Merajut Asa dari Rumah: Kisah Diah Kurniana Wati, Ibu Rumah Tangga yang Sekaligus Pelaku Usaha dan Mahasiswa

Diah Kurniana Wati, sosok inspiratif yang buktikan pernikahan bukan akhir perjalanan pendidikan dan mengejar mimpi. (Windy Eka Putri Devina)
REMBANG, utrembang.com – Pernikahan sering kali menjadi akhir dari perjalanan pendidikan akademik bagi sebagian perempuan. Namun, tidak sedikit pula yang memilih untuk tidak pernah berhenti belajar.
Diah Kurniana Wati merupakan salah satu perempuan yang terus belajar di tengah kesibukannya sebagai ibu rumah tangga sekaligus menjalankan usahanya.
Perempuan berusia 28 tahun ini menjalani kesehariannya dengan mengurus dua anak yang saat ini duduk di bangku taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD), sambil mengerjakan pesanan jahit serta mengembangkan usaha pakaian ready to wear.
Perjalanan Diah menjadi seorang pelaku usaha bukanlah sesuatu yang hadir secara tiba-tiba. Jiwa berdagang telah tumbuh sejak ia memasuki masa remaja. Saat masih duduk di bangku SMK, ia pernah mencoba berbagai usaha, mulai dari berjualan jilbab hingga ikan hias.
Pada 2014, ia menjalani masa magang di RSI Rembang, RSUD Rembang, dan Panti Jompo Margo Mukti. Dua tahun kemudian, ia bekerja sebagai sales marketing daring di beberapa divisi, mulai dari produk herbal, alat terapi meridian, hingga fesyen pada sebuah perusahaan di Batangan, Kabupaten Pati.
Sebagai sales marketing, ia berjualan melalui Tokopedia dan Bukalapak dengan harga produk mencapai Rp600.000 per potong. Target penjualannya adalah dua produk per hari dan ia selalu mampu mencapainya.
“Waktu bekerja sebagai sales marketing daring, saya awalnya di divisi alat terapi meridian, kemudian dipindahkan ke divisi fesyen karena pemilik perusahaan menikah dengan seorang desainer. Saya membantu produksi jilbab instan, square, serta pashmina, dan di situlah awal saya mulai belajar menjahit,” ungkap Diah.
Setahun kemudian, Diah memutuskan menikah dan mengikuti suaminya merantau ke Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan. Selama berada di perantauan, ia tidak menyia-nyiakan waktu. Di tengah kehamilan anak pertamanya, Diah mengikuti kursus untuk memperdalam keterampilan yang sebelumnya ia peroleh saat bekerja.
“Setelah menikah saya ikut suami ke Kalimantan. Di sana saya kursus menjahit di LPK Citra Nugraha Tanjung. Saya diajarkan pola dasar, lalu saya mengembangkan pola pecah secara autodidak dengan melihat tutorial di YouTube,” tuturnya.
Selain mengikuti kursus, Diah tetap menjalankan usaha yang telah dirintis sebelumnya. Ia mengelola toko daring di Tokopedia dan Bukalapak, sekaligus membuka jasa titip barang dari Pulau Jawa untuk ibu-ibu yang tinggal di Kalimantan.
Pada awal 2019, Diah kembali ke Pulau Jawa dan menetap di rumahnya di Kecamatan Kaliori. Berbekal pengalaman bekerja di bidang fesyen serta keterampilan yang diperoleh selama kursus, ia memberanikan diri membuka usaha jahit di rumah.
Pada akhir 2019, ia pindah ke rumah suaminya dan mulai menjalankan usaha barunya. Merintis usaha dari rumah bukanlah perkara mudah. Di awal usahanya, Diah harus menghadapi keterbatasan modal dan peralatan, sekaligus membangun kepercayaan pelanggan.
