Opini

Mahasiswa Agribisnis: Siap Turun ke Lapangan atau Hanya Teori?

Mahasiswa Agribisnis: Siap Turun ke Lapangan atau Hanya Teori?
Bagikan :

Mahasiswa Agribisnis: Siap Turun ke Lapangan atau Hanya Teori?

Windy Eka Putri Devina

Oleh: Windy Eka Putri Devina *)

OPINI, utrembang.com – Setiap tahun, perguruan tinggi melahirkan lulusan agribisnis dengan bekal teori yang cukup mumpuni.

Di tengah persoalan pertanian di lapangan, tidak hanya soal teknis budidaya, tetapi juga menyangkut persepsi sosial dan sistem ekonomi yang kompleks, muncul pertanyaan tentang sejauh mana lulusan agribisnis benar-benar siap menghadapi realitas di lapangan.

Apa Itu Agribisnis?

Dalam sejarah, pertanian dimulai sebagai way of life atau gaya hidup. Sejarah pertanian yang dipandang sebagai gaya hidup di masa lampau kemudian sering kali dikaitkan dengan kehidupan perdesaan, kehidupan yang serba alami, dan ketertinggalan ekonomi. Hal tersebut membuat pertanian dikaitkan dengan kemiskinan.

Pandangan tersebut kemudian berdampak pada minat investor untuk melakukan investasi di bidang pertanian.

Menurunnya perhatian masyarakat terhadap sektor ini juga diperlihatkan dari semakin menurunnya minat masyarakat dalam pendidikan pertanian.

Maka, dibutuhkan cara pandang yang baru. Paradigma baru diperlukan untuk menempatkan sektor pertanian dalam posisi yang jauh lebih penting dan modern. Di sinilah konsep agribisnis hadir sebagai pembaruan perspektif.

Agribisnis memandang sektor pertanian tidak hanya dari sisi produksi, melainkan secara utuh, mulai dari penyediaan input hingga pengolahan hasil, pemasaran, dan jasa penunjang (agriservices).

BACA JUGA :  Hangatnya Nostalgia dalam Sepiring Lontong Tuyuhan

Dalam buku Dasar-Dasar Agribisnis yang ditulis oleh Nunung Kusnadi dkk., dijelaskan pengertian agribisnis yang dikemukakan oleh John Davis dan Ray Goldberg (1957) sebagai sejumlah kegiatan yang dilibatkan dalam proses manufaktur dan distribusi input produksi, budidaya komoditas di lini on-farm, pengolahan produk-produk, proses pengemasan dan penyimpanan hingga pemasaran serta distribusi komoditas dan produk-produk yang dihasilkan dari serangkaian proses pengolahan komoditas tersebut.

Berdasarkan definisi tersebut, agribisnis bukan sekadar soal bertani, melainkan sebuah sistem ekonomi yang melibatkan banyak aktor dan proses.

Problem Mahasiswa Agribisnis

Pertanian membutuhkan generasi muda yang mampu menjadi penggerak modernisasi.

Pertanian membutuhkan manajer usaha tani, pendamping petani, analis pasar, konsultan rantai pasok, hingga wirausahawan yang mampu mengolah hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah.

Mahasiswa agribisnis yang mempelajari terkait dengan manajemen, bisnis, dan ilmu pertanian telah memiliki bekal yang cukup dari mata kuliah dan praktik yang diajarkan saat di bangku kuliah untuk turut andil berpartisipasi dan memainkan peran yang dibutuhkan.

Namun, realitas lapangan lebih sering tidak sejalan dengan teori yang dipelajari. Mahasiswa agribisnis mungkin memahami konsep rantai pasok (supply chain), analisis usaha tani, pemasaran hasil pertanian, hingga teori perilaku konsumen.

BACA JUGA :  Kupas Tuntas Istilah-Istilah di Universitas Terbuka

Namun, ketika benar-benar turun ke desa, mereka dihadapkan pada persoalan yang jauh lebih kompleks.

Beberapa persoalan yang terjadi di antaranya adalah menghadapi keputusan yang terbentuk dari pola pikir yang tumbuh dari kebiasaan turun-temurun, pengaruh tokoh desa, keterbatasan modal, bahkan rasa takut mencoba hal baru karena trauma gagal panen.

Belum lagi persoalan tengkulak, harga pasar yang tidak stabil, ketergantungan pupuk subsidi, dan akses teknologi yang belum merata.

Dalam situasi seperti ini, mahasiswa agribisnis sering berada pada dilema.

Mereka memahami apa yang “seharusnya” dilakukan menurut teori, namun menghadapi kenyataan bahwa apa yang “seharusnya” belum tentu dapat diterapkan begitu saja.

Kondisi ini membuat banyak mahasiswa akhirnya hanya menjadi pengamat, bukan penggerak.

Mereka datang ke desa untuk mengambil data penelitian, tetapi tidak cukup terlibat untuk ikut mencarikan solusi.

Strategi: Mahasiswa Agribisnis Harus Siap Turun dan Hadir sebagai Penggerak

Strategi yang dapat digunakan agar mahasiswa agribisnis benar-benar siap turun ke lapangan adalah dengan memperbanyak keterlibatan langsung dalam kegiatan berbasis pengalaman.

Mahasiswa perlu mengikuti internship atau magang di sektor agribisnis, baik pada perusahaan pertanian, lembaga pemasaran hasil tani, koperasi, maupun instansi pendamping petani.

BACA JUGA :  Festival Seni Sambongan 2025, Cermin Cinta Budaya dan Spirit Wayang Indonesia

Selain itu, keterlibatan dalam proyek nyata di desa atau komunitas pertanian menjadi langkah penting untuk memahami kondisi riil, mulai dari sistem produksi hingga dinamika sosial ekonomi petani.

Sebelum terjun secara langsung ke lapangan, mahasiswa juga harus memanfaatkan secara maksimal fasilitas praktik yang telah disediakan kampus, seperti laboratorium lapangan, kebun percobaan, serta lahan praktik.

Fasilitas tersebut dapat menjadi ruang simulasi untuk mengasah keterampilan teknis, kemampuan manajerial, serta kesiapan menghadapi tantangan yang lebih kompleks di lapangan.

Namun, strategi ini tidak akan berjalan optimal tanpa dukungan perguruan tinggi.

Oleh karena itu, kampus memiliki peran penting dalam menyediakan fasilitas yang memadai, seperti area praktik yang dapat digunakan mahasiswa sebagai ruang pembelajaran nyata.

Aktif melibatkan mahasiswa dalam program praktik yang terstruktur, seperti magang, kerja sama dengan pelaku usaha agribisnis, hingga kegiatan pendampingan petani di desa.

Dengan demikian, mahasiswa agribisnis tidak hanya menjadi lulusan akademik, tetapi diharapkan juga benar-benar mampu menjadi penggerak modernisasi pertanian, membawa sektor pertanian menuju arah yang lebih maju, mandiri, dan berkelanjutan.

*) Mahasiswa Semester 6 Program Studi Agribisnis Pertanian, UT Salut Kartini Rembang

Video pilihan: Karavista Musik


Bagikan :
Editor : Alfia Dwi Nastiti