Berita

Jadi Polisi dan Dosen, Iptu Widodo Coba Tinggalkan Jejak Kebaikan untuk Masyarakat

Jadi Polisi dan Dosen, Iptu Widodo Coba Tinggalkan Jejak Kebaikan untuk Masyarakat
Bagikan :

Jadi Polisi dan Dosen, Iptu Widodo Coba Tinggalkan Jejak Kebaikan untuk Masyarakat

Iptu Dr. Widodo Eko Prasetiyo, S.H., M.H. Sosok Abdi Negara dan Pencerdas Generasi Penerus Bangsa. (Novi Oktaviani)

REMBANG, utrembang.com – Di balik seragam cokelat yang lekat dengan tugas penegakan hukum, ada sosok yang setiap akhir pekan berganti peran menjadi pendidik di kelas-kelas perguruan tinggi.

Dialah Iptu Dr. Widodo Eko Prasetiyo, S.H., M.H., KBO Reskrim Polres Rembang sekaligus dosen tutor di Salut Kartini Rembang.

Bagi Iptu Widodo, menjalankan tugas ganda sebagai polisi dan tutor adalah panggilan dari hati yang berjalan beriringan.

Kini, ia menjabat sebagai KBO Satreskrim Polres Rembang, Wakil Kepala Satuan Reserse Kriminal yang fokus pada koordinasi penyelidikan, penyidikan, serta pembinaan personel.

Pak Widodo, sapaan akrabnya saat mengajar, memulai karier kepolisian sejak 2005 di Polres Pekalongan.

Sejak itu, langkahnya menapaki jalan panjang, sempat mendapat pengalaman di Polda Jawa Tengah pada 2019, lalu melanjutkan kiprahnya di berbagai satuan hingga kemudian, pada tahun 2020, ia menjabat sebagai Kepala Unit Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Polres Rembang.

Di tengah kesibukan dinas, ia menempuh studi doktoral (S3) di Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang hingga meraih gelar doktor pada 2022, sebuah pencapaian yang membuka jalan ke dunia akademik sebagai tutor di UT.

Keputusan untuk menjadi polisi diambilnya sebagai wujud bakti kepada bangsa dan negara, meski ia berasal dari keluarga guru.

“Awalnya keluarga saya semuanya guru, tapi saya ingin berbakti kepada bangsa dan negara, akhirnya memilih untuk menjadi anggota kepolisian,” ujar Iptu Widodo.

BACA JUGA :  Generasi Muda Tampilkan Kreativitas dan Gagasan, Ini Daftar Pemenang Lomba Menulis Salut Kartini Rembang

Iptu Widodo mendefinisikan dirinya saat ini sebagai seorang polisi yang memiliki tugas utama melindungi, mengayomi, melayani, dan menegakkan hukum, sesuai amanat UU Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri).

Namun, di samping tugas itu, ia memandang penting untuk menjalankan tugas edukasi hukum kepada masyarakat.

“Kami wajib memberikan pemahaman dan edukasi kepada masyarakat berkaitan dengan ilmu-ilmu hukum. Dengan begitu, masyarakat tahu aturan mana yang boleh dan tidak boleh dilanggar,” jelasnya.

Bagi Iptu Widodo, menjadi polisi dan dosen bukanlah dua dunia yang saling bertabrakan, melainkan jalan yang beriringan.

Tugas utamanya jelas, melindungi, mengayomi, dan menegakkan hukum.
Menurutnya, peran polisi tidak hanya menegakkan hukum, tetapi juga mendidik masyarakat agar melek aturan.

“Kami wajib memberikan pemahaman tentang hukum. Dengan begitu, masyarakat tahu aturan mana yang boleh dan tidak boleh dilanggar,” katanya.

Di ruang kelas, ia kerap membawakan materi dengan mengaitkan kasus-kasus nyata yang pernah ia tangani.

Pendekatan itu membuat suasana kelas kuliah hidup, sekaligus memberi pemahaman mendalam dan diskusi tentang konsekuensi hukum.

Tak jarang, ia menyelingi perkuliahan dengan humor agar suasana kelas tidak membosankan dan kaku.

Ia juga menekankan pentingnya interaksi dua arah, sehingga bukan hanya dirinya yang menyampaikan materi, tetapi mahasiswa pun diberi ruang untuk bertanya bahkan berbagi pengetahuan.

