Berita

Jakinah Sang Pengalir Kehidupan Bagi Petani dan Warga Rembang

Jakinah Sang Pengalir Kehidupan Bagi Petani dan Warga Rembang
Bagikan :

Jakinah Sang Pengalir Kehidupan Bagi Petani dan Warga Rembang

Aliran selokan yang berasal dari Sungai Jakinah di Desa Gading, Kec. Sale. (Vicky Teboo)

REMBANG, utrembang.com – Di tengah teriknya siang, terdengar gemercik air dari kejauhan yang seolah memanggil untuk dihampiri.Semakin dekat dengan sumbernya, hati ini kian tak sabar ingin segera meneguknya.

Syahdunya gemercik air berpadu dengan sapaan penduduk lokal yang bertengger di atas pohon sepanjang perjalanan, membuat suasana terasa seperti bernostalgia.

Sungai bernama Jakinah itu mengalir di tepian hutan yang masuk wilayah Desa Gading, Kecamatan Sale.

Sungai ini menjadi jantung kehidupan bagi para petani di Kecamatan Sale dan sebagian wilayah Jawa Timur.

Tidak hanya itu, debit airnya yang tak pernah surut menjadikannya penyuplai utama pelanggan PDAM di beberapa kecamatan.

BACA JUGA :  UT Semarang Wisuda 848 dari 1.747 Lulusan, Wakil Rektor IV Tekankan Pentingnya Kontribusi Nyata bagi Negeri

Namun, akibat ulah manusia yang tak pernah puas, sungai tersebut terkesan tidak terawat.

Sungai yang merupakan hilir Sumber Seribu itu kini tampak berubah dari waktu ke waktu.

Kedalaman di bagian hulu sungai saat ini hanya sekitar 70 sentimeter.

Kondisi yang lebih parah terjadi di bagian bawah pintu air, dengan debit yang terus menipis hingga nyaris kurang dari 30 sentimeter.

Padahal, menurut penuturan sejumlah sesepuh desa, pada zaman dahulu kedalaman sungai bisa mencapai hampir 4 meter.

Pada masanya, sungai ini menjadi hiburan gratis bagi anak-anak sehabis mencari kayu bakar di hutan sekitar kawasan tersebut.

Endapan lumpur yang terbawa arus banjir membuat sungai menjadi tidak lagi dalam.

BACA JUGA :  Peringati World Cleanup Day 2026, Pemkab Rembang Boyong Pelajar hingga Forkopimda Bersihkan GOR Mbesi

Ditambah dengan nyaris tidak adanya normalisasi menyeluruh yang dilakukan, keindahannya pun menjadi luntur.

Kepala Desa Gading, Sugeng, menuturkan bahwa pada masa kecilnya ia sering berlomba dengan teman-temannya mencari kayu sambil menyelami Jakinah.

Saat itu, kedalaman air mampu menutupi seluruh tubuh orang dewasa.

Saat ini, Jakinah yang menjadi penopang kehidupan para petani di Kecamatan Sale dan sekitarnya tidak segahar dahulu.

Aliran airnya yang dulu mampu menopang banyak kecamatan, kini hanya menjadi rebutan bagi beberapa desa di wilayah Gading.

Pembagian jatah terpaksa dilakukan karena keterbatasan air pada saat-saat tertentu.

“Di Gading saja ada 60 hektare sawah yang dialiri air. Kalau seluruh Kecamatan Sale dan sebagian Jawa Timur bisa puluhan ribu hektare. Saat kemarau, desa di bawah Gading pasti ada perselisihan pengaturan air,” kata Sugeng.

BACA JUGA :  Njajan Fest 2.0, Cara UMKM Rembang Saling Dukung Bangkitkan Ekonomi

Mewakili desa, Sugeng berharap ada peran PDAM sebagai salah satu pihak pemanfaat Sungai Jakinah untuk ikut dalam perawatan, khususnya dalam normalisasi sungai guna mengurangi pendangkalan.

“Kalau dinormalisasi, daya tampung di atas pintu air akan lebih besar. Tentu, jika hal itu dilakukan PDAM, bisa mengurangi kecemburuan warga. Saat kemarau, harapannya tidak ada lagi perselisihan air di desa bagian bawah,” ujarnya.

Jakinah adalah nadi kehidupan bagi petani dan pelanggan PDAM.

Merawat Jakinah bukan hanya tanggung jawab PDAM semata, melainkan tanggung jawab kita semua dalam menjaga alam sekitar untuk keberlangsungan kehidupan di masa mendatang.

 

Video Pilihan: Merindukanmu – Karavista


Bagikan :
Editor : Bagus Yusril