Pengembangan Media Pembelajaran Multimedia Interaktif untuk Meningkatkan Kemampuan Berhitung Siswa
Oleh: Sri Handayani *)
OPINI, utrembang.com – Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan salah satu bentuk pendidikan anak usia dini yang berada pada jalur pendidikan formal.
Sebagai lembaga pendidikan prasekolah, tugas utama PAUD adalah mempersiapkan anak dengan memperkenalkan berbagai pengetahuan, sikap/perilaku, dan keterampilan agar anak dapat melanjutkan kegiatan belajar yang sesungguhnya di sekolah dasar.
Untuk menggali potensi yang dimiliki setiap anak, diperlukan usaha yang sesuai dengan kondisi masing-masing anak.
Upaya ini dapat dilakukan melalui berbagai cara, termasuk melalui kegiatan berhitung permulaan.
Berhitung di PAUD tidak hanya terkait dengan kemampuan kognitif, tetapi juga kesiapan mental, sosial, dan emosional.
Oleh karena itu, pelaksanaannya perlu dilakukan secara menarik, bervariasi, dan menyenangkan.
Berhitung merupakan bagian dari matematika yang diperlukan untuk menumbuhkembangkan keterampilan berhitung yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, terutama konsep bilangan yang menjadi dasar pengembangan kemampuan matematika maupun kesiapan mengikuti pendidikan selanjutnya (Depdiknas, 2007:1).
Pada kenyataannya, pembelajaran berhitung masih terasa sulit, terutama bagi anak usia dini.
Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, baik dari guru, siswa, maupun sumber belajar sebagai pendukung.
Oleh karena itu, sebagai upaya perbaikan dalam pelaksanaan pembelajaran berhitung permulaan untuk anak TK, peneliti mencoba mencari solusi melalui penggunaan media pembelajaran berbentuk multimedia interaktif agar tercipta suasana belajar yang menarik dan mampu memotivasi anak.
Observasi di TK Dharma Wanita Batursari menunjukkan bahwa kemampuan berhitung anak belum berkembang secara optimal. Hal ini terlihat dari cara anak mengerjakan tugas yang diberikan guru.
Ketika diminta menunjuk dan menyebutkan lambang bilangan, anak-anak mampu membilang angka 1–5, tetapi belum mampu membedakan simbol angka-angka tersebut.
Nur Ainy F. N. (2006), dalam penelitiannya berjudul “Pengaruh Pembelajaran dengan Multimedia terhadap Peningkatan Kemampuan Kognisi Siswa Taman Kanak-Kanak”, menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan kemampuan kognisi antara kelompok siswa TK yang mendapat pembelajaran multimedia dan yang tidak.
Kelompok siswa yang menggunakan multimedia menunjukkan kemampuan kognisi lebih tinggi dibandingkan kelompok yang tidak menggunakannya.
Sejalan dengan teori tersebut, permainan berhitung di TK seyogianya dilakukan melalui tiga tahapan penguasaan berhitung dalam jalur matematika, yaitu:
a) Penguasaan Konsep
Pemahaman terhadap sesuatu melalui benda atau peristiwa konkret, seperti pengenalan warna, bentuk, dan menghitung bilangan.
b) Masa Transisi
Proses berpikir yang merupakan masa peralihan dari pemahaman konkret menuju pengenalan lambang yang abstrak.
Pada tahap ini, benda konkret masih digunakan sambil mulai diperkenalkan bentuk lambangnya.
Hal ini dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan individu anak. Misalnya, ketika guru menjelaskan konsep “satu” dengan menggunakan benda konkret yang memiliki konsep sama, sekaligus mengenalkan lambang angka satu.
c) Lambang
Lambang merupakan visualisasi dari konsep tertentu, misalnya lambang “5” untuk bilangan lima, warna merah untuk konsep warna, “besar” untuk konsep ruang, dan persegi empat untuk bentuk.
Hasil penelitian merupakan analisis terhadap data yang dikumpulkan di lapangan sesuai tujuan penelitian.
Pembahasan meliputi media yang digunakan dalam pengembangan kemampuan berhitung, desain media pembelajaran multimedia interaktif, serta keefektifan dan kepraktisan media tersebut.
Pengamatan di beberapa TK di Kota Pati menunjukkan bahwa media yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan berhitung anak TK A (usia 4–5 tahun) antara lain membilang benda di sekitar, kartu angka, dan LKA.