BACA JUGA :  Gali Kearifan Lokal, Dinarpus Rembang Gelar Bimtek Kepenulisan Budaya

Baginya, pendidikan tinggi adalah fondasi penting untuk membentuk karakter dan profesionalisme generasi muda, bukan hanya kecerdasan akademik semata.

Jika ditanya siapa tokoh panutannya, Iptu Widodo tidak menyebut nama besar.

Baginya, sosok inspiratif adalah orang tuanya sendiri, ayahnya yang seorang guru desa yang hidup sederhana, namun teguh memegang pendidikan sebagai jalan perubahan.

Dari sana ia belajar arti kesabaran, kejujuran, dan keikhlasan.

Sebagai penyidik, Iptu Widodo tak menampik banyak tantangan yang ia hadapi.

Dari konflik kepentingan dalam kasus aduan, pelaku kriminalitas yang semakin nekat, hingga kejahatan di era digital.

“Itu semua menuntut pemikiran matang, strategi yang terencana, dan kesiapan mental,” ungkapnya.

Salah satu kasus yang paling membekas dalam ingatannya adalah pembunuhan dengan empat korban jiwa di Dresi, Rembang, beberapa waktu lalu.

“Tidak ada saksi, tidak ada titik terang. Dari situ saya belajar, kuncinya adalah kesabaran dan keikhlasan. Dengan itu, kasus sulit sekalipun bisa terungkap,” ceritanya.

Iptu Widodo menilai bahwa kejujuran dan keikhlasan adalah nilai terpenting dalam profesinya.

Meski di tengah kesibukannya sebagai aparat, Iptu Widodo tak pernah melupakan cita-cita orang tuanya yang berharap ia menjadi guru.

Lewat jalur akademik, ia menyalurkan pengetahuan hukum yang ia miliki.

Sejak 2022, ia aktif mengajar sebagai tutor di Salut Kartini Rembang dengan mata kuliah hukum telematika, cyber crime, hukum perlindungan konsumen, hingga pendidikan kewarganegaraan.

Menurutnya, pendidikan tinggi bukan sekadar transfer ilmu, melainkan ruang pembentukan karakter, kedewasaan, dan mental.

BACA JUGA :  UT Salut Kartini Rembang Buka Stand di Alun-Alun, Kenalkan Cara Kuliah Sambil Kerja ke Calon Mahasiswa

Ia juga mengingatkan mahasiswa untuk tidak hanya pintar secara akademis, tetapi juga memiliki akhlak, etika, dan sopan santun yang baik.

“Karakter bangsa Indonesia dasarnya Pancasila. Itu tidak boleh dilupakan,” tegasnya.

Dengan segudang aktivitas, bagaimana ia membagi waktu?

Iptu Widodo mengaku kuncinya ada pada prioritas.

Tugas utama sebagai polisi tetap nomor satu, sementara jadwal perkuliahan biasanya berlangsung pada Sabtu dan Minggu atau di luar jam dinas kepolisian.

Jika ada benturan, ia akan segera komunikasikan dengan pihak Salut Kartini Rembang untuk penyesuaian waktu.

Kepada mahasiswa dan generasi muda, khususnya mahasiswa Salut Kartini Rembang, Iptu Widodo berpesan agar tidak hanya rajin belajar, tetapi juga mampu mengembangkan ilmunya di tengah masyarakat.

Ia menekankan pentingnya karakter, sopan santun, dan etika dalam menempuh pendidikan maupun bermasyarakat.

“Teguhlah belajar, kembangkan ilmu di masyarakat, dan yang terpenting jagalah kesopanan serta etika. Ilmu yang kita peroleh harus bisa diamalkan,” tuturnya.

Bagi Iptu Widodo, kesuksesan bukan sekadar gelar atau jabatan.

“Sukses itu ketika rencana yang kita buat tercapai dengan hasil yang bermanfaat bagi masyarakat. Ilmu yang kita pelajari mampu dipraktikkan dan membawa manfaat,” pungkasnya.

Dari balik seragam dan toga akademiknya, Iptu Widodo menunjukkan satu hal, pengabdian bisa ditempuh lewat berbagai jalan.

Sebagai polisi, ia menjaga keamanan, sedangkan sebagai dosen tutor, ia menyalakan ilmu.

Keduanya sama-sama ia jalani dengan niat tulus untuk memberi manfaat kepada masyarakat.

Video pilihan: Short Movie: Pejuang Mimpi


Bagikan :
Editor : Alfia Dwi Nastiti