Dari Sawah Gagal Panen, Desa Trenggulunan Bangkit Lewat Wisata Edukasi Buah Naga
REMBANG, utrembang.com – Siapa sangka, lahan persawahan yang dulu sering gagal panen kini berubah menjadi hamparan hijau tanaman buah naga yang tumbuh subur.
Desa Trenggulunan, Kecamatan Pancur, Kabupaten Rembang, kini dikenal sebagai desa wisata edukasi berbasis pertanian bernama Trenggulunan Agro View (TAV), bukti nyata semangat petani dalam berinovasi dan bangkit dari keterbatasan.
Perubahan besar itu bermula pada tahun 2013, ketika petani setempat mulai meninggalkan tanaman padi karena sering terserang hama dan hasil panennya tidak menentu.
Salah satu warga, Sugaji, membawa bibit buah naga dari Banyuwangi, daerah dengan kondisi geografis mirip Desa Trenggulunan.
Dari situlah, kisah kebangkitan desa dimulai.
“Awalnya hanya coba-coba. Bibitnya dulu kecil, sekitar lima sampai sepuluh sentimeter, karena sulit didapat. Tapi hasilnya melimpah, dan warga mulai tertarik ikut menanam,” kenang Budi Astomo, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Trenggulunan Agro View (TAV) sekaligus petani buah naga.
Mayoritas petani menanam buah naga merah karena rasa yang manis dan hasil panennya lebih banyak.
Meski sempat bebas dari hama selama bertahun-tahun, kini muncul tantangan baru berupa penyakit pada batang buah naga akibat kurangnya sinar matahari.
Namun, hal itu tak menyurutkan semangat petani untuk terus berinovasi.
Tahun 2017, warga mulai menggagas pengembangan wisata petik buah naga.
Meski sempat terhambat karena keterbatasan dana desa, peluang kembali muncul pada tahun 2023, Titik balik terjadi pada tahun 2023, ketika program CSR dari PT PLN Nusantara Power UP Rembang berkolaborasi dengan Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Pancur hadir mendukung pengembangan wisata berbasis alam dan edukasi di Trenggulunan.
“Trenggulunan dipilih karena punya potensi besar. Tidak hanya buah naga, tapi juga pemandangan alam dan kegiatan pertanian yang bisa dijadikan wisata edukasi,” ujar Budi.
Kini, wisatawan dapat menikmati paket wisata petik buah naga seharga Rp18.000 per orang.
Pengunjung juga bisa belajar mengenal tanaman, peternakan, serta menikmati keindahan alam pedesaan.
Musim buah naga biasanya berlangsung antara November hingga Februari, dan di luar musim panen, wisatawan tetap bisa menikmati kegiatan edukasi pertanian atau sekadar berfoto dengan latar belakang pemandangan alam yang menenangkan.
Selain dijual segar, buah naga juga diolah menjadi egg roll dan pupuk organik dari buah yang tak layak jual. Upaya ini menjadi bentuk keberlanjutan ekonomi warga desa.
Budi berharap, pemerintah dan pihak swasta terus mendukung pengembangan wisata desa agar Trenggulunan dapat menjadi contoh desa mandiri yang hidup dari potensi alamnya sendiri.
“Harapan kami, ada bantuan dan pembinaan agar wisata Trenggulunan bisa jalan sepanjang tahun, tidak hanya saat musim buah naga. Karena potensi kami bukan cuma buah, tapi juga rempah, sayur, dan pemandangan alam,” tutur Budi penuh harap.
Dengan semangat gotong royong dan inovasi, Desa Trenggulunan kini bukan hanya tempat tumbuhnya buah naga, tetapi juga tempat tumbuhnya harapan bagi masyarakat yang ingin maju dan mandiri di tanah sendiri.
Video pilihan: Inovasi yang dikembangkan UT
