Berita

Menari untuk Identitas, Jejak Sofiana Merawat Budaya

Menari untuk Identitas, Jejak Sofiana Merawat Budaya
Bagikan :

Menari untuk Identitas, Jejak Sofiana Merawat Budaya

Tekuni budaya tradisional sejak lima tahun, Sofiana jadi sosok pengajar yang lestarikan kekayaan bangsa. (Windy Eka Putri Devina)

REMBANG, utrembang.com – “Menekuni tari tradisional bukan berarti kita tertinggal, justru itu adalah identitas yang membuat kita berbeda dan punya nilai lebih,” tutur Sofiana Putri.

Mahasiswa semester akhir Program Studi Manajemen Universitas Terbuka (UT) Salut Kartini Rembang itu menghabiskan waktu sebagai pengajar tari tradisional di Sanggar Selayur, Desa Sudo, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang.

Sosok yang lebih akrab disapa Sofia telah mengenal dunia tari sejak dirinya masih berusia lima tahun.

Setiap kali alunan musik tradisional terdengar, tubuh kecilnya bergerak tanpa komando dengan raut ceria terpatri di wajahnya.

BACA JUGA :  MAPABA-V PMII Sultan Mahmud Salut Kartini: Membentuk Intelektualitas dan Jaringan bagi Mahasiswa Baru

Kecintaannya pada dunia tari semakin menguat ketika dirinya duduk di bangku Sekolah Dasar, saat itu sering digelar pertunjukan kethoprak di desanya.

Sofia kecil senang mengamati pemuda-pemudi yang tampil membawakan tarian tradisional dan modern di atas panggung kethoprak.

Ketika Sanggar Tari Selayur berdiri, Sofia diajak untuk berkontribusi membantu mengajar generasi muda di desanya.

“Awalnya otodidak sejak usia lima tahun. Setelah ikut ekstrakurikuler dan diminta mengajar adik-adik di sanggar. Pengalaman mengajar justru membuat kecintaan saya pada tari semakin kuat,” ungkap Sofia.

Di sela kesibukannya sebagai mahasiswa, ia telah mengatur jadwal latihan, baik latihan rutin maupun untuk persiapan pentas.

Ia biasa mengajar adik-adik di sanggar mulai siang hingga menjelang sore hari, sementara ketika mempersiapkan pentas, latihan biasa dilakukan pada malam hari.

BACA JUGA :  Dari Wisata Glamping hingga UMKM: Pantai Indah Layur Bangkitkan Ekonomi Lokal

Dalam mempersiapkan satu tarian baru, mereka membutuhkan waktu sekitar empat hari hingga dua minggu, tergantung tingkat kesulitan materi dan intensitas latihan.

Salah satu momen paling berkesan dalam perjalanan menarinya adalah ketika ia tampil di Festival Pertunjukan Rakyat FK Metra Jawa Tengah 2024 dalam lakon Kidung Bumi Perdikan.

Pada momen tersebut, ia disadarkan bahwa tari tradisional masih sangat luas.

Setiap panggung memiliki tantangan berbeda yang membuatnya terus haus untuk belajar dan tidak cepat merasa puas.

Sebagai pengajar, Sofia merasa tari adalah media terbaik untuk membentuk karakter anak-anak sejak dini.

Selain itu, dengan tetap menari, ia ingin memastikan bahwa kekayaan bangsa tidak sekadar menjadi sejarah, tetapi tetap hidup dan berkembang di tangan generasinya.

BACA JUGA :  Harumkan Nama Daerah di Kancah Nasional, Mardila Kisahkan Perjuangannya

“Sederhananya, saya ingin memastikan bahwa di desa saya, musik dan gerakan tari tradisional tidak pernah berhenti terdengar dan terlihat,” ujar Sofia.

Di tengah arus zaman yang terus berubah, Sofia memilih tetap berpijak pada akar.

Dari ruang sederhana di sanggar desa hingga panggung yang lebih luas, setiap gerakan yang ia ajarkan dan tampilkan adalah bentuk keyakinan bahwa budaya akan tetap hidup selama ada yang merawatnya.

Video pilihan: Karavista Musik


Bagikan :
Editor : Alfia Dwi Nastiti