Opini

Lasem, Tiongkok Kecil dengan Toleransi yang Tak Pernah Pergi

Lasem, Tiongkok Kecil dengan Toleransi yang Tak Pernah Pergi
Bagikan :

Lasem, Tiongkok Kecil dengan Toleransi yang Tak Pernah Pergi

Novi Oktaviani

Oleh: Novi Oktaviani *)

OPINI, utrembang.com – Lasem tak hanya dikenal sebagai Tiongkok Kecil, tetapi juga terkenal akan toleransi masyarakatnya.

Lingkungan antarumat beragama yang saling berdempetan tak melahirkan sekat.

Mulai dari rumah, tempat ibadah, kegiatan sehari-hari, semuanya berjalan beriringan tanpa jarak.

Kedekatan itu bukan sekadar jarak fisik belaka, melainkan cerminan jiwa sosial yang tumbuh dari sejarah panjang.

Toleransi di Lasem bukan hanya slogan semata, melainkan nilai yang sudah tumbuh dan hidup sejak zaman perlawanan melawan VOC terjadi di Lasem.

Sejak peristiwa Geger Pecinan mengguncang tanah Jawa, Lasem menjadi titik perlawanan terhadap VOC.

Dalam peristiwa bersejarah tersebut, tokoh dari etnis Jawa, yaitu Raden Panji Margono, bersama Oei Ing Kiat dan Tan Kee Wie dari etnis Tionghoa, memimpin perang tersebut dan menghancurkan markas VOC di Rembang.

Perbedaan etnis tak lagi menjadi pembatas, melainkan sebuah alasan untuk bersatu melawan ketidakadilan.

BACA JUGA :  Mengajar, Mengabdi, Menginspirasi: Perjalanan Habibatun Nafisah hingga Menyandang Gelar Pemuda Pelopor Kabupaten Rembang

Dari kisah sejarah tersebut tergambar toleransi yang bertumbuh, diwariskan dari generasi ke generasi.

Nilai itu tidak berhenti sebagai catatan sejarah semata, tetapi dipertahankan dan dihidupkan dalam keseharian.

Toleransi bertahan karena dipraktikkan dalam sikap saling menghormati waktu beribadah dan perayaan agama, menjaga ketenangan saat ibadah berlangsung, serta menyadari bahwa hidup berdampingan adalah suatu kebutuhan bersama.

Hingga kini, harmoni itu terasa dan terlihat nyata.

Di tengah Kota Lasem berdiri Masjid Jami’ Lasem dengan azan yang mengalun lima waktu.

Tak sampai 1 km dari Masjid Jami’ Lasem berdiri tiga klenteng tua yang banyak menyimpan kisah.

Sebelah utara berdiri kokoh bangunan klenteng dengan nuansa warna pink berpadu merah, Klenteng Cu An Kiong, yang menjadi salah satu klenteng tertua di Jawa.

Di sudut barat terdapat Klenteng Gie Yong Bio yang menyimpan cerita sejarah dan jejak kepahlawanan serta penghormatan untuk para leluhur pejuang, termasuk kisah Geger Pecinan.

BACA JUGA :  Refleksi Hari Kemerdekaan: Menagih Janji Pendidikan, dari Mahalnya Kuliah hingga Susahnya Cari Kerja

Di bagian selatan, Klenteng Poo An Bio berdiri menjadi ruang doa serta perayaan tradisi hingga kini.

Selain itu, pondok pesantren di Lasem pun berdiri di tengah kawasan Pecinan, menyatu dengan lingkungan Tionghoa tanpa sekat.

Salah satunya yaitu Pondok Pesantren Kauman Lasem yang berdiri di tengah kawasan Pecinan dan menampilkan akulturasi arsitektur Jawa dan Tionghoa.

Bangunan gereja dan vihara pun berdiri kokoh di tengah masyarakat yang majemuk, menjadi penanda bahwa perbedaan tak pernah menghalangi kebersamaan.

Keberadaan bangunan-bangunan tersebut bukan sekadar bangunan ibadah, melainkan simbol penerimaan.

Warga sekitar turut menjaga, merawat, bahkan saling membantu ketika perayaan agama berlangsung.

Pada momen tertentu, toleransi dan harmoni kian terasa dalam perayaan tradisi.

Salah satunya yaitu tradisi Sembahyang Rebutan yang diadakan masyarakat Tionghoa peranakan, di mana masyarakat tak hanya menyaksikan, tetapi juga ikut terlibat dalam suasana kebersamaan.

BACA JUGA :  Kunjungan Salut Kartini Rembang ke UT Pusat: Peningkatan Mutu Layanan dan Pengembangan Mahasiswa

Dalam tradisi tersebut, perbedaan keyakinan tak menjadi pembatas karena yang dirayakan adalah kebersamaan dan rasa syukur.

Tak jauh dari bangunan-bangunan tersebut berdiri pula Museum Islam Nusantara yang memperkaya narasi bahwa Islam di Lasem tumbuh berdampingan dengan budaya Tionghoa.

Itulah yang menegaskan bahwa identitas keagamaan di kota ini selalu berjalan beriringan dengan kebudayaan.

Mungkin itulah mengapa harmoni di Lasem tetap terjaga.

Masyarakatnya tak hanya mewarisi bangunan tua, tetapi juga kesadaran bahwa perbedaan bukanlah sebuah ancaman.

Di tengah dunia yang mudah terpecah belah oleh isu agama dan identitas, Lasem menjadi contoh nyata bahwa keberagaman bukanlah ancaman, melainkan suatu kekayaan.

Lasem telah membuktikan, dari kisah Geger Pecinan hingga sekarang, bahwa toleransi bukan hanya cerita masa lalu, melainkan sebuah kehidupan yang harus terus dijaga dan diwariskan.

*) Mahasiswa Semester 6 Ekonomi Pembangunan, UT Salut Kartini Rembang

Video pilihan: Karavista Musik


Bagikan :
Editor : Alfia Dwi Nastiti