Media tersebut sudah sangat umum digunakan sehingga membuat anak bosan dan kurang tertarik. Media yang paling dominan digunakan adalah LKA.
Sebagian besar aktivitas inti dilakukan dengan LKA sehingga anak kurang mendapat kesempatan mengembangkan pengetahuan melalui aktivitas bermain.
Padahal, pengembangan kemampuan berhitung anak usia dini seharusnya dilakukan dalam situasi bermain.
Hal ini diperkuat oleh penelitian Johnson dkk. (1998:31) mengenai hubungan bermain dan kemampuan kognitif anak, yang menunjukkan bahwa anak yang diperbolehkan bermain memiliki kemampuan pemecahan masalah lebih tinggi dibandingkan anak yang hanya diberi instruksi verbal.
Media pembelajaran yang valid adalah media yang dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip pengembangan media dan telah memenuhi kriteria penilaian para validator.
Aspek yang dinilai dikategorikan dalam dua kelompok besar, yaitu desain media pembelajaran multimedia interaktif, dan pedoman pengembangan serta penggunaan media.
Media pembelajaran multimedia interaktif menyajikan kegiatan membilang benda di sekitar siswa, seperti peralatan sekolah (tas, buku, pensil, dan sebagainya). Kegiatan membilang disusun dari yang mudah hingga sulit.
Media juga memberikan suasana belajar menyenangkan melalui gambar, animasi, audio, video, dan permainan sederhana.
Media ini menggunakan bahasa yang sederhana dan contoh berbasis bahasa lisan karena anak usia 4–5 tahun belum mampu membaca teks.
Media juga menerapkan hubungan saling berkaitan antara unsur visual dan audio sesuai prinsip kesatuan (unity).
Konten dalam media mencakup pengenalan angka 1–5, membilang sambil menunjuk benda, mengurutkan bilangan 1–5, membandingkan jumlah benda, hingga pengayaan seperti penjumlahan sederhana dan kuis.
Keefektifan media diukur melalui peningkatan hasil belajar serta keaktifan anak.
Data pretest kelompok kontrol dan eksperimen sama, yaitu 51,11%. Setelah enam kali pertemuan, hasil posttest meningkat menjadi 66,67% pada kelompok kontrol dan 77,78% pada kelompok eksperimen.
Dengan demikian terjadi peningkatan 15,56% dan 26,67%.
Kriteria efektivitas ditentukan dari rata-rata keaktifan anak ≥ 40,01% dan minimal kategori baik.
Pada kelompok kontrol, persentase keaktifan tiap pertemuan berada pada kategori cukup, dengan rata-rata 52,05%. Pada kelompok eksperimen, persentase keaktifan berada pada kategori baik dengan rata-rata 66,98%.
Dengan demikian, media pembelajaran multimedia interaktif memenuhi kriteria efektivitas.
Kepraktisan media diketahui melalui respons guru dan anak. Media dianggap praktis jika minimal 75,01% anak dan guru memberikan respons positif.
Data menunjukkan bahwa respons positif dari guru mencapai 93,33% dan dari anak mencapai 95%. Dengan demikian, media memenuhi kriteria kepraktisan.
Berdasarkan pembahasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran multimedia interaktif memenuhi kriteria valid, efektif, dan praktis sehingga layak digunakan untuk meningkatkan kemampuan berhitung anak TK A (usia 4–5 tahun).
Beberapa kesimpulan tambahan dari penelitian ini adalah bahwa pengembangan media dilakukan melalui tahap penelitian pendahuluan, pembuatan desain software (naskah, storyboard, dan flowchart view), pengumpulan bahan (gambar, animasi, audio), pembuatan produk awal, evaluasi awal, revisi, dan penyusunan produk akhir.
Evaluasi dilakukan oleh ahli bidang studi, ahli media pembelajaran, dan calon pengguna. Evaluasi diperlukan untuk memperoleh masukan bagi perbaikan produk.
Media pembelajaran multimedia interaktif yang dikembangkan dapat digunakan untuk pembelajaran berhitung secara individual maupun klasikal.
Pada penggunaan klasikal diperlukan alat tambahan berupa LCD proyektor dan pengeras suara.
Pembelajaran di laboratorium akan lebih baik jika setiap siswa menggunakan headphone agar suara tidak saling mengganggu.
*) Tutor UT Salut Kartini Rembang
Video pilihan: Kuliah di Kampus Negeri yang Tidak Jauh dari Rumah