Berita

Tradisi Unik Ngemblok dan Pernikahan di Tegaldowo, Hantaran Bisa Satu Truk hingga Lelaki Bawa Kerbau

Tradisi Unik Ngemblok dan Pernikahan di Tegaldowo, Hantaran Bisa Satu Truk hingga Lelaki Bawa Kerbau
Bagikan :

Tradisi Unik Ngemblok dan Pernikahan di Tegaldowo, Hantaran Bisa Satu Truk hingga Lelaki Bawa Kerbau

Tradisi unik di Desa Tegaldowo, Gunem. (Bagus Yusril)

REMBANG, utrembang.com – Saat dunia modern menganggap lamaran adalah panggung bagi kaum pria, masyarakat di wilayah Tegaldowo, Kabupaten Rembang, punya cerita yang berbeda.

Lebih dari sekadar ucapan kesediaan, melalui tradisi leluhur bernama Ngemblok, jawaban atas pinangan sang lelaki diwujudkan dalam bentuk hantaran jajanan pasar yang jumlahnya tak tanggung-tanggung, hingga satu truk lebih makanan tradisional yang menjadi simbol keseriusan.

Salah seorang tokoh masyarakat di sana, Gatot, memaparkan bahwa tradisi ini sudah berlangsung sejak zaman dahulu dan diwariskan secara turun-temurun hingga saat ini.

“Untuk waktu pastinya kapan dimulai awal tradisi ini tidak ada yang tahu, Mas. Ini kita hanya melanjutkan tradisi yang dulu-dulu. Dari saya waktu kecil dan sebelum bapak saya lahir sudah ada,” terang Gatot saat ditanya mengenai asal-usul tradisi Ngemblok.

Prosesi adat ini bermula ketika pihak laki-laki beserta keluarganya mendatangi rumah perempuan.

Kedatangan mereka bertujuan untuk meminang atau menanyakan kesediaan sang gadis untuk dipersunting, dengan membawa emas serta beberapa macam jajanan sebagai hantaran awal. Istilah lokal menyebutnya ditakonke (ditanyakan).

BACA JUGA :  Genjot Kualitas Konten, UT Salut Kartini Rembang Bekali UKM Content Creator dengan Pelatihan Editing

Menariknya, prosesi ini sering kali dilakukan sejak sang perempuan masih menempuh masa sekolah. Jika pinangan itu diterima, barulah pihak perempuan akan mengirimkan jawabannya melalui tradisi Ngemblok.

Kemudian, dari pihak perempuan akan memboyong jajanan-jajanan tradisional dalam jumlah yang sangat banyak, bahkan bisa sampai satu truk lebih menuju rumah pihak laki-laki.

Rombongan pengantar yang bertugas menurunkan gunungan jajanan ini disebut sebagai Pangompyong.

Tidak ketinggalan, pihak perempuan juga wajib menyertakan seorang Dongke, yaitu sesepuh adat yang ahli primbon untuk menghitung kecocokan weton kedua calon mempelai.

“Semisal hantaran yang dibawa satu truk, maka emasnya segini. Kalau dua truk, tentu emas yang harus disiapkan lebih banyak lagi. Sebenarnya tidak ada patokan pasti mengenai perbandingan jumlah emas dan jajanan itu, cuma pihak keluarga biasanya sudah saling memaklumi besarannya,” ujarnya dengan nada sedikit penekanan untuk menghindari miskomunikasi.

Menyambut kedatangan rombongan tersebut, pihak laki-laki telah menyiapkan tempat pertemuan khusus bagi kedua keluarga besar.

BACA JUGA :  Kuota OSMB UT Rembang Habis dalam Satu Jam, Salut Kartini Siap Dampingi Mahasiswa Baru

Jalannya acara ini dipandu oleh seorang Pranoto, sosok yang mengatur jalannya acara sekaligus bertugas mencatat apa saja hantaran yang dibawa oleh pihak perempuan.

Setelah kedua keluarga duduk bersama, agenda utama pun dimulai, yaitu menentukan hari baik pernikahan.

Proses ini dilakukan dengan mencocokkan hasil perhitungan weton dari Dongke kedua belah pihak.

Hasil tersebut meliputi penentuan hari, jam akad nikah, hingga arah mana panggung pernikahan nanti harus menghadap.

“Biasanya hasil hitungannya bisa keluar nanti untuk tahun depan, atau bahkan dua hingga tiga tahun yang akan datang. Karena di sini, anak yang masih sekolah saja terkadang sudah ditakonke. Nanti kalau umurnya sudah cukup dan hari baiknya sudah tiba, baru dinikahkan,” ujar Gatot sambil tertawa ringan.

Setelah perhitungan weton rampung dan hari yang dinanti tiba, pernikahan pun dilangsungkan.

Sebagai bentuk penghormatan, pihak laki-laki akan membawa mahar emas yang nilainya disesuaikan dengan banyaknya jumlah emblok (hantaran jajanan) yang sebelumnya telah diberikan oleh pihak perempuan.

BACA JUGA :  UKM Badminton Salut Kartini Rembang Giatkan Latihan Rutin, Agendakan Turnamen Internal

Tak hanya itu, pihak laki-laki yang mampu secara ekonomi juga akan membawa seekor kerbau untuk disembelih pada hari pernikahan.

Daging kerbau tersebut nantinya akan dibagi-bagikan kepada seluruh warga sekitar sebagai wujud syukur dan pesta rakyat.

Kendati demikian, hantaran kerbau ini bukanlah sebuah kewajiban, melainkan disesuaikan kembali dengan kemampuan finansial masing-masing keluarga.

“Bagi warga Tegaldowo sini ini sudah jadi hal yang lumrah, bahkan kalau dibandingkan zaman saya dulu, sekarang malah lebih banyak untuk besaran ngemblok-nya dibanding dulu,” ujarnya dengan nada kagum dibarengi tawa ringan.

Mungkin bagi sebagian orang tradisi ini terdengar sangat heboh dan fantastis, namun bagi masyarakat Tegaldowo, ini merupakan sebuah hal yang lumrah dan umum terjadi di daerah mereka, hampir bisa dikatakan sebagai kewajiban dari tradisi tersebut.

Tidak ada warga yang merasa keberatan dengan tradisi ini. Ngemblok tidak hanya sebagai sarana untuk menunjukkan kekuatan semata, namun ini adalah sebuah bentuk penghormatan untuk calon keluarga pasangan serta bentuk rasa syukur kepada Sang Mahakuasa atas keberlimpahan yang diberikan.

Video pilihan: Karavista Musik


Bagikan :
Editor : Alfia Dwi Nastiti