Tanpa Gelar Kuliah, Lilik Buktikan Hasil Eksperimen Telur Asinnya Mampu Bersaing di Pasar Nasional
REMBANG, utrembang.com – Bicara soal telur asin, pikiran sebagian besar orang pasti langsung tertuju pada Brebes. Namun, siapa sangka, di salah satu desa di Rembang, yakni Desa Sulang, terdapat sentra produksi telur asin terkenal yang sudah dipasarkan hingga tingkat nasional, yaitu telur asin PeSat.
Jauh sebelum dikenal luas seperti sekarang, jejak usaha ini terukir dari niat sederhana dan pengalaman membuat telur asin secara mandiri oleh Lilik Sudiyono pada 2003 lalu untuk mengisi waktu luangnya saat libur kerja.
”Dulu saya pernah buat telur asin sendiri pada tahun 2003, waktu masih bekerja di salah satu lembaga keuangan di Rembang,” ungkap Lilik.
Sebelum berkecimpung menjadi seorang pengusaha, Lilik juga pernah bekerja di beberapa perusahaan.
Salah satunya adalah PT Semarang Packaging Industry. Ia bekerja di sana selama tujuh tahun.
Berbekal ijazah SMA dan tekad yang kuat, hanya berselang tiga tahun setelah masuk, kariernya melesat sangat cepat.
Berkat kecerdasannya yang luar biasa, kepala perusahaan saat itu memberikan kesempatan kepadanya untuk menjadi pimpinan perencana produksi.
Namun, tidak berselang lama, Lilik merasa jenuh karena kariernya sudah mentok. Akhirnya, ia memutuskan untuk mengundurkan diri dan bekerja di Rembang.
”Karena saya rasa karier saya sudah mentok menjadi kepala perencanaan produksi atau kasie, jadi saya memutuskan untuk resign saja,” terang Lilik.
Akhirnya, ia memutuskan bekerja di Rembang. Pada tahun 2003, ia bekerja di salah satu perusahaan keuangan. Karena ia merasa bidang yang dijalaninya bertentangan dengan hati nuraninya, pada pertengahan tahun 2006 ia memutuskan untuk mengundurkan diri dan ingin menjadi pengusaha.
Pada awal tahun 2007, berbekal sedikit tabungan dan menjual perhiasan sang istri, Lilik nekat membuka usaha budi daya jamur tiram.
Namun, tidak seperti saat bekerja dengan orang lain, ia sempat disangka orang gila karena mencoba budi daya jamur pada bulan April saat musim kemarau.
”Pada awalnya saya buat log itu, saya bikin 100 log hasilnya gagal, kemudian saya tambah lagi jadi 200 log dan alhamdulillahnya gagal semua,” ujar Lilik sambil tertawa mengenang kejadian itu.
Meskipun percobaan pembuatan log jamur gagal berkali-kali, ia tidak menyerah. Pada percobaan ketiga, ia langsung menambah produksi log-nya hingga 1.000 log.
Tidak disangka, pada Juni 2008, dari 1.000 log tadi ia berhasil panen perdananya. Akhirnya, Lilik terus menambah produksi log jamur tiramnya hingga mencapai 10.000 log.
”Wah, pada masa itu, saya sampai masuk koran, Mas. Salah satunya Pak Nyoto dulu yang mewawancarai saya pas usaha jamur saya terkenal,” kata pria tersebut.
Kala itu, Lilik tak sekadar mengembangkan usaha jamur tiramnya, tetapi juga bertekad membuktikan bahwa cemoohan teman-teman kantor saat ia memutuskan mengundurkan diri adalah salah.
Ia berjanji pada diri sendiri bahwa rezeki tidak hanya datang dari bekerja pada orang lain, melainkan bisa ia ciptakan sendiri.
”Wah, saat itu yang bikin saya bangga ketika saya bisa bungkam omongan teman-teman saya dulu dengan prestasi. Bayangin, pada kala itu, UMR di Rembang kalau enggak salah masih Rp900 ribuan, tapi saya sudah bisa punya omzet Rp400–600 ribu per hari. Apa enggak mlete saya,” kenang Lilik sambil tertawa terbahak-bahak.
