Berita

Lebaran Bukan Sekadar Perayaan, Ini 5 Tradisi Warisan Budaya di Rembang yang harus Dijaga

Lebaran Bukan Sekadar Perayaan, Ini 5 Tradisi Warisan Budaya di Rembang yang harus Dijaga
Bagikan :

Lebaran Bukan Sekadar Perayaan, Ini 5 Tradisi Warisan Budaya di Rembang yang harus Dijaga

Tradisi Larung Sesaji khas lebaran di Kabupaten Rembang. (Novi Oktaviani)

REMBANG, utrembang.com – Lebaran menjadi momen yang paling dinanti, membawa suka dan harapan bagi banyak orang.

Euforia keramaian dan hangatnya kebersamaan semakin terasa saat mudik ke kampung halaman.

Terlebih jika tradisi lebaran di kampung halaman turut meramaikan perayaan, dari yang umum seperti sungkeman dan ziarah kubur hingga tradisi khas yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Beragam tradisi lebaran di Kabupaten Rembang pun hadir, menambah warna dan cerita dalam hangatnya perayaan.

Berikut beberapa tradisi khas lebaran di Kabupaten Rembang yang masih dilestarikan hingga kini.

1. Ziarah Makam dan Halal Bihalal (Open House)

Ziarah makam dan halal bihalal merupakan salah satu tradisi umum yang dilakukan setelah melaksanakan salat Idulfitri.

Setelah menunaikan salat Id, masyarakat biasanya melanjutkan dengan saling bermaaf-maafan kepada keluarga dan sanak saudara sebelum kemudian bersama-sama berziarah atau berkunjung ke makam keluarga.

Tradisi kebersamaan itu tak berhenti di hari pertama lebaran saja.

Memasuki hari kedua hingga kelima, bahkan lebih, masyarakat kembali berkumpul dalam momen halal bihalal atau open house, baik bersama keluarga besar maupun kerabat dan lingkungan sekitar.

Meski tradisi ini umum dijumpai di berbagai daerah lain, kebiasaan ini menjadi momen yang memiliki makna mendalam sebagai wujud kebersamaan dan mempererat silaturahmi di tengah suasana lebaran.

2. Kupatan Kendeng

Salah satu tradisi khas yang masih lestari hingga sekarang, yaitu Kupatan Kendeng.

Tradisi ini dilaksanakan oleh masyarakat Kendeng, Desa Gunem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, dan biasanya digelar setiap tahun pada minggu pertama bulan Syawal, sekitar hari kelima hingga ketujuh setelah Hari Raya Idulfitri.

BACA JUGA :  Tahun Baru dan Makna Refleksi di Balik Euforia

Mengutip dari NU Online dalam tulisan Ayu Lestari (5 April 2025), Kupatan Kendeng merupakan suatu tradisi lokal masyarakat Kendeng Utara untuk memperingati sekaligus merayakan sukacita lebaran.

Tak hanya sekadar perayaan biasa, tradisi ini juga mengandung makna mendalam sebagai bentuk pengakuan kesalahan serta permohonan maaf, baik kepada sesama manusia maupun kepada Ibu Bumi yang selama ini memberi kehidupan.

Rangkaian tradisi Kupatan Kendeng pun berlangsung meriah dan penuh makna, mulai dari temon banyu beras, dilanjutkan dengan lamporan dan urun, lalu dimeriahkan dengan pagelaran panggung musik, dan diakhiri dengan arak-arakan kupat.

Salah satu keunikan dari tradisi ini, yaitu penampilan cerita semi drama yang dibawakan oleh warga asli Kendeng Utara.

Dalam pementasan tersebut, diselipkan pula tembang-tembang Jawa seperti megatruh dan pangkur yang semakin menguatkan nuansa budaya sekaligus kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

3. Pathol Sarang

Pathol Sarang merupakan sebuah tradisi khas ketika lebaran yang tak kalah menarik di Kabupaten Rembang.

Tradisi ini merupakan kesenian tradisional berupa seni gulat yang berasal dari wilayah Sarang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, yang masih eksis hingga sekarang.

Pathol Sarang biasanya digelar setiap tahun ketika lebaran tiba dan bertepatan dengan momentum sedekah laut.

Uniknya, pertunjukan ini digelar di pinggir laut dan identik dimainkan oleh para nelayan.

Mengutip dari rembangkab.go.id pada 9 Maret 2023, pertandingan ini awalnya diikuti oleh warga yang berprofesi sebagai nelayan.

Namun, seiring berjalannya waktu, tradisi ini semakin ramai dan terbuka hingga diikuti oleh berbagai kalangan yang ingin menjadi jawara Pathol Sarang.

Para peserta saling adu kekuatan untuk menjatuhkan lawan di arena berukuran sekitar 10×10 meter yang beralaskan pasir.

