Bekerja Sambil Kuliah, Pilihan Mahasiswa UT Salut Kartini Rembang Menuju Kemandirian
REMBANG, utrembang.com – Tren mahasiswa yang bekerja sambil kuliah di Rembang menunjukkan peningkatan signifikan memasuki tahun 2026.
Banyak mahasiswa Universitas Terbuka (UT) Salut Kartini Rembang memilih opsi ini guna mencapai kemandirian finansial.
Berdasarkan pengamatan mahasiswa lokal, fenomena tersebut didorong oleh keinginan untuk tidak membebani orang tua secara finansial sekaligus memperoleh pengalaman kerja, terutama di era digital.
Tren ini didominasi oleh mahasiswa yang ingin membiayai kuliah secara mandiri, seperti yang diungkapkan mahasiswa Program Studi Akuntansi UT Salut Kartini Rembang, Ahmad Alvian Alif.
Alvian menjelaskan bahwa tren bekerja sambil kuliah muncul karena mahasiswa ingin mandiri dan mengurangi beban finansial orang tua.
“Tren ini muncul karena mahasiswa ingin mandiri dan tidak membebani orang tua dengan beban finansial,” kata Alvian.
Ia menilai dampak ekonomi dari tren tersebut cenderung positif. Mahasiswa tetap dapat memperoleh penghasilan, menabung, serta membiayai kebutuhan kuliah secara mandiri.
“Dampak ekonomi mungkin tidak terlalu signifikan karena sambil belajar dan bekerja saya masih mendapatkan penghasilan, dapat menabung, serta membayar biaya kuliah sendiri,” jelasnya.
Namun demikian, Alvian mengakui dukungan dari universitas maupun pemerintah masih dirasakan kurang, terutama karena program bantuan yang dinilai cukup rumit.
Menurutnya, pengalaman tersebut memberikan manfaat ganda bagi mahasiswa.
“Pengalaman saya cukup baik karena bisa mendapatkan dua manfaat sekaligus, yaitu penghasilan dari pekerjaan dan pengetahuan dari studi,” ujarnya.
Hal ini mendorong mahasiswa lain untuk mencari keseimbangan antara pendidikan dan karier, khususnya di era digital yang membuka peluang jejaring bisnis melalui media sosial.
Sementara itu, mahasiswa Program Studi Manajemen UT Salut Kartini Rembang, Muhammad Rafi Ramadhan, mengungkapkan alasannya berencana bekerja penuh waktu pada 2025.
Ia mengaku terdorong oleh kondisi ekonomi keluarga dan posisinya sebagai bagian dari generasi sandwich.
“Dengan situasi ekonomi keluarga dan kondisi sebagai generasi sandwich di era modern, sangat sulit jika hanya diam tanpa melakukan apa pun,” tutur Rafi.
Ia memilih bekerja penuh waktu untuk mengejar pengalaman sekaligus kemajuan karier.
“Alasan saya memanfaatkan kesempatan bekerja penuh waktu adalah untuk mengejar pengalaman dan kemajuan karier secara bersamaan,” tambahnya.
Rafi mengungkapkan bahwa tantangan utama yang dihadapi adalah manajemen waktu akibat kelelahan kerja. Namun, hal tersebut diatasinya dengan menyusun jadwal belajar yang terstruktur.
“Tantangan yang saya hadapi adalah manajemen waktu karena kelelahan kerja, tetapi hal ini dapat diatasi dengan membuat jadwal belajar yang terstruktur di sela aktivitas yang padat,” ungkapnya.
Meski sedikit memengaruhi produktivitas, Rafi menekankan bahwa manfaat utama bekerja di era digital adalah memperoleh penghasilan sendiri serta keunggulan kompetitif.
“Selain memperoleh penghasilan sendiri, bekerja di era digital membuat saya beberapa langkah lebih maju dibandingkan teman-teman yang hanya belajar tanpa mengetahui risiko di lapangan,” bebernya.
Ia menambahkan bahwa mahasiswa juga belajar membangun jaringan bisnis nasional dengan memanfaatkan media sosial sebagai sarana referensi untuk branding perusahaan.
“Di era digital ini, kami belajar menciptakan jaringan bisnis nasional dengan memanfaatkan media sosial sebagai referensi untuk branding perusahaan,” pungkasnya.
Dengan tren tersebut, mahasiswa di Rembang diharapkan semakin adaptif dan kompetitif di era digital, meskipun tetap dihadapkan pada tantangan manajemen waktu.
Pengalaman Alvian dan Rafi menunjukkan bahwa bekerja sambil kuliah dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus pengalaman berharga, serta mendorong generasi muda menuju kemandirian.
Video pilihan: Kuliah di UT Sungguh Mudah