Organisasi Kemahasiswaan Universitas Terbuka: Antara Kebutuhan Sosial dan Tantangan Sistem Jarak Jauh
Oleh: Windy Eka Putri Devina *)
OPINI, utrembang.com – Dinamika kehidupan kampus di Universitas Terbuka berjalan dengan pola yang berbeda dibandingkan kampus konvensional.
Kondisi ini berpengaruh langsung terhadap organisasi kemahasiswaan yang harus beradaptasi dengan keterbatasan pertemuan tatap muka, kompleksitas kepentingan mahasiswa, serta sistem pembelajaran jarak jauh yang menuntut fleksibilitas tinggi.
Secara konseptual, organisasi merupakan salah satu bentuk perwujudan kodrat manusia sebagai makhluk sosial.
Dalam literatur Perilaku dalam Organisasi yang ditulis oleh Khalifah Maratul Sholihah dkk., merujuk pada pandangan Aristoteles, manusia dipahami sebagai zoon politicon atau makhluk sosial.
Konsep ini menggambarkan bahwa manusia secara kodrati senantiasa ingin berkumpul, berinteraksi, dan menyatu dengan sesamanya.
Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 155/U/1998 tentang Pedoman Umum Keorganisasian Mahasiswa menjelaskan bahwa organisasi kemahasiswaan merupakan wahana dan sarana pengembangan diri mahasiswa ke arah perluasan wawasan, peningkatan kecendekiawanan, serta penguatan integritas kepribadian dalam rangka mencapai tujuan pendidikan tinggi.
Dalam konteks Universitas Terbuka, kebutuhan dasar untuk berorganisasi tetap ada meskipun ruang pertemuan langsung sangat terbatas.
Organisasi tidak hanya menjadi sarana penyaluran kodrat sosial mahasiswa, tetapi juga media pembelajaran kepemimpinan, interaksi sosial, komunikasi, kerja sama, dan solidaritas.
Namun demikian, organisasi kemahasiswaan di Universitas Terbuka kerap berada dalam posisi yang ambigu, terutama di daerah-daerah dengan skala kota kecil.
Realitas sistem pembelajaran jarak jauh, keterbatasan pertemuan fisik, serta kesibukan mahasiswa yang mayoritas telah bekerja membuat eksistensi organisasi kemahasiswaan sering dipertanyakan relevansinya.
Gerak organisasi yang terbatas dan rendahnya partisipasi aktif anggota menimbulkan kesan bahwa organisasi hanya berjalan secara administratif dan seremonial.
Sejumlah kegiatan berhenti pada tataran formalitas tanpa keberlanjutan yang jelas.
Kondisi ini menunjukkan bahwa organisasi belum sepenuhnya mampu membaca kebutuhan nyata mahasiswa yang cenderung pragmatis dan berorientasi pada manfaat langsung.
Persoalan lain juga muncul dari lemahnya konsolidasi internal serta perbedaan latar belakang anggota yang tidak diimbangi dengan strategi pengelolaan organisasi yang adaptif.
Akibatnya, organisasi berpotensi menjadi eksklusif dan hanya dihidupi oleh segelintir individu yang memiliki waktu serta akses lebih longgar.
Lantas, apakah dinamika tersebut sepenuhnya patut disalahkan? Menyalahkan sistem semata bukanlah sikap yang bijak dan adil.
Organisasi kemahasiswaan di Universitas Terbuka justru memiliki peluang untuk berkembang menjadi model organisasi yang lebih fleksibel dan adaptif.
Organisasi perlu menempatkan kebutuhan nyata mahasiswa sebagai orientasi utama, bukan sekadar menjalankan struktur formal atau agenda seremonial.
Reorientasi ini penting agar organisasi kembali relevan bagi mahasiswa Universitas Terbuka yang mayoritas merupakan pekerja sekaligus pembelajar mandiri.
Dalam keterbatasan pertemuan langsung, organisasi perlu membangun sistem kerja digital yang jelas dan terarah agar partisipasi anggota menjadi lebih inklusif dan fleksibel.
Penerapan sistem tersebut dapat dilakukan melalui pembangunan ekosistem koordinasi berbasis teknologi, seperti pelaksanaan rapat dan diskusi strategis secara daring melalui Zoom atau Google Meet dengan jadwal yang fleksibel, serta dilengkapi notulen digital agar anggota yang berhalangan hadir tetap dapat mengikuti perkembangan organisasi.
Pola kerja yang kaku dan menuntut kehadiran intensif dapat diubah menjadi pembagian tugas berbasis proyek.
Dengan demikian, anggota tetap dapat berkontribusi sesuai dengan waktu dan kapasitas masing-masing tanpa kehilangan rasa memiliki terhadap organisasi.
Aspek yang tidak kalah penting adalah membangun budaya evaluasi yang jujur dan terbuka secara berkala untuk menilai relevansi program serta tingkat partisipasi anggota.
Refleksi yang berkelanjutan akan membantu organisasi tetap hidup, dinamis, dan responsif terhadap perubahan kebutuhan mahasiswa.
Organisasi kemahasiswaan di Universitas Terbuka tidak dapat dipahami sekadar sebagai pelengkap struktur akademik, melainkan sebagai ruang strategis dalam pembentukan kesadaran sosial, kepemimpinan, dan partisipasi mahasiswa.
Apabila organisasi mampu keluar dari jebakan formalitas, berani berbenah, serta menghadirkan program yang relevan dan berdampak, maka organisasi kemahasiswaan di Universitas Terbuka tidak hanya akan tetap eksis, tetapi juga berpotensi menjadi kekuatan kritis yang mampu menjawab tantangan zaman dan kebutuhan mahasiswa secara nyata.
*) Mahasiswa Semester 5 Program Studi Agribisnis Pertanian, UT Salut Kartini Rembang.
Video pilihan: Mimpi