Berita

Pernah Makan Nasi dan Garam, Musahadatus Sifa Kini Jadi Magister Pertama di Keluarga

Pernah Makan Nasi dan Garam, Musahadatus Sifa Kini Jadi Magister Pertama di Keluarga
Bagikan :

Pernah Makan Nasi dan Garam, Musahadatus Sifa Kini Jadi Magister Pertama di Keluarga

Musahadatus Sifa tempuh pendidikan di Universitas Terbuka dan mengabdi tujuh tahun di Salut Kartini Rembang. (Alfia Dwi Nastiti)

REMBANG, utrembang.com – Semangkuk nasi dengan garam menjadi salah satu kenangan yang melekat dalam ingatan Musahadatus Sifa (26).

Bukan karena menjadi hidangan istimewa, melainkan karena pada masa kecilnya, makanan sederhana itu pernah menjadi bagian dari kehidupannya.

“Saya bukan berasal dari keluarga yang berada. Waktu kecil saya pernah berada di posisi, makan hanya nasi dan garam,” kenangnya dengan mata berkaca-kaca.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu bagian yang membentuk cara Sifa memandang kehidupan.

Di tengah keterbatasan yang pernah dirasakan, ia belajar bahwa setiap keadaan harus dijalani dengan kemampuan dan keyakinan untuk terus melangkah.

Prinsip itu sejalan dengan penggalan Surah Al-Baqarah ayat 286, “Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus’ahaa,” yang bermakna Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

Bagi Sifa, perjalanan hidup yang telah dilaluinya menjadi pengingat bahwa setiap kesulitan memiliki kemampuan untuk dilewati.

Perempuan yang lahir dan besar di Kabupaten Rembang itu merupakan anak pertama dari tiga bersaudara.

Ia tumbuh dalam keluarga sederhana bersama kedua adik perempuannya.

Kondisi keluarga perlahan berubah ketika sang ayah, yang menjalankan usaha mebel, mulai mengembangkan bisnisnya setelah Sifa memasuki taman kanak-kanak.

“Setelah saya masuk TK, bisnis mebel Bapak terus berkembang. Sehingga adik-adik saya tidak perlu merasakan apa yang saya rasakan kala itu. Alhamdulillah, saya bersyukur karena semua itu bisa mengantarkan sampai di titik ini,” ujarnya.

Kini, pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya. Setelah melewati berbagai tahapan pendidikan dan pekerjaan, Sifa berhasil meraih gelar magister. Ia menjadi orang pertama di keluarganya yang menyandang gelar tersebut.

BACA JUGA :  Dari Sawah Gagal Panen, Desa Trenggulunan Bangkit Lewat Wisata Edukasi Buah Naga

Perjalanan pendidikan Sifa tidak langsung berjalan mulus. Setelah lulus SMA, ia sempat menjalani gap year selama satu tahun karena memiliki keinginan untuk menempuh pendidikan S1 di perguruan tinggi negeri. Namun, kesempatan tersebut belum datang.

“Saya menghabiskan waktu satu tahun setelah lulus SMA untuk bisa mencapai cita-cita itu, tapi masih belum rezeki. Akhirnya saya berpikir dengan mencari solusi lain dengan kuliah. Sehingga saya berpikir, ‘Sepertinya saya harus kuliah.’ Karena tidak diperbolehkan kuliah di luar kota Rembang tercinta ini, saya riset universitas yang ada di Rembang dan dengan prinsip saya yang harus berkuliah S1 dan PTN, terpilihlah Universitas Terbuka (UT),” ungkapnya.

Pertemuannya dengan Universitas Terbuka kemudian tidak hanya menjadi jalan untuk memperoleh pendidikan tinggi. Kampus tersebut juga menjadi tempat Sifa membangun karier.

Pada 1 Maret 2019, ketika hendak tidur, ia membuka WhatsApp dan mendapati sebuah tawaran untuk menjadi admin UT yang saat itu masih disebut POKJAR Rembang.

Tanpa pengalaman kerja sebelumnya, Sifa menerima tawaran tersebut.

“Malam hari saat saya mau tidur buka WhatsApp, tidak menyangka tiba-tiba ada tawaran menjadi admin UT. Waktu itu tidak tahu kenapa, saya langsung mengiyakan tawaran itu karena masih lingkup perkuliahan. Meskipun sebelumnya saya tidak ada pengalaman kerja sama sekali, tapi saya merasa bisa belajar hal baru dengan cepat,” jelasnya.

Dari pekerjaan tersebut, perjalanan Sifa bersama UT semakin panjang. Ia menyelesaikan pendidikan strata satu dengan beasiswa penuh, kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang magister.

Keputusan melanjutkan S2 di UT pada awalnya tidak lahir dari rencana yang terlalu panjang.

