Berita

Saat Roda Hidup Sempat Tersendat, Es Puter Sumijan Justru Melesat

Saat Roda Hidup Sempat Tersendat, Es Puter Sumijan Justru Melesat
Bagikan :

Saat Roda Hidup Sempat Tersendat, Es Puter Sumijan Justru Melesat

Sumijan: penjual es puter legendaris sejak 1995. (Bagus Yusril)

REMBANG, utrembang.com – Di tengah gempuran tren es krim kekinian yang mendominasi tongkrongan anak muda, terselip sebuah rasa yang menolak punah. Itulah Es Puter legendaris racikan Sumijan, pria paruh baya kelahiran 9 Mei 1963 yang belakangan ini viral.

Lewat paduan manisnya tape ketan dan gurihnya es krim santan kelapa, Sumijan tidak sekadar berjualan, tetapi juga mengingatkan kembali kita pada memori masa lalu yang kian asing di telinga generasi saat ini.

Kuliner Es Puter Sumijan viral karena banyak influencer yang mengulas dan mengunggahnya di media sosial.

Beragam tanggapan pun datang dan membuat lapak Sumijan ramai diserbu para pengunjung yang ingin bernostalgia menikmati kuliner legendaris tersebut.

Sumijan tidak pernah menyangka usahanya bakal selaris ini diserbu pengunjung. Sebelumnya, Sumijan berjualan Es Puter menggunakan gerobak yang dikayuh secara manual sejak tahun 1995 hingga 2015.

BACA JUGA :  Kunjungan Salut Kartini Rembang ke Salut Bina Mahunika Bogor, Menyimpan Jejak Bertukar Inovasi

Ia berjualan di sekitar kawasan Lasem. Awal ia memutuskan untuk berjualan di rumah bukanlah karena kesengajaan, melainkan karena musibah yang sempat menimpanya pada 2015.

“Saya berhenti jualan mengayuh gerobak karena dulu habis jatuh. Kaki saya patah hingga tidak bisa jalan selama enam bulan. Akhirnya, saya memutuskan untuk buka warung es di rumah saja,” ujarnya sembari mengingat momen saat itu.

Pada awal usahanya, Sumijan hanya mendirikan satu gubuk kecil di halaman rumah. Kini, gubuk sederhana itu telah beranak pinak menjadi enam gubuk yang selalu ramai oleh para pelanggannya.

Di balik kelezatan es puter yang kini diburu banyak orang, ada cerita unik tentang asal-usul resepnya.

Sumijan bercerita bahwa resep rahasia itu ia dapatkan dari seorang teman asal Solo yang ia temui secara tidak sengaja saat sedang berburu termos es sebagai modal awal usahanya.

“Saya dapat resep es puter ini kebetulan dulu pas mau cari termos ke Solo. Di sana ketemu teman, lalu diajari cara bikin es puter yang enak,” terangnya mengenang masa lalu sambil tertawa ringan.

BACA JUGA :  Sosprom UT Salut Kartini Rembang Aktif Kembali Usai Libur Semester

Hampir genap 31 tahun Sumijan merintis usaha. Pahit manis gelombang bisnis sudah kenyang ia lalui.

Sebelum sesukses sekarang, ia sempat nekat membuka cabang di dekat Perumahan Megah Asri, Rembang.

Namun, karena minimnya pengalaman berwirausaha kala itu, cabang tersebut terpaksa gulung tikar dalam waktu kurang dari enam bulan akibat biaya operasional yang tidak menutup modal.

Kini, usahanya telah ia wariskan kepada kedua anaknya, sementara ia mengambil peran baru sebagai pengawas dan quality control.

“Sekarang saya sudah tidak ikut membuat atau memasarkan es puter lagi. Tugas saya cuma jadi pengawas, memastikan rasanya tetap autentik dan tidak berubah,” ungkapnya berseloroh, disusul tawa renyah.

Konsistensi rasa inilah yang membawa Es Puter Sumijan terbang jauh hingga ke ibu kota.

BACA JUGA :  Kue Keranjang, Manisnya Harapan di Balik Perayaan Imlek

Ia mengenang sebuah momen membanggakan saat seorang pengusaha asal Jakarta kepincut dengan rasanya.

Setelah sempat menolak tawaran pertama, Sumijan akhirnya luluh ketika sang pengusaha mengundangnya kembali pada bulan Ramadan untuk menyajikan es puter di pesta pernikahan anaknya.

“Dua kali ditawari ke Jakarta untuk membuat es puter di sana. Akhirnya saya luluh pas bulan puasa. Kebetulan warung di rumah lagi agak sepi, jadi saya berangkat. Menariknya, pengusaha yang mengundang saya itu sekarang juga membuka cabang Es Puter di daerah Meruya, Jakarta Barat, dengan nama yang sama, Es Puter Sumijan,” jelasnya dengan rasa bangga.

Dari Es Puter Sumijan, kita tahu bahwa es puter bukan lagi sekadar ladang untuk menyambung hidup.

Es puter juga menjadi pengingat bahwa keautentikan rasa alami tidak akan pernah tergantikan oleh modernisasi.

Sama halnya dengan hidup, mempertahankan keautentikan adalah cara terbaik untuk menjadi diri sendiri seutuhnya di era saat ini.

Video pilihan: Karavista Musik


Bagikan :
Editor : Alfia Dwi Nastiti