Keinginan untuk terus berkembang kembali membawanya pada kesempatan baru. Saat mengandung anak keduanya, Diah mengikuti seleksi program Wepreneur yang diselenggarakan oleh perusahaan tempat suaminya bekerja. Ia berhasil masuk 20 besar dan memperoleh pendampingan selama tiga bulan.
Selama mengikuti program tersebut, ia memperoleh berbagai materi, mulai dari pengembangan desain, seleksi kualitas jahitan, hingga pengurusan legalitas usaha seperti Nomor Induk Berusaha (NIB) dan Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
Namun, bukan hanya ilmu tentang bisnis yang ia dapatkan. Lingkungan pertemanan dalam program tersebut justru menjadi titik balik yang mendorongnya kembali menempuh pendidikan.
“Teman-teman di Wepreneur sangat humble, ramah, dan bisnis mereka sudah besar. Meski berbisnis, mereka tetap melanjutkan pendidikan S2 atau S3. Dari situ saya kepikiran untuk melanjutkan pendidikan kembali,” ujarnya.
Keinginan untuk kuliah kembali sebenarnya sempat diiringi kebimbangan dalam memilih program studi. Awalnya, Diah ingin mengambil jurusan desain fesyen. Namun, setelah mempertimbangkan pengalaman dan keterampilan yang telah dimiliki, ia memilih menempuh pendidikan pada Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di Universitas Terbuka (UT) Salut Kartini Rembang.
“Saat ini saya semester lima dan memilih jurusan yang nantinya bisa menjadi penopang keluarga saya karena suami bukan seorang PNS. Jadi, harapannya ke depan saya bisa menjalankan bisnis sambil menjadi PNS,” jelasnya.
Di tengah padatnya aktivitas sebagai ibu rumah tangga, pelaku usaha, dan mahasiswa, Diah mampu mempertahankan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4,00. Baginya, kunci menjalankan semua peran tersebut adalah menyusun skala prioritas dan memanfaatkan waktu luang sebaik mungkin.
Tidak jarang, ia harus menghadapi situasi ketika pesanan jahitan sedang banyak, tugas kuliah menumpuk, sementara anak-anak tetap membutuhkan perhatian. Dalam kondisi seperti itu, Diah memilih tetap tenang dan menyelesaikan semuanya secara bertahap.
“Biasanya saya mencoba tetap tenang, menyusun prioritas, dan mengerjakan satu per satu. Kalau terlalu lelah, saya beri waktu diri saya untuk beristirahat sejenak supaya bisa lanjut lagi dengan lebih fokus,” terangnya.
Selama menempuh pendidikan di UT, Diah merasakan banyak ilmu yang dapat langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain membantu mengatur waktu dan berpikir lebih terstruktur, materi perkuliahan juga mendukungnya saat mendampingi kedua anaknya belajar di rumah.
Ke depan, Diah berharap dapat terus mengembangkan usaha jahit dan pakaian ready to wearyang telah ditekuninya hingga memiliki toko fisik maupun toko daring di berbagai daerah di Indonesia. Di sisi lain, ia juga ingin mewujudkan cita-citanya menjadi guru sekolah dasar setelah menyelesaikan pendidikan di UT.
Menutup perbincangan, Diah berpesan kepada para perempuan, khususnya ibu rumah tangga, agar tidak ragu melanjutkan pendidikan.
“Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Memang tidak mudah, tetapi sangat mungkin dijalani. Mulailah dari niat dan langkah kecil. Jangan takut dengan keterbatasan, karena justru dari situlah kita belajar untuk berkembang. Kita sebagai perempuan tetap memiliki hak untuk bermimpi dan mewujudkannya,” pungkasnya.
Perjalanan Diah membuktikan bahwa pernikahan bukanlah akhir dari mimpi seorang perempuan. Dengan tekad untuk terus belajar, ia merajut masa depan bagi dirinya, keluarga, dan usaha yang dibangunnya dari rumah.
Video pilihan: Karavista Musik