Berita

Siasat Mantan Wartawan, Taklukkan Pasar Bikin Cuan Lewat Rengginang

Siasat Mantan Wartawan, Taklukkan Pasar Bikin Cuan Lewat Rengginang
Bagikan :

Siasat Mantan Wartawan, Taklukkan Pasar Bikin Cuan Lewat Rengginang

Sanyoto, sosok pengusaha yang bermula dari wartawan kini jadi wirausaha sukses. (Bagus Yusril)

REMBANG, utrembang.com – Aroma gurih ikan teri berbalur ketan yang dijemur di bawah terik matahari Pantura menyeruak dari sebuah dapur produksi sederhana milik Sanyoto (54), warga Desa Purworejo, Kaliori, Kabupaten Rembang.

Di sana, sebuah transisi hidup sedang dirajut. Sang pemilik, yang belasan tahun malang melintang di dunia kewartawanan, kini menemukan jati diri baru dalam hidupnya.

Bukan lagi berita yang ia kejar, melainkan tingkat kekeringan sempurna dari rengginang, camilan lokal yang ia sulap dari sekadar makanan tradisional menjadi jajanan kekinian yang jadi mesin ekonomi barunya.

Sosok pria paruh baya yang tetap tampil modis ini kini fokus untuk membesarkan bisnis rengginang miliknya.

Jauh sebelum dikenal sebagai pengusaha sukses, Sanyoto sudah berkecimpung di berbagai bidang profesi yang pernah ia geluti.

Mulai dari bekerja sebagai karyawan pabrik pengolahan ikan teri hingga perusahaan ekspor hasil olahan perikanan.

BACA JUGA :  Grand Final Pemuda Pelopor Rembang 2026, Ini Daftar Pemenang Masing-Masing Bidang

Namun, pandemi COVID-19 pada 2020 silam menjadi titik balik. Ia memutuskan menggantung kartu persnya demi menekuni dunia wirausaha secara total.

Padahal, mulanya bisnis ini hanyalah usaha sampingan yang ia rintis di sela kesibukan memburu berita sejak tahun 2010.

Kini, di rumahnya, Sanyoto menjalani hari dengan ritme yang lebih tenang namun produktif.

“Kalau sehari-hari saya seperti yang lainnya, jadi petani biasa. Kadang sesekali menengok tambak dan membuat rengginang di rumah,” terangnya dengan nada halus dan sopan saat ditemui.

Berkat ketelatenannya selama belasan tahun, ia sukses menyabet gelar Juara 2 Kategori Pengelolaan Pangan dan Pasar tingkat Provinsi pada 2018, disusul predikat Juara 3 di kategori yang sama setahun kemudian.

d50a86be-b503-419c-a544-fb5de1d640e8

Rekrut masyarakat sekitar, Sanyoto milik 13 karyawan. (Bagus Yusril)

Bisnis yang dulu dianggap sampingan kini tumbuh subur. Sanyoto kini memiliki dua dapur produksi dengan total 13 karyawan, 6 orang di Purworejo, Kaliori, Kabupaten Rembang, dan 7 orang lainnya di Sumberjo, Jaken, Kabupaten Pati.

BACA JUGA :  Empat Jam Nonstop, Karavista Band Suguhkan Puluhan Lagu Hibur Masyarakat Rembang

Saat musim panas dengan cuaca cerah yang mendukung, dapur produksinya mampu menghasilkan hingga 50 kg rengginang setiap harinya.

Keunikan produk Sanyoto terletak pada perpaduan rengginang dengan gurihnya ikan teri, sebuah memori dari masa lalunya saat pernah bekerja di pabrik pengolahan teri.

Tak hanya teri, ia juga memanjakan lidah konsumen dengan varian terasi, cumi, hingga udang, serta inovasi stik teri hasil kreasinya sendiri.

Produk-produk ini telah merambah pasar luas, mulai dari pertokoan di kawasan Rembang, Lasem, Purwodadi, hingga Pati.

Perjalanan Sanyoto tentu tak selalu mulus. Baginya, untung dan rugi adalah konsekuensi yang sudah biasa ia hadapi.

Bahkan saat pandemi melumpuhkan semangatnya, Sanyoto tetap turun tangan mengantarkan pesanan langsung ke tangan pelanggan.

Kini, tantangan baru muncul di tengah carut-marut ekonomi global yang memicu lonjakan harga bahan baku.

BACA JUGA :  Menikmati Aneka Batik Tulis di Bangunan Tionghoa Oemah Batik Lasem

Sanyoto harus memutar otak agar harga jualnya tetap terjangkau tanpa harus mengorbankan kualitas produk yang sudah dipercaya konsumen.

“Pemasaran bukan masalah bagi saya. Tantangan utamanya adalah harga bahan baku yang tak menentu. Baru-baru ini saja harganya naik hampir tiga kali lipat,” tuturnya.

Meski suaranya terdengar berat memikirkan biaya produksi, tatapan matanya tetap lurus dan penuh tekad.

Kesuksesan tak membuat Sanyoto tinggi hati. Ia justru aktif membagikan ilmunya dengan menjadi mentor pelatihan pembuatan rengginang di berbagai daerah.

Kepada para pemuda yang ingin terjun ke dunia usaha, Sanyoto menitipkan pesan sederhana namun mendalam, yakni “Fokus”.

“Kuncinya adalah fokus pada satu produk yang ingin kita branding. Biasanya orang-orang itu belum fokus pada satu produk sudah membuat produk lainnya, akhirnya malah jadi tidak karuan,” ujarnya penuh semangat.

Bagi Sanyoto, rengginang bukan sekadar camilan, melainkan bukti bahwa fokus dan ketekunan, bahkan yang dimulai dari sela-sela waktu liputan, bisa berbuah manis jadi pilar ekonomi yang kuat penopang hidup bagi banyak orang.

 Video pilihan: Karavista Musik


Bagikan :
Editor : Alfia Dwi Nastiti