Opini

Refleksi Hari Buruh: Pendidikan Tinggi sebagai Jalan Naik Kelas

Refleksi Hari Buruh: Pendidikan Tinggi sebagai Jalan Naik Kelas
Bagikan :

Refleksi Hari Buruh: Pendidikan Tinggi sebagai Jalan Naik Kelas

Alfia Dwi N

Oleh: Alfia Dwi N *)

OPINI, utrembang.com Peringatan Hari Buruh Internasional tahun ini hadir dalam suasana refleksi yang lebih dalam.

Belum lama ini, publik dikejutkan oleh kecelakaan kereta api yang terjadi pada Senin, 26 April 2026, di Stasiun Bekasi Timur.

Sebuah peristiwa yang tidak hanya berbicara tentang sistem transportasi, tetapi juga tentang manusia yang bekerja di dalamnya.

Mengacu pada laporan Times Indonesia, Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menyampaikan bahwa hingga Rabu (29/4/2026), jumlah korban mencapai 107 orang, dengan rincian 16 orang meninggal dunia dan 91 lainnya mengalami luka-luka.

Insiden yang melibatkan KA Bromo Anggrek dan rangkaian KRL Commuter Line tersebut menjadi pengingat bahwa di balik kegiatan operasional yang berjalan setiap hari, terdapat pekerja yang memikul tanggung jawab besar dalam kondisi yang tidak selalu ideal.

BACA JUGA :  Harumkan Nama Daerah di Kancah Nasional, Mardila Kisahkan Perjuangannya

Peristiwa ini menegaskan bahwa buruh bukan sekadar pelaksana teknis. Mereka adalah individu yang berpikir, mengambil keputusan, serta bekerja dalam tekanan dan risiko yang nyata.

Namun, dalam banyak wacana, buruh masih sering ditempatkan sebagai objek ataupun sekadar tenaga kerja yang terikat rutinitas dan keterbatasan.

Pandangan seperti ini perlu direvisi. Buruh sejatinya adalah subjek yang memiliki peluang untuk terus berkembang.

Di tengah padatnya aktivitas kerja, tidak sedikit pekerja yang tetap berupaya meningkatkan kapasitas diri yang ditempuh melalui kuliah kelas karyawan, pembelajaran daring, maupun pelatihan keterampilan secara mandiri.

Dalam konteks tersebut, pendidikan tinggi menjadi elemen strategis. Ia tidak lagi sekadar simbol akademik, melainkan sarana mobilitas sosial.

Pekerjaan tidak harus dilihat sebagai hambatan untuk belajar, melainkan sebagai ruang yang justru memperkaya proses pembelajaran.

BACA JUGA :  AI di Era Digital bagi Mahasiswa, Peluang atau Ancaman?

Pengalaman kerja menghadirkan dinamika nyata, mulai dari penyelesaian masalah hingga pengelolaan tanggung jawab yang tidak selalu diperoleh di ruang kelas.

Ketika pengalaman tersebut dipadukan dengan pendidikan formal, terbentuklah kompetensi yang lebih komprehensif: tidak hanya berbasis teori, tetapi juga aplikatif dan relevan dengan kebutuhan zaman.

Meski demikian, kesempatan tersebut belum dinikmati secara merata. Banyak buruh masih menghadapi berbagai kendala, seperti keterbatasan waktu, kelelahan, serta biaya pendidikan yang relatif tinggi.

Selain itu, peristiwa kecelakaan kerja maupun transportasi menunjukkan bahwa beban dan risiko yang dihadapi pekerja sering kali belum diimbangi dengan dukungan yang memadai.

Oleh karena itu, makna Hari Buruh Internasional perlu diperluas. Perjuangan buruh tidak cukup hanya berkutat pada aspek ekonomi, tetapi juga harus mencakup hak untuk berkembang sebagai manusia.

BACA JUGA :  Organisasi Kemahasiswaan Universitas Terbuka: Antara Kebutuhan Sosial dan Tantangan Sistem Jarak Jauh

Akses terhadap pendidikan menjadi bagian penting dari upaya tersebut, baik melalui kebijakan yang berpihak, dukungan institusi, maupun peran aktif perusahaan dalam pengembangan sumber daya manusia.

Pada akhirnya, menjadi buruh bukanlah batas yang menutup masa depan. Justru dari titik itu, berbagai peluang dapat dibangun. Di tengah keterbatasan yang ada, selalu terdapat ruang untuk belajar dan bertumbuh.

Pendidikan tinggi menjadi salah satu jalan strategis untuk mendorong perubahan, dari sekadar menjalani pekerjaan menuju kemampuan untuk menentukan arah hidup secara mandiri.

Di titik inilah, belajar bukan sekadar aktivitas tambahan, melainkan bentuk perjuangan yang senyap, tetapi memiliki dampak besar yang menentukan bagi masa depan.

*) Mahasiswa Semester 3 Program Studi Ilmu Komunikasi, UT Salut Kartini Rembang

Video pilihan: Karavista Musik


Bagikan :
Editor : Alfia Dwi Nastiti