Opini

Tuton UT dan Tantangan Pembelajaran Jarak Jauh di Era Digital

Tuton UT dan Tantangan Pembelajaran Jarak Jauh di Era Digital
Bagikan :

Tuton UT dan Tantangan Pembelajaran Jarak Jauh di Era Digital

Bagus Yusril

Oleh: Bagus Yusril *)

OPINI, utrembang.com – Di tengah tuntutan zaman akan pendidikan tinggi yang fleksibel dan terjangkau, Universitas Terbuka (UT) hadir sebagai solusi dengan sistem pembelajaran jarak jauh.

Namun, kemudahan belajar tersebut sering kali terbentur pada realitas pahit di balik layar Tutorial Online (Tuton).

Sistem yang seharusnya menjadi jembatan ilmu dan interaksi ini justru menjadi salah satu sumber utama keluh kesah bagi ribuan mahasiswa UT.

Mulai dari dosen yang sulit dihubungi, forum diskusi yang terasa seperti formalitas, hingga misteri di balik penilaian yang fluktuatif, semuanya menimbulkan pertanyaan krusial: Sejauh mana efektivitas dan keberpihakan sistem ini terhadap kualitas belajar mahasiswa?

Interaksi Digital yang Minim dan Terbatas

Sistem Tuton dirancang untuk menggantikan interaksi tatap muka.

Namun, dalam praktiknya, interaksi ini sering kali minim dan tidak mendapat respons dari pihak terkait.

Keluhan yang paling sering muncul adalah soal keberadaan dan responsivitas tutor.

Mahasiswa, yang mayoritas adalah pekerja dan harus membagi waktu untuk belajar, sangat mengandalkan panduan serta umpan balik yang cepat.

BACA JUGA :  UT dan Stigma Salah Kaprah yang Melekat

Sayangnya, banyak tutor (dosen) hanya muncul pada sesi pertama untuk memberikan materi utama, lalu menghilang tanpa jejak hingga waktu penilaian tiba (akhir sesi 8).

Ketika mahasiswa mengalami kesulitan memahami modul, mencari bantuan di forum sering kali berujung pada keheningan atau balasan singkat yang tidak sesuai harapan.

Hal ini membuat mahasiswa merasa terlantar dan kehilangan arah di tengah banyaknya modul yang harus dipelajari secara mandiri.

Tuton pun gagal berfungsi sebagai fasilitator utama, ia lebih menyerupai platform administrasi tugas ketimbang ruang kelas virtual.

Forum Diskusi: Kewajiban atau Sekadar Formalitas?

Poin berikutnya yang paling sering dikeluhkan adalah forum diskusi.

Dalam teori, forum ini merupakan ruang untuk bertukar pikiran, mengasah nalar kritis, dan memperluas pemahaman terhadap materi.

Namun, dalam praktiknya, forum ini sering kali berubah menjadi ajang copy paste jawaban dari sumber lain atau bahkan dari teman sekelas.

Mahasiswa merasa terpaksa mengisi kolom diskusi hanya demi mengejar poin kehadiran, bukan untuk belajar.

BACA JUGA :  Mahasiswa Agribisnis: Siap Turun ke Lapangan atau Hanya Teori?

Ketika jawaban yang mendalam muncul, ia tenggelam di antara puluhan jawaban serupa yang hanya mengulas premis dasar.

Tutor jarang memantik perdebatan substantif atau mengarahkan diskusi ke isu yang lebih kompleks.

Akibatnya, alih-alih meningkatkan pemahaman, forum ini justru menumbuhkan budaya “yang penting mengisi saja”, di mana yang terpenting adalah memenuhi kewajiban, bukan mencapai kompetensi.

Ini menjadi ironi besar: motivasi belajar mahasiswa yang seharusnya memperkaya pengetahuan dan nalar kritis, berubah hanya menjadi upaya mengejar poin semata.

Transparansi Penilaian yang Masih Misterius

Salah satu aspek paling mengkhawatirkan dan memicu stres adalah misteri di balik penilaian tugas dan diskusi.

Mahasiswa kerap memperoleh nilai rendah untuk tugas yang mereka yakini sudah dikerjakan dengan maksimal, tanpa disertai umpan balik yang jelas dan konstruktif.

Nilai yang fluktuatif dari tiap sesi tanpa adanya standar penilaian yang transparan menimbulkan dugaan bahwa penilaian dilakukan secara terburu-buru atau subjektif.

Universitas Terbuka sangat mengandalkan Tuton sebagai komponen penting dalam penilaian akhir (maksimal 30% dari nilai akhir).

BACA JUGA :  SMKN 1 Rembang Juara Stemsa Cup 2026, Comeback Dramatis di Detik Terakhir

Jika proses penilaiannya tidak transparan, maka integritas nilai akademik mahasiswa secara keseluruhan dapat dipertanyakan.

Umpan balik yang baik adalah esensi dari pendidikan. Jika tutor hanya memberikan nilai tanpa menjelaskan alasannya, proses belajar berhenti di situ.

Mimpi atau Ilusi Pembelajaran Terbuka?

Keluh kesah ini bukan sekadar ungkapan, melainkan alarm keras bagi Universitas Terbuka.

UT memiliki misi mulia untuk mendemokratisasi pendidikan, namun misi itu hanya akan tercapai jika sistem pendukungnya bekerja optimal.

UT adalah harapan bagi banyak orang untuk meraih gelar sarjana sambil tetap bekerja.

Oleh karena itu, Tuton seharusnya menjadi jembatan pembuka jalan menuju mimpi, bukan tembok digital yang menambah tekanan.

Pendidikan berkualitas adalah janji yang harus dipenuhi dan pembenahan menyeluruh terhadap sistem Tutorial Online merupakan langkah pertama yang tak boleh ditunda.

*) Mahasiswa Semester 4 Program Studi Ilmu Komunikasi, UT Salut Kartini Rembang

Video pilihan: Kuliah di UT Sungguh Mudah


Bagikan :
Editor : Alfia Dwi Nastiti