Perempuan Modern dan Warisan Kartini di Tengah Hustle Culture
Oleh: Windy Eka Putri Devina *)
OPINI, utrembang.com – Raden Ajeng Kartini dikenang sebagai simbol perjuangan perempuan. Semasa hidupnya, ia senantiasa gencar menyuarakan serta mempertanyakan batas-batas yang mengurung perempuan pada zamannya.
Perjuangan Kartini telah membawa perempuan hidup pada zaman yang memberikan akses lebih luas terhadap pendidikan, karier, dan peran di ruang publik.
Perempuan hari ini bisa sekolah tinggi, bekerja, dan bersuara lantang. Namun ironisnya, semakin banyak yang bisa dilakukan, semakin besar pula tuntutan yang harus dipenuhi.
Apakah ini bentuk kebebasan yang diperjuangkan Raden Ajeng Kartini, atau justru wajah baru dari tekanan yang lebih halus?
Mengenal Hustle Culture
Dikutip dari laman djkn.kemenkeu.go.id, dijelaskan bahwa secara etimologis, istilah hustle culture berarti aksi energik yang mendorong seseorang agar bisa bergerak lebih cepat secara agresif, dipadukan dengan kata culture yang berarti budaya.
Sedangkan hustle culture menurut pakar psikologi adalah budaya yang membuat seseorang menganut workaholism atau gila kerja.
Budaya hustle culture ditandai dengan orang-orang yang cenderung bekerja terlalu keras dan mendorong diri sendiri untuk melampaui batas kemampuan hingga akhirnya menjadi gaya hidup.
Dinamika Perilaku Perempuan Modern
Di era saat ini, banyak perempuan yang memilih untuk fokus meniti karier dan gelar, memaksa diri untuk mencapai segala target yang mereka buat atau ekspektasi orang lain.
Beberapa di antaranya tidak hanya dituntut untuk sukses secara akademik dan profesional, tetapi juga tetap “ideal” dalam standar sosial. Ideal yang dimaksud adalah berpenampilan menarik, emosional stabil, produktif tanpa henti, bahkan tetap menjalankan peran domestik dengan sempurna.
Segala tuntutan telah membuat perempuan modern terjebak dalam siklus bekerja, mengejar target, membangun citra diri, sambil terus membandingkan pencapaian dengan orang lain.
Warisan Kartini & Hustle Culture
Kartini dengan pemikirannya memiliki pengaruh kompleks terhadap fenomena hustle culture di era saat ini.
Nilai-nilai tentang kebebasan berpikir, kesetaraan hak, dan kemandirian perempuan menjadi fondasi bagi lahirnya perempuan-perempuan yang aktif, produktif, dan berdaya pada hari ini.
Berkembangnya hustle culture yang mengedepankan kerja keras, ambisi, dan pencapaian mengakibatkan perempuan terdorong untuk terus berkembang, membangun karier, dan membuktikan kapasitas diri—hal yang dulu diperjuangkan oleh Raden Ajeng Kartini.
Yang sering luput disadari, pemikiran Raden Ajeng Kartini hari ini mengalami pergeseran makna yang cukup halus, namun berdampak besar. Kartini memperjuangkan kebebasan dari keterbatasan sosial, sementara perempuan modern sebagian justru memaknai kebebasan itu sebagai tuntutan untuk menjadi “segala-galanya” sekaligus.
Pada akhirnya, tidak sedikit perempuan yang merasa harus memenuhi semua peran secara bersamaan, tanpa ruang untuk gagal, apalagi beristirahat.
Maka, penting untuk memaknai ulang warisan pemikiran Kartini. Bukan sebatas kebebasan untuk melakukan lebih banyak, tetapi juga kebebasan untuk memilih secara sadar. Termasuk memilih untuk menetapkan batas dan tidak selalu mengejar standar kesuksesan yang dibentuk oleh masyarakat.
*) Mahasiswa Semester 6 Program Studi Agribisnis Pertanian, UT Salut Kartini Rembang
Video pilihan: Karavista Musik