Dari Dongeng hingga Dimsum: Wajah Literasi di Festival Literasi Rembang 2025
REMBANG, utrembang.com – Langkah yang disambut dengan riuh pengunjung lengkap dengan aroma kertas buku baru yang memenuhi halaman Gedung Perpustakaan Daerah Rembang.
Di sudut lain, deretan stan UMKM ramai disambangi pengunjung.
Suasana ini yang mewarnai Festival Literasi Rembang 2025, sebuah ikhtiar bersama untuk menyalakan kembali literasi di tengah masyarakat.
Pada hari pertama festival, Gramedia Setiabudi Semarang membuka rangkaian kegiatan dengan menghadirkan penulis sekaligus storyteller Agus D. S.
Kehadiran sesi mendongeng tersebut menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi anak-anak, yang tampak larut dalam cerita.
Di saat yang sama, bazar buku yang digelar turut memberi ruang bagi masyarakat untuk kembali bersentuhan dengan buku fisik.
Perwakilan Gramedia, Rio Budi Hendrawan mengakui bahwa tantangan literasi saat ini tidaklah ringan.
Menurunnya minat baca, khususnya di kalangan anak-anak dan generasi muda, menjadi realitas yang tak bisa diabaikan.
“Kami melihat minat literasi anak-anak dan generasi muda cenderung menurun, termasuk minat terhadap buku. Karena itu kami berupaya ikut membantu meningkatkan minat baca agar literasi dan pengetahuan masyarakat semakin baik,” ujarnya.
Meski demikian, secercah optimisme tetap terlihat.
Menurut Rio, generasi muda perlahan mulai kembali melirik buku cetak, tidak hanya bergantung pada bacaan digital.
Selama dua hari pelaksanaan festival, puluhan buku berhasil terjual. Angka tersebut, meski belum besar, menjadi penanda bahwa buku fisik masih memiliki tempat di hati pembaca.
“Yang datang memang masih didominasi mereka yang benar-benar berminat membaca. Namun ini awal yang baik. Ke depan kami berharap ada kerja sama lanjutan, baik dengan pemerintah daerah maupun sekolah,” tambahnya.
Lebih dari sekadar bazar buku, Festival Literasi Rembang 2025 dirancang sebagai ruang temu berbagai elemen literasi.
Kepala Bidang Perpustakaan Kabupaten Rembang sekaligus Ketua Panitia Festival, M. Anwar Fuadi, menegaskan bahwa literasi tidak berdiri sendiri. Ia erat kaitannya dengan budaya membaca, pengetahuan, dan bahkan aktivitas ekonomi masyarakat.
“Identitas membaca salah satunya adalah buku. Karena itu kami menggandeng penerbit seperti Gramedia dan Starbook. Di sisi lain, kami juga melibatkan UMKM, karena literasi juga hidup dalam proses usaha,” kata Anwar.
Ia mencontohkan pelaku UMKM kuliner seperti Penjual Dimsum yang harus membaca resep, mencoba, lalu membaca kembali untuk menyempurnakan produknya. Proses tersebut, menurutnya, adalah praktik literasi yang kerap luput disadari.
Dalam festival ini, tercatat sebanyak 27 tenant turut ambil bagian, terdiri dari penerbit, pegiat literasi, UMKM, serta dukungan dari pihak swasta seperti Alfamart dan Pegadaian.
Festival ini juga menjadi panggung pengenalan Gedung Perpustakaan Daerah Rembang yang baru berusia sekitar satu tahun.
Masih banyak masyarakat yang belum pernah menginjakkan kaki di gedung tersebut. Melalui festival ini, panitia berharap rasa penasaran masyarakat dapat tumbuh, berujung pada kebiasaan berkunjung ke perpustakaan.
“Harapannya, setelah datang ke festival, masyarakat akan kembali ke sini, entah untuk membaca, mengerjakan tugas, atau memanfaatkan fasilitas yang ada,” harapnya.
Saat ini, perpustakaan telah dilengkapi digital library dan sejumlah komputer yang dapat digunakan secara umum. Ke depan, fasilitas home teacher dan program bioskop edukasi untuk pelajar juga tengah direncanakan.
Sebagai kegiatan perdana, Festival Literasi Kabupaten Rembang 2025 menjadi titik awal perjalanan panjang.
Panitia menargetkan sekitar 600 pengunjung sebagai indikator keberhasilan jangka pendek.
Evaluasi akan dilakukan untuk menyempurnakan pelaksanaan di tahun-tahun berikutnya, seiring dengan rencana pengembangan sarana dan prasarana gedung agar mampu menampung lebih banyak partisipan.
Festival ini sendiri merupakan puncak dari rangkaian kegiatan literasi yang telah digelar sebelumnya, mulai dari pemilihan Duta Literasi, lomba bertutur, lomba konten video, hingga bimbingan teknis dan lokakarya.
Di tengah derasnya arus informasi digital, pesan yang diusung festival ini terasa relevan.
“Membaca tidak harus selalu dari buku, bisa juga dari gawai, tetapi perlu pengawasan orang tua agar anak-anak tidak salah bacaan dan tontonan,” tutur Anwar.
Ia pun mengajak para pelajar untuk memanfaatkan perpustakaan yang telah dibangun pemerintah.
Melalui tema Rembang Membaca, Rembang Berdaya, Festival Literasi Rembang 2025 menghadirkan harapan bahwa dari lembar demi lembar buku yang dibaca, akan tumbuh masyarakat yang lebih berpengetahuan, kritis, dan berdaya.
Sebuah langkah awal yang sederhana, namun sarat makna, bagi masa depan literasi di Rembang.
Video pilihan: Inovasi yang dikembangkan UT