Namun, pada tahun 2015, usaha jamur tiramnya harus berhenti karena Lilik sakit yang mengharuskannya pada saat itu berhenti bekerja untuk sementara waktu.
Hingga akhirnya, pada tahun 2019, ia memutuskan untuk kembali membuat telur asin.
Alasannya sederhana, membuat telur asin tidak memerlukan waktu lama dan pemeliharaan yang rumit, jadi ia bisa mengerjakannya sendiri dari proses mencuci telur hingga pengeraman.
Hingga pada Oktober 2019, ada tawaran dari Dinas Perdagangan dan Koperasi (Dindakop) untuk mengikuti pelatihan pembuatan telur asin di Brebes.
”Saya pas di Brebes itu, akhirnya baru tahu ternyata metode yang saya lakukan selama ini salah semua, dan akhirnya memutuskan untuk menyimak materi dari ahlinya dengan penuh antusias,” tuturnya.
Sepulang dari Brebes, Lilik akhirnya mempraktikkan semua yang telah diajarkan pada saat seminar. Ia memilih telur bebek yang kaya akan omega, jadi bukan sembarang telur asin yang ia pilih.
Ia sempat beberapa kali memilih pemasok telur bebek, mulai dari Sulang, Kudus, Blitar, hingga yang sampai sekarang masih menjadi pemasok terakhirnya, yakni dari Sragen.
Berbekal riset berbulan-bulan dan menggabungkan pengalamannya sebagai pimpinan perencana produksi, akhirnya Lilik menemukan formula yang pas untuk usahanya.
Telur asin ini tidak bisa dipastikan masir sesuai prediksi waktu saja, tetapi juga harus memikirkan soal kondisi lingkungan dan cuaca yang berpengaruh pada kelembapan udara untuk proses pengeraman telur asin.
”Kalau orang lain ngomong, telur asin itu harus di pengeraman selama 14 hari, itu kurang pas, karena secara teori proses kimia terjadi bergantung dengan suhu ruangan dan kelembapan udara pada saat itu,” ungkapnya.
Bahkan, karena saking sempurnanya telur asin Lilik, pernah ada seorang lulusan teknologi pangan dari universitas ternama yang mengklaim bahwa telur asin PeSat asinnya disuntik.
”Maaf, dulu pernah ada lulusan tekpang dari universitas ternama, ngeklaim kalau telur asin saya asinnya disuntik karena saking rata asinnya. Tapi setelah dicoba dan dites, mereka enggak bisa buktikan kalau telur asin saya suntikan. Nyatanya, enggak ada bekas suntikannya,” terang Lilik sembari mempraktikkan cara memegang telur asin miliknya.
Puncaknya pada saat pandemi Covid-19, telur asin PeSat mengalami pesanan yang sangat banyak dari berbagai daerah, mulai dari Jawa Tengah hingga luar Jawa, seperti Kalimantan hingga Aceh.
Saat ini, telur asin PeSat memproduksi berbagai turunan telur asin, dari telur asin biasa, bakar, rempah, hingga kerupuk telur asin.
Untuk kapasitas produksinya, rata-rata per bulan bisa sekitar 4.000 sampai 6.000 butir per bulan, dengan mencapai omzet puluhan juta sebulannya.
”Untuk kapasitas produksi kami, karena masih sendiri, ya rata-rata di masa normal, enggak kayak sekarang, itu 100–200 butir sehari, tergantung pesanan dan pasar,” sebut Lilik.
Lilik juga berpesan kepada anak-anak muda bahwa jika ingin berbisnis atau berwirausaha, hal yang pertama harus dimiliki adalah ”memulai langkah pertama”.
Menurutnya, keberanian untuk memulai adalah fondasi utama kalau mau berwirausaha.
”Kalau ingin bisnis, hal yang paling penting itu adalah berani memulai. Jangan pikirkan modal karena modal bisa kita dapat dari mana saja, asalkan kita mau mulai melangkah dahulu, nanti pasti ada jalannya,” pesan Lilik.
Video pilihan: Cinta yang Sempurna – Karavista Musik