Berita

Bengkel Sastra: Mengubah Sastra Menjadi Sarana Perubahan Anak Muda

Bengkel Sastra: Mengubah Sastra Menjadi Sarana Perubahan Anak Muda
Bagikan :

Bengkel Sastra: Mengubah Sastra Menjadi Sarana Perubahan Anak Muda

Dukung Bengkel Sastra, Kepala Dinarpus Rembang Tekankan Semangat Literasi. (Bagus Yusril)

REMBANG, utrembang.com – Sastra telah lama menjadi sarana yang efektif untuk mengungkapkan perasaan, pikiran, dan aspirasi masyarakat.

Namun, bagi beberapa penulis muda, sastra bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga menjadi alat untuk membawa perubahan sosial dan politik.

Bengkel Sastra hadir membawa angin sejuk bagi para calon sastrawan muda yang ingin belajar mengembangkan bakatnya.

Kehadiran Bengkel Sastra di Rembang kali ini mendapat sambutan positif dari banyak kalangan, mulai dari anak muda, pegiat literasi, hingga pejabat daerah setempat.

Salah satunya adalah Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (DINARPUS) Kabupaten Rembang, Achmad Sholchan, yang datang dan hadir dalam kegiatan ini sebagai pembuka acara.

BACA JUGA :  UKM Futsal Salut Kartini: Bermula dari Nongkrong, Kini Jadi Sarana Kembangkan Bakat Mahasiswa

Beliau menyampaikan kegelisahannya terhadap generasi muda di Rembang yang masih kurang dalam berliterasi.

Dengan adanya Bengkel Sastra ini, ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi salah satu penggerak literasi dan inspirasi bagi anak muda di Rembang.

“Kami sangat mendukung kegiatan ini dan berharap agar ke depannya pegiat literasi Rembang dapat mengadakan kegiatan serupa secara lebih rutin, sehingga semangat literasi di Rembang dapat terus menggerakkan masyarakat,” ujar Sholchan.

Tidak hanya itu, kegiatan Bengkel Sastra ini juga dapat menjadi sarana perubahan.

Lewat bersastra, kita jadi tahu bagaimana menyampaikan ide atau kritik terhadap isu sosial di sekitar melalui karya kreatif yang sopan dan tetap efektif.

BACA JUGA :  Kebut Semalam Masih Marak, Tutor UT Ungkap Dampaknya bagi IPK

Salah satu contoh penulis muda yang menggunakan sastra sebagai sarana perubahan adalah Okky Madasari yang menjadi tamu undangan dalam acara ini.

Okky adalah penulis novel dan puisi yang dikenal karena karya-karyanya yang inspiratif dan menarik pembawaannya.

Ia sering mengangkat tema-tema sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Saya menyukai isu-isu yang sangat dekat dengan keseharian, seperti isu sosial di sekitar. Contohnya Entrok, salah satu karya saya, yang mengangkat konflik antara pedagang pasar,” ungkap Okky saat mengisi salah satu sesi di Bengkel Sastra.

Karya-karya Okky Madasari telah lama mendapat sambutan positif dari pembaca dan kritikus.

Banyak pihak memuji kemampuannya dalam mengangkat isu-isu sosial dan politik dengan gaya yang menghibur namun tetap efektif dan tajam. Prinsip itulah yang selalu ia pegang.

BACA JUGA :  HUT ke-5, Salut Kartini Rembang Gelar Lomba Menulis Artikel Pelajar-Mahasiswa, Cek Ketentuannya

“Saya percaya bahwa sastra dapat menjadi sarana perubahan,” kata Okky.

Keyakinan ini dibuktikan melalui berbagai karya, salah satunya adalah puisi singkat yang menyoroti isu 19 juta lapangan pekerjaan di Indonesia.

Puisi tersebut memicu beragam respons dari warganet di media sosialnya, mulai dari sambutan positif yang mendalam hingga komentar bernada humor.

Dengan menggunakan kata-kata yang kuat dan inspiratif, Okky Madasari telah membuktikan bahwa sastra bukan hanya hiburan, melainkan alat yang efektif untuk membawa perubahan sosial dan politik.

Hal inilah yang menjadikan Okky sebagai inspirasi bagi sastrawan muda lainnya, terutama bagi mereka yang hadir dalam acara Bengkel Sastra.

Video pilihan: Inovasi yang dikembangkan UT


Bagikan :
Editor : Alfia Dwi Nastiti