Opini

Tahun Baru dan Makna Refleksi di Balik Euforia

Tahun Baru dan Makna Refleksi di Balik Euforia
Bagikan :

883f7875-45fa-49a0-913d-1eee4e2a73b2

Windy Eka Putri Devina

Oleh: Windy Eka Putri Devina *)

OPINI, utrembang.com – Perayaan tahun baru merupakan hal yang lazim dilakukan di hampir seluruh belahan dunia.

Umumnya, momen pergantian angka di kalender tersebut dirayakan dengan menghitung mundur waktu, menyalakan kembang api, atau merenungkan resolusi yang kerap berakhir sebagai wacana semata.

Euforia menjadi wajah dominan perayaan, sementara makna reflektifnya sering kali terpinggirkan oleh hiruk-pikuk seremonial.

Sejarah Singkat Perayaan Tahun Baru

Jika ditelusuri lebih jauh, perayaan tahun baru telah dilakukan sejak zaman Babilonia Kuno melalui sebuah festival yang dikenal dengan nama Akitu.

Perayaan tersebut biasanya dilaksanakan pada bulan pertama musim semi.

BACA JUGA :  Dari FOMO ke Produktif: Bagaimana Peran Pelajar dalam Meningkatkan SDM di Rembang?

Ritual yang dijalankan dalam festival ini diyakini oleh masyarakat Babilonia sebagai proses simbolis pembersihan dunia dan penciptaan kembali oleh para dewa sebagai persiapan menyambut tahun baru serta kembalinya musim semi.

Dikutip dari beberapa literatur, salah satunya jurnal yang diterbitkan oleh UIN Suska Riau, perayaan tahun baru Masehi pada tanggal 1 Januari mulai diberlakukan ketika Julius Caesar memimpin Kekaisaran Romawi.

Sistem penanggalan tersebut diperbarui pada abad ke-7 SM.

Dalam sistem penanggalan baru ini, satu tahun dihitung selama 365 seperempat hari.

Untuk menyesuaikan perhitungan waktu, Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM, sehingga tahun 46 SM secara resmi dimulai pada tanggal 1 Januari.

BACA JUGA :  Organisasi Kemahasiswaan Universitas Terbuka: Antara Kebutuhan Sosial dan Tantangan Sistem Jarak Jauh

Selain itu, ia juga menetapkan penambahan satu hari pada bulan Februari setiap empat tahun sekali.

Kebijakan ini secara teoretis bertujuan untuk mencegah penyimpangan waktu dalam sistem kalender yang baru diterapkan tersebut.

Sejarah ini menegaskan bahwa konsep tahun baru lahir dari kebutuhan manusia akan keteraturan, ketepatan, dan keberlanjutan.

Namun, seiring berjalannya waktu, esensi tersebut kerap bergeser menjadi perayaan yang menitikberatkan pada kemeriahan semata.

Momen Refleksi

Di tengah perayaan yang berlangsung dengan penuh euforia, kerap pula terselip huru-hara serta berbagai risikonya.

Detik-detik pergantian tahun dapat menjadi jeda kolektif untuk menilai arah hidup serta menyusun ulang prioritas.

Tahun baru tidak harus selalu dirayakan dengan kemeriahan.

BACA JUGA :  Kupas Tuntas Istilah-Istilah di Universitas Terbuka

Ia dapat menjadi ruang sunyi untuk refleksi: tentang apa yang telah dilalui, kesalahan yang perlu diperbaiki, serta harapan yang layak diperjuangkan.

Refleksi semacam ini justru lebih relevan di tengah tantangan sosial, ekonomi, dan moral yang terus berkembang.

Dengan demikian, tahun baru bukan sekadar pergantian angka di kalender, melainkan momentum untuk menumbuhkan kesadaran akan perubahan dan pertumbuhan yang lebih bermakna.

Ketika euforia diletakkan secara proporsional dan refleksi dihadirkan secara jujur, tahun baru dapat menjadi titik awal perbaikan, bukan sekadar perayaan yang berlalu tanpa makna.

*) Mahasiswa Semester 5 Program Studi Agribisnis Pertanian, UT Salut Kartini Rembang.

Video pilihan: Pejuang Mimpi (Short Movie)


Bagikan :
Editor : Alfia Dwi Nastiti