Sambel Latoh, Kuliner Musiman yang Jadi Rebutan Warga Rembang
REMBANG, utrembang.com – “Barang langka, jadi rebutan”, perumpamaan ini cocok untuk menggambarkan kuliner sambel latoh di Rembang.
Keberadaannya yang langka dan hanya muncul pada bulan tertentu, yakni Oktober, menjadikannya primadona di kalangan masyarakat.
Tak hanya langka, latoh juga dapat dikonsumsi oleh siapa saja.
Lilis, warga Desa Sendangmulyo, Kecamatan Sluke, memaparkan bahwa latoh bebas diambil oleh siapa saja.
“Latoh ada di musim tertentu. Sekalinya ada, jumlahnya cukup banyak. Siapa pun bisa mencari dan mengambilnya sendiri di pesisir laut. Biasanya menempel di batu karang. Cukup diambil dan dibersihkan dari pasir atau kotoran lainnya saja,” ungkapnya.
Bentuknya yang bulat kecil dan bergerombol membuat latoh mendapat julukan anggur laut.
Mengilap dan berwarna hijau, latoh menggoda mata yang memandangnya.
Naya, salah satu pengunjung pantai, mengakui bahwa selain rasanya yang enak, mencari latoh di sepanjang pesisir laut menjadi momen yang menyenangkan.
“Rasanya tuh enak, asin, gurih, apalagi dicampur sambal kelapa. Terus seru juga nyari sore-sore di laut bareng-bareng,” ujar Naya.
Cukup mudah mengolahnya. Dengan parutan kelapa dan sambal yang dicampur, latoh dapat memikat hati siapa pun yang memakannya.
Rasa asin dan gurih yang berpadu dengan sambal kelapa menjadi satu kesatuan yang berbeda dari sambal pada umumnya.
Namun, sayangnya, seiring perkembangan zaman, kalangan muda mulai kurang tertarik dengan keberadaan latoh.
Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk lebih memperkenalkan kuliner latoh kepada generasi muda agar cita rasa kuliner tradisional musiman ini tetap terjaga dan tidak hanya menjadi sekadar cerita.
Video pilihan: Lintang Asmoro – Karavista Musik
