Dari Takut Jarum hingga 56 Kali Donor, Kisah Bambang Susilo yang Berujung Penghargaan Bupati

Puluhan kali mendonorkan darah, Bambang Susilo terima penghargaan dari Bupati Rembang. (Alfia Dwi Nastiti)
REMBANG, utrembang.com – Jarum yang dahulu sempat membuatnya takut kini justru menjadi bagian dari kebiasaan Bambang Susilo.
Lebih dari lima puluh kali, pria berusia 53 tahun asal Desa Mrayun, Kecamatan Sale, Kabupaten Rembang, itu datang untuk mendonorkan darahnya.
Bukan demi mengejar penghargaan, melainkan karena percaya bahwa kesehatan yang dimilikinya dapat menjadi pertolongan bagi orang lain.
Bambang, yang akrab disapa Bamsus, pertama kali mengenal donor darah ketika masih duduk di bangku sekolah dan kemudian kembali mendonorkan darah saat duduk di bangku kuliah.
Namun, karena pada masa itu pencatatan donor belum terdigitalisasi seperti sekarang, sebagian riwayat donornya tidak lagi tercatat.
Ia kemudian kembali aktif menjadi pendonor sekitar 15 tahun lalu setelah lulus kuliah dan mulai bekerja.
Hingga kini, sebanyak 56 kali namanya tercatat melakukan donor darah.
Jumlah tersebut mengantarkannya menerima penghargaan sebagai penerima penghargaan donor darah sukarela ke-50 kali dari Bupati Rembang pada Kamis (17/9) di Pendopo Museum Kartini yang diselenggarakan oleh PMI Kabupaten Rembang.
Penghargaan yang diterima Bambang tidak berhenti di tingkat kabupaten. Bersama 65 pendonor lainnya dari Rembang, ia juga akan menerima penghargaan dari Gubernur Jawa Tengah pada 29 September 2026 di Semarang.
Bagi Bambang, donor darah bukan sekadar rutinitas, tetapi ada alasan kemanusiaan yang membuatnya terus kembali mendonorkan darah.
“Motivasi saya ingin hidup sehat, ingin berperilaku sehat, termasuk dari segi kemanusiaan. Banyak orang yang membutuhkan darah kita untuk mereka menyambung nyawa dan bertahan,” ungkap Bambang.
Pengalaman keluarganya turut membuat kepedulian itu semakin kuat. Ia pernah melihat istrinya membutuhkan transfusi darah ketika sakit.
Dari pengalaman tersebut, muncul pemikiran sederhana dalam dirinya: ketika seseorang diberi kesehatan dan memiliki darah yang memenuhi syarat untuk didonorkan, mengapa tidak membantu orang lain yang sedang membutuhkan?
Bambang pun berusaha menjadikan donor darah sebagai bagian dari pola hidupnya.
Jika dahulu donor dilakukan sekitar tiga bulan sekali, kini ia mengetahui bahwa donor dapat dilakukan setelah jeda sekitar 75 hari sesuai ketentuan.
Namun, dalam praktiknya, ia memilih rutin sekitar tiga bulan sekali.
Tempatnya pun tidak selalu sama. Ketika waktunya tiba dan ada kesempatan, ia dapat mendonorkan darah melalui kegiatan di Desa Mrayun, Desa Tahunan, maupun puskesmas.
“Di mana saya sempat dan sudah waktunya, ya saya donor di situ,” ujarnya.
Namun, perjalanan Bambang sebagai pendonor tidak berhenti pada dirinya sendiri. Sebagai guru produktif di SMK Negeri 1 Sale, ia juga berusaha menularkan keberanian untuk berdonor kepada anak didiknya.
Ia masih mengingat bagaimana sebagian siswanya merasa takut ketika pertama kali hendak donor.
Ukuran jarum dan bayangan rasa sakit menjadi alasan mereka ragu. Bambang kemudian memilih untuk mendampingi mereka secara langsung.
Ia memotivasi, menemani, bahkan memegangi siswa selama proses donor agar mereka merasa lebih tenang.
Upaya sederhana itu ternyata meninggalkan kesan tersendiri. Siswa yang awalnya takut perlahan berani mencoba dan kemudian dapat melakukan donor secara mandiri.
Bagi Bambang, momen ketika berhasil mengajak orang lain untuk berdonor justru menjadi salah satu pengalaman paling berkesan selama perjalanan panjangnya sebagai pendonor.
“Ketika saya mengajak orang untuk berdonor, saya memotivasi anak didik saya untuk berani donor. Saya menemani dan memegangi mereka ketika donor agar mereka nyaman hingga mereka sekarang aktif sendiri,” tuturnya.
Di luar aktivitasnya sebagai pendonor, Bambang juga menjalani berbagai kesibukan.
Ia bekerja di PT Berkah Sari Bumi Rembang dan menjabat sebagai Ketua Asosiasi Tambang Batu Kapur Rembang.
Ia juga aktif di PMI Kecamatan Sale dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) sebagai kepala bidang yang membidangi ESDM dan pertambangan.
Di bidang pendidikan, ia turut menjadi bagian dari perjalanan lahirnya jurusan Geologi Pertambangan di SMK Negeri 1 Sale dan kini mengajar sebagai guru produktif di jurusan tersebut.
Di tengah beragam aktivitas itu, donor darah tetap menjadi salah satu bentuk pengabdian yang ia pertahankan. Penghargaan yang diterimanya pun tidak ia tempatkan sebagai tujuan.
Bagi Bambang, piagam dan penghargaan hanya menjadi tanda dari perjalanan yang telah dilalui sekaligus pengingat bahwa dirinya masih diberi kesehatan.
“Itu sebagai salah satu motivasi saya untuk bisa terus konsisten jadi pendonor rutin. Tidak hanya semata-mata mengejar piagam penghargaan, tetapi kita bisa berbagi dengan sesama. Itu suatu kepuasan batin yang tidak ternilai,” katanya.
Baginya, angka 56 kali donor bukanlah akhir. Angka itu justru membuatnya menyadari bahwa masih ada kesempatan untuk kembali membantu.
“Ini hanya hitungan angka saja. Ternyata saya sudah lebih dari 50 kali mendonorkan diri. Oh, saya masih sehat, oh, saya masih punya kesempatan untuk donor lagi,” ujar Bambang.
Bambang percaya bahwa kemanusiaan tidak mengenal batas. Darah yang diberikan secara sukarela tidak perlu mengetahui siapa penerimanya, sebab selama ada orang yang membutuhkan dan dirinya mampu membantu, ia memilih untuk terus berbagi.
Video pilihan: Karena Kamu – Karavista Musik