BACA JUGA :  Bengkel Sastra: Mengubah Sastra Menjadi Sarana Perubahan Anak Muda

Tak hanya sebuah tradisi biasa, Pathol Sarang juga menyimpan nilai sejarah yang panjang.

Berdasarkan jatengprov.go.id pada 9 Maret 2023, Ketua Panitia Pathol Sarang, Yanto, menyebutkan bahwa pada masa lalu kesenian ini digunakan sebagai ajang mencari prajurit pada era Kerajaan Majapahit.

Kini, Pathol Sarang tidak hanya menjadi hiburan rakyat semata, melainkan juga menjadi simbol kekuatan, keberanian, dan kebersamaan masyarakat pesisir Kabupaten Rembang yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

4. Kupatan atau Hari Raya Ketupat

Hari Raya Ketupat atau sering dikenal dengan “Rioyo Kupat” di Kabupaten Rembang biasanya dirayakan pada hari kedelapan bulan Syawal atau seminggu setelah Hari Raya Idulfitri.

Perayaan ini identik dengan penyajian ketupat sebagai hidangan utama yang disantap bersama keluarga, sanak saudara, dan juga kerabat.

Ketupat sendiri tak hanya dimaknai sebagai makanan khas ketika lebaran, tetapi juga menjadi simbol pengakuan kesalahan dan permohonan maaf, sebagaimana dengan makna dan semangat lebaran yang penuh keikhlasan.

Di beberapa daerah, termasuk Kabupaten Rembang, perayaan ini juga dilaksanakan dan diisi dengan berbagai kegiatan kebersamaan, seperti doa bersama, arak-arakan gunungan, hingga acara syukuran.

Tradisi ini disambut dengan ramai dan penuh kekeluargaan, di mana di beberapa daerah, warga mulai berdatangan sambil membawa hidangan seperti ketupat, sayur bersantan, aneka kue, dan beragam jenis makanan lainnya.

Setelah seluruh warga berkumpul, acara dibuka dengan sambutan singkat dan doa, lalu dilanjutkan dengan makan bersama dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan.

Melimpahnya makanan membuat sebagian sajian masih tersisa dan kemudian dibawa pulang oleh warga.

BACA JUGA :  Bekerja Sambil Kuliah, Pilihan Mahasiswa UT Salut Kartini Rembang Menuju Kemandirian

Melalui tradisi Hari Raya Ketupat, masyarakat tidak hanya merayakan kebersamaan, tetapi juga merawat nilai-nilai budaya dan spiritual yang terus hidup dalam setiap perayaan lebaran hingga sekarang.

5. Syawalan Pesisir atau Sedekah Laut (Larung Replika Kapal)

Sedekah laut adalah upacara adat yang dirayakan secara turun-temurun oleh masyarakat pesisir pantai di Kabupaten Rembang.

Bukan sekadar ritual semata, upacara ini mengandung makna filosofis sebagai wujud rasa syukur masyarakat pesisir, terutama para nelayan, atas rezeki dari laut, sekaligus bentuk penghormatan kepada penguasa laut serta harapan akan keselamatan dan keberkahan dalam menjalani aktivitas melaut.

Biasanya, perayaan ini digelar meriah sekitar sepekan setelah Hari Raya Idulfitri.

Prosesi ini diawali dengan doa bersama, seperti tahlil atau tirakatan, kemudian dilanjutkan dengan arak-arakan sesaji yang diletakkan dalam miniatur perahu menuju dermaga untuk dilarung ke laut.

Sebagaimana dijelaskan dalam visitjawatengah.jatengprov.go.id pada 23 Juli 2020, larung sesaji umumnya dilaksanakan pada pagi hari dengan membawa miniatur perahu ke tengah laut sebelum sesaji tersebut dilepaskan.

Semarak kemeriahan kian terasa dengan kirab budaya dan pertunjukan kesenian tradisional seperti barongan dan ketoprak.

Di sejumlah wilayah pesisir Rembang, seperti Desa Tasikagung dan Desa Pasar Banggi, sedekah laut menjadi perayaan yang selalu dinanti masyarakat.

Tradisi ini juga menjadi daya tarik wisata yang mampu menggerakkan perekonomian masyarakat setempat.

Hingga kini, masyarakat pesisir Rembang tetap menjaga dan melestarikan tradisi ini sebagai bagian penting dari identitas budaya dan bentuk keselarasan dengan alam.

Melalui berbagai tradisi tersebut, masyarakat Kabupaten Rembang tidak hanya merayakan lebaran, tetapi juga menjaga warisan budaya yang hidup dan terus dijaga dari generasi ke generasi.

Video pilihan: Karavista Musik


Bagikan :
Editor : Alfia Dwi Nastiti