Kuliah, Bekerja, dan Bertahan Hidup: Perjuangan Mahasiswa UT Salut Kartini Rembang Jadi Asisten Dokter

Dari klinik ke kampus, perjuangan Muhammad Faizin mahasiswa UT Salut Kartini dalam mewujudkan mimpi. (Windy Eka Putri Devina)
REMBANG, utrembang.com – Setiap orang punya cara bertahan hidup masing-masing, dan selama kamu masih punya mimpi, kamu masih punya banyak alasan untuk tidak menyerah. “Pesan sederhana ini bukan sekadar motivasi, tetapi prinsip hidup yang menemani Muhammad Faizin tumbuh tanpa peran dari sosok ayah sejak usianya masih tiga bulan.
Remaja yang akrab disapa Faizin itu lahir pada 1 Juni 2005 dan merupakan anak pertama dari tiga bersaudara.
Kini, ia tercatat sebagai salah satu mahasiswa di Universitas Terbuka (UT) Salut Kartini Rembang.
Sebagai mahasiswa, ia aktif dalam salah satu organisasi yang berfokus di bidang jurnalistik. Dan saat ini, ia menempuh program studi akuntansi.
“Sejak kecil saya memang suka hal-hal yang berkaitan dengan angka. Saya merasa lebih mudah beradaptasi dengan hal yang bersifat numerik,” ujarnya.
Hasil dari berbagai tes kepribadian dan kecerdasan, seperti MBTI dan Enneagram yang ia pelajari, turut menguatkan tekadnya untuk menekuni jurusan ini dan berharap di masa nanti dapat menjadi seorang ahli di bidang keuangan.
Selama ini hidupnya tidak hanya dihabiskan untuk menempuh pendidikan di bangku perkuliahan, melainkan juga bekerja sebagai asisten dokter sekaligus admin FKTP sejak Agustus 2024 di sebuah tempat praktik kesehatan.
“Setiap hari saya membantu melayani pasien yang mengalami kendala di aplikasi Mobile JKN, menginput administrasi operasional dokter, serta mengelola rujukan pasien ke rumah sakit,” jelasnya.
Selain bekerja di bidang kesehatan, ia juga menjalani beberapa pekerjaan freelance seperti mengajar les komputer, menjadi panitia event, dan desainer.
Di balik cerita hidupnya saat ini, tersimpan kisah usang yang memberinya banyak pelajaran hidup.
Jauh sebelumnya, ia sempat bekerja sebagai Supervisor Niceso untuk area Blora-Cepu.
Pada akhirnya, ia memutuskan untuk melepaskan pekerjaan tersebut karena tidak memperbolehkannya untuk berkuliah sambil bekerja.
Meski demikian, ia meyakini selalu ada peluang yang lebih baik di luar sana yang menunggunya.
Menjalani kuliah sambil bekerja tentu bukan perkara mudah. Membagi waktu dan tenaga untuk kuliah dan bekerja menjadi tantangan baginya saat awal bekerja.
“Pernah sampai mimisan, stres, bahkan mengalami kecelakaan karena kelelahan,” ungkapnya.
Seluruh kisah tersebut telah memberikan banyak pelajaran berharga baginya.
Berbagai pekerjaan yang pernah dijalani telah membuka banyak wawasan baru dan meningkatkan kemampuan hard skill dan soft skill yang tidak selalu bisa didapatkan di ruang kelas.
Hal yang membuatnya terus bersemangat menjalani kehidupan kuliah sambil bekerja adalah melihat versi ideal dirinya di masa depan yang berusaha ia kejar.
Ia selalu ingin menjalani hidup yang bermakna dan memberikan dampak bagi keluarga maupun masyarakat.
Perjalanan yang ditempuh mungkin tidak selalu mudah, namun setiap cerita telah membentuknya menjadi pribadi yang lebih kuat, dan di tengah berbagai keterbatasan, ia terus melangkah, membawa mimpi dan harapan untuk masa depan yang lebih baik.
Video pilihan: Karavista Musik