sejarah dan keistimewaan klenteng Lasem di antara klenteng–klenteng di Jawa dan jurnalisme dalam arkeologi.
Pada Sabtu, 28 Juni 2025 yang merupakan hari kedua kegiatan mengusung tema “Museologi di Museum-Museum Lasem & Rembang” dimulai dengan kunjungan ke Museum Islam Nusantara di Lasem, Museum Perahu Kuno di Punjulharjo, Museum Kartini di Rembang, dan Liem Heritage Museum di Rembang lalu dilanjut kelas malam dengan materi “Memahami Penataan Obyek dan Kurasi Obyek dalam Museum”.
Pada hari ketiga yaitu Minggu, 29 Juni 2025 kegiatan lapangan mengusung materi tentang “Pelabuhan – Pelabuhan Kuno Lasem dan Seni Rupa”.
Di mana para peserta diajak berkunjung ke Pelabuhan Teluk Regol, Jembatan Regol, dan Pasujudan Sunan Bonang di Bonang, Lasem serta berkunjung ke lokasi produksi garam di Desa Dasun, Lasem.
Acara dilanjut dengan kelas malam berupa materi yang sangat menarik yaitu posisi sejarah dan keistimewaan lasem diantara nisan – nisan di seluruh Pulau Jawa, pelabuhan – pelabuhan kuno di Lasem, kultur garam di Lasem dan seni rupanya, serta beberapa materi dari Udaya Halim sekaligus penutupan kegiatan workshop ini.
Pendiri sekaligus kurator BWCF, Seno Joko Suyono mengatakan, Lasem merupakan suatu tempat dimana masih banyak lapisan heritage dan lapisan sejarahnya masih banyak sekali dan sangat kaya, dimana terdapat berbagai warisan dari jaman Sailendra hingga jaman Majapahit yang masih banyak tidak orang ketahui.
Hal tersebut merupakan alasan mengapa Seno memilih Lasem untuk kegiatan workshop kali ini.
Ia juga menuturkan tujuan dari kegiatan ini di adakan di Lasem yaitu untuk memberikan banyak perspektif kepada peserta tentang berbagai dimensi sisi – sisi sebuah situs yang kali ini lasem dengan mendatangkan pemateri dengan latar belakang yang berbeda – beda.
“Tujuan dari kegiatan ini yaitu untuk memberi wawasan kepada para peserta untuk mendekati situs secara multi perspektif dengan mendatangkan pemateri dengan latar belakang yang berbeda sehingga diharapkan dapat memberi masukan dari perspektif masing – masing terhadap kawasan yang dikaji,” ucap Seno.
Seno juga mengatakan banyak orang yang belum mengetahui tentang Lasem dan di Lasem terdapat data – data yang bisa dikaji, contohnya seperti Klenteng Gie Yong Bio.