Berita

Jejak Stasiun Lasem: Ketika Riuh Kereta Tinggal Kenangan

Jejak Stasiun Lasem: Ketika Riuh Kereta Tinggal Kenangan
Bagikan :

Jejak Stasiun Lasem: Ketika Riuh Kereta Tinggal Kenangan

Jejak bangunan stasiun Lasem di Kabupaten Rembang. (Novi Oktaviani)

REMBANG, utrembang.com – Tak ada lagi rangkaian gerbong kereta yang datang pada pagi hari.

Tak terdengar pula riuh penumpang yang berpadu dengan suara roda besi yang dahulu menyusuri rel dan membawa masyarakat menuju kota-kota di sepanjang pantai utara Jawa.

Di Desa Dorokandang, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, jejak perjalanan kereta api masih tersimpan di antara kehidupan warga.

Bangunan bekas Stasiun Lasem yang dulunya menjadi tempat naik-turunnya penumpang dan pengangkutan hasil bumi kini tak lagi dipenuhi aktivitas perkeretaapian.

Kawasan yang dahulu ramai oleh aktivitas penumpang kini telah berubah menjadi permukiman warga.

Selain itu, halaman yang dahulu dipenuhi penumpang dan lalu-lalang kereta kini sebagian areanya dimanfaatkan sebagai pangkalan truk dan dikelilingi tumbuhan ilalang.

Meskipun kereta api sudah lama berhenti beroperasi, jejaknya masih dapat ditemukan di sekitar kawasan tersebut.

Bekas jalur rel yang dahulu dilalui kereta kini telah berubah menjadi bagian dari jalan dan permukaan tanah yang digunakan warga untuk aktivitas sehari-hari.

BACA JUGA :  Kue Balok Legenda, Jajanan Sore Favorit Anak Muda Rembang

Jejak lainnya juga dapat dilihat dari keberadaan jembatan gantung bekas perlintasan kereta api yang berada di Desa Babagan, tepat di sebelah Desa Dorokandang, tempat bangunan stasiun berdiri.

Oleh warga sekitar, jembatan tersebut dikenal dengan sebutan “Treteg Gandul”.

Dahulu, jembatan tersebut menjadi bagian dari perlintasan kereta api.

Kini, keberadaannya menjadi saksi bisu dan pengingat bahwa kawasan Lasem pernah dilalui perjalanan kereta.

Meski fungsinya telah berubah, sejumlah bagian bangunan lama masih kokoh berdiri.

Bangunan kantor stasiun yang menyatu dengan peron menjadi salah satu bagian yang masih tersisa.

Tak jauh dari sana, terdapat bangunan kamar mandi yang dilengkapi menara air.

Usia menjadikan bangunan-bangunan tersebut tampak tua dan terbengkalai.

Namun, bentuknya masih menyimpan ciri khas yang mengingatkan pada masa ketika Stasiun Lasem masih beroperasi.

Bangunan stasiun memiliki gaya arsitektur Indis dengan sentuhan aksen Tionghoa.

Pintu dan jendelanya yang berukuran besar menyesuaikan kondisi iklim tropis Lasem.

BACA JUGA :  Semarak HUT ke-5, Salut Kartini Rembang Gelar Lomba Menulis Artikel untuk Pelajar dan Mahasiswa

Lengkungan pada bagian atap juga menjadi salah satu ciri khas bangunan stasiun tersebut.

Di balik bangunan tua itu, tersimpan cerita masa ketika kereta api menjadi bagian dari keseharian masyarakat Lasem.

4d0a9bff-1de0-4f68-b21e-e7e47ac52c0b

Stasiun Lasem berdiri sejak 1900 simpan kenangan riuhnya penumpang di utara Jawa. (Novi Oktaviani)

Salah seorang warga yang pernah menjadi penumpang kereta, Sus Prihantini, masih mengingat bagaimana suasana perjalanan pada masa itu.

“Kereta masih kereta uap, bangkunya masih dari kayu, seperti kereta pada zaman dulu,” kenang Sus.

Dalam ingatannya, kereta tiba di Stasiun Lasem sekitar pukul 09.00, 12.00, dan 15.00.

Suasana stasiun menjadi jauh lebih ramai ketika Lebaran tiba.

Penumpang berdesakan hingga, menurutnya, ada yang sampai naik ke atas atap kereta.

“Kalau sudah musim mudik atau menjelang Lebaran, jumlah penumpang sangat ramai, bahkan sampai ada yang naik ke atap kereta,” ujarnya.

Bagi Sus dan warga lain yang pernah mengalaminya, kereta bukan alat transportasi semata.

BACA JUGA :  Kisah Wahyu Trisna Augischa, Mahasiswa Segudang Prestasi UT Rembang, Tak Segan Kuliah Sambil Bekerja

Perjalanan dengan kereta menjadi bagian dari keseharian dan kenangan yang kini hanya dapat diceritakan kembali.

Stasiun Lasem sendiri dibuka pada 1 Mei 1900 oleh Samarang-Joana Stoomtram Maatschappij (SJS), yang menjadi bagian dari jaringan jalur kereta api SJS yang menghubungkan berbagai wilayah, termasuk hingga wilayah Jatirogo.

Keberadaan jalur tersebut turut mendukung aktivitas ekonomi di wilayah pantai utara Jawa.

Berbagai hasil bumi dan hasil laut, seperti kopi, kapas, tembakau, tebu, kayu jati, garam, dan ikan, dapat diangkut dengan lebih cepat dan murah.

Namun, perkembangan transportasi jalan raya perlahan mengubah peran kereta api.

Memasuki era 1980-an, jalur tersebut mulai kehilangan eksistensinya hingga akhirnya perjalanan kereta api dari Lasem berhenti.

Kini, kereta hanya tinggal cerita.

Rel tak lagi menjadi jalan bagi lokomotif, sementara halaman stasiun telah menjadi bagian dari kehidupan baru warga.

Namun, bangunan yang tersisa dan cerita dari mereka yang pernah mengalaminya membuat masa lalu Stasiun Lasem belum sepenuhnya hilang.

Fungsinya telah berubah, tetapi kenangannya masih tinggal.

Video pilihan: Karmila – Karavista Musik


Bagikan :
Editor : Alfia Dwi Nastiti