Berita

Kue Keranjang, Manisnya Harapan di Balik Perayaan Imlek

Kue Keranjang, Manisnya Harapan di Balik Perayaan Imlek
Bagikan :

Kue Keranjang, Manisnya Harapan di Balik Perayaan Imlek

Kue Keranjang sajian perayaan Imlek. (Novi Oktaviani)

REMBANG, utrembang.com – “Manis, bulat, dan lengket”, tiga kata untuk menggambarkan kuliner khas saat Imlek tiba.

Kue keranjang namanya, tak sekadar memanjakan lidah, namun sarat akan makna.

Kue keranjang, atau dalam bahasa Mandarin disebut nian gao, merupakan salah satu dari banyak hidangan yang tampil saat perayaan Imlek.

Kata “nian”, yang berarti tahun, dan “gao” yang berarti kue, yang pelafalannya sama seperti kata tinggi atau naik.

Dengan demikian, kue keranjang memiliki makna harapan agar kehidupan semakin tinggi dan semakin baik di tahun mendatang.

Terbuat dari tepung ketan, tekstur kue ini sangat kenyal dan lengket dengan rasa yang manis, memuat arti dari setiap tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

BACA JUGA :  Salut Kartini Rembang Berikan Pembekalan Tutor: Fokus Pengenalan dan Pemahaman Aplikasi SILAYAR

Bentuknya yang bulat melambangkan keutuhan keluarga dan tekad yang bulat untuk menghadapi tahun mendatang.

Rasa manis yang berarti harapan untuk kehidupan yang manis, harmonis, dan menyenangkan di tahun baru ini.

Sedangkan tekstur lengket dan kenyal pada kue ini melambangkan eratnya persaudaraan, kerukunan, dan keluarga yang tidak mudah terpecah belah.

Uniknya, kue ini bisa dinikmati oleh siapa saja yang ingin menikmatinya, bukan hanya mereka yang merayakan.

Kue ini juga bisa dinikmati langsung atau diolah terlebih dahulu, misalnya digoreng dengan tepung atau dikukus.

Tak hanya saat Imlek, kue keranjang juga sering disajikan ketika perayaan Cap Go Meh (hari ke-15 Imlek).

Salah satu alasan mengapa kue keranjang hadir saat Imlek yaitu karena kue ini disajikan sebagai persembahan untuk Dewa Dapur.

BACA JUGA :  UT Salut Kartini Rembang Gelar Lomba Menulis, Ajak Generasi Muda Berkontribusi Lewat Karya

Dikutip dari salah satu artikel berjudul Lima Fakta Unik Kue Bakul atau Kue Keranjang, Kudapan Wajib Imlek yang ditulis oleh Mangara Wahyudi, disebutkan bahwa dalam cerita rakyat Tionghoa terdapat Dewa Dapur yang dipercaya naik ke langit menjelang Imlek untuk melaporkan perilaku anggota keluarga.

Dengan disajikannya kue keranjang saat Imlek, hal tersebut dimaksudkan sebagai persembahan untuk “menyuap” Dewa Dapur agar tidak melaporkan hal buruk tentang perilaku anggota keluarga kepada Kaisar Giok, melainkan melaporkan hal-hal manis atau baik saja.

Kue ini juga menjadi simbol kenaikan rezeki dengan harapan agar pendapatan, jabatan, dan kedudukan pada tahun ini semakin tinggi atau lebih baik dari tahun sebelumnya.

BACA JUGA :  UT Salut Kartini Rembang: Kuliah Jarak Jauh, dari Darurat Menjadi Tren

Proses pembuatan kue keranjang juga membutuhkan waktu yang lama dan ketekunan, yang mencerminkan kegigihan serta sikap pantang menyerah.

Seiring perkembangan waktu, kue yang awalnya hanya berwarna cokelat polos kini berkembang dengan berbagai varian rasa, mulai dari frambos, vanila, pandan, dan lainnya.

Salah satu penikmat kue keranjang, Munjiyati, menyebutkan bahwa kue ini memiliki aroma khas, namun rasanya hampir sama seperti jenang.

“Rasanya enak, hampir sama seperti jenang. Cuma, waktu aku membuka bungkusnya, ada aroma harum yang khas,” ucap Jiya.

Kue keranjang bukan hanya sekadar makanan, tetapi menyimpan doa dan harapan di setiap potongannya.

Keunikannya bukan hanya terdapat pada rasa, tetapi juga pada simbol dan tradisinya.

Video pilihan: Karavista Musik


Bagikan :
Editor : Alfia Dwi Nastiti