BACA JUGA :  Evaluasi Posko Salut Kartini: Strategi Mendekatkan Pelayanan UT Rembang ke Penjuru Desa

Sifa mengaku mencoba mendaftar setelah memenuhi berbagai persyaratan, termasuk menyiapkan rancangan penelitian.

Proses seleksi tersebut justru berjalan lancar. Berkas pendaftarannya tidak mengalami kendala dan ia memperoleh nilai tinggi dalam tes masuk.

“Semua proses menuju S2 berjalan dengan lancar, tanpa ada berkas yang ditolak dan saat tes pendaftaran nilai saya tinggi. Padahal daftar S2 di UT tidak semudah saat pendaftaran S1,” imbuhnya.

Pengalaman tersebut membuatnya semakin yakin bahwa UT menjadi bagian penting dari perjalanan pendidikannya.

“Sepertinya memang takdir saya di UT,” pikirnya saat itu.

Pendidikan magister kemudian dijalani sambil tetap bekerja sebagai staf administrasi di UT Salut Kartini Rembang.

Selama proses tersebut, Sifa harus membagi waktu antara pekerjaan, perkuliahan, penelitian, serta berbagai aktivitas pekerjaan lepas yang dijalaninya.

Salah satu bagian yang paling membekas adalah ketika ia harus menjalani bimbingan tesis secara langsung dengan dosen pembimbing di Yogyakarta.

“Dosen pembimbing 1 dan 2 sangat baik, hingga dosen 1 meminta saya datang ke kampusnya di Yogyakarta untuk bimbingan langsung,” katanya.

Perjalanan pendidikan itu membuatnya harus beberapa kali menempuh perjalanan Rembang-Semarang-Yogyakarta.

Di tengah proses penyusunan tesis, sang ayah juga sempat jatuh sakit sehingga Sifa harus membagi perhatian antara pendidikan dan keluarga.

“Sebenarnya saya menempuh S2 ini menjalaninya dengan enjoy, mungkin lebih ke tekad ya. Saya memiliki tekad yang kuat untuk melanjutkan studi S2. Saat awal-awal penyusunan tesis, Bapak jatuh sakit hingga bolak-balik rumah sakit selama perawatan,” ujar Sifa.

956ac879-d656-4cdc-bf2a-931c0ef092e6

Tumbuh sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, Musahadatus Sifa jadi magister pertama di keluarga. (Alfia Dwi Nastiti)

Setelah melewati proses perkuliahan dan penyusunan tesis, Sifa akhirnya menyelesaikan ujian sidang pada 4 Februari 2026.

BACA JUGA :  Umumkan Layanan Baru, UT Sediakan Remedial Ujian Online

Beberapa bulan kemudian, ia mengikuti wisuda pada 28 Juli 2026 di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), Tangerang Selatan.

Gelar magister tersebut menjadi pencapaian tersendiri. Bukan hanya karena menjadi jenjang pendidikan tertinggi yang berhasil ia tempuh, tetapi juga karena Sifa menjadi orang pertama dalam keluarganya yang menyandang gelar magister.

Selama tujuh tahun bekerja di lingkungan UT Salut Kartini Rembang, Sifa menjalani pendidikan dari strata satu hingga magister secara bersamaan dengan pekerjaannya.

Menurutnya, perjalanan tersebut tidak mungkin dilalui seorang diri. Dukungan keluarga, pimpinan, lingkungan kerja, dan teman turut membantunya menyelesaikan pendidikan.

Bagi Sifa, pendidikan bukan sekadar cara untuk memperoleh gelar. Pendidikan menjadi proses untuk membentuk diri, meningkatkan kemampuan, dan membuka kesempatan untuk berkembang.

“Pengalaman bekerja sambil kuliah membuat saya semakin menghargai pendidikan. Pendidikan bagi saya adalah investasi jangka panjang yang tidak hanya mengubah pengetahuan, tetapi juga mengubah cara berpikir, sikap, dan cara saya menghadapi kehidupan,” jelasnya.

Dari pengalaman itu, ia memahami bahwa perjuangan pendidikan bukan semata-mata tentang mengejar gelar. Ada komitmen, disiplin, pengorbanan, serta kemampuan mengatur waktu yang harus dijaga hingga akhir.

Hal yang paling ia kenang dari perjalanan pendidikan tersebut pun bukan ketika menerima ijazah. Justru proses untuk sampai pada titik itu yang paling membekas.

Bagi Sifa, pendidikan adalah perjalanan yang mempertemukan pencapaian pribadi dengan perjuangan keluarga.

Kenangan tentang nasi dan garam pada masa kecil menjadi bagian dari perjalanan panjang yang akhirnya membawanya pada gelar magister pertama di keluarganya.

“Jangan merasa terlambat, karena setiap orang memiliki waktunya masing-masing. Mulailah, tidak harus sempurna, tidak harus cepat. Yang penting berani mengambil langkah pertama,” pungkasnya.

Video pilihan: Karavista Musik


Bagikan :
Editor : Alfia Dwi Nastiti