Opini

Dari FOMO ke Produktif: Bagaimana Peran Pelajar dalam Meningkatkan SDM di Rembang?

Dari FOMO ke Produktif: Bagaimana Peran Pelajar dalam Meningkatkan SDM di Rembang?
Bagikan :

Dari FOMO ke Produktif: Bagaimana Peran Pelajar dalam Meningkatkan SDM di Rembang?

Yuliana Putri Prameswari

Oleh: Yuliana Putri Prameswari *)

OPINI, utrembang.com – FOMO: Fenomena yang Dekat dengan Kehidupan Pelajar

Di era digital ini, kehidupan pelajar hampir tidak bisa dipisahkan dari media sosial. Setiap hari, berbagai informasi, tren, dan aktivitas teman sebaya muncul silih berganti di layar gawai. Mulai dari pencapaian akademik, gaya hidup, hingga konten hiburan yang menarik perhatian. Tanpa disadari, hal ini memunculkan fenomena fear of missing out (FOMO), yaitu perasaan cemas ketika merasa tertinggal dari apa yang sedang dilakukan orang lain.

Fenomena ini bukan hanya sekadar asumsi. Penelitian Przybylski et al. (2013) menunjukkan bahwa individu dengan tingkat FOMO yang tinggi cenderung lebih intens menggunakan media sosial dan mengalami ketidakpuasan psikologis. Artinya, semakin tinggi rasa takut tertinggal, semakin besar pula kecenderungan seseorang untuk terus terhubung dengan dunia digital, bahkan tanpa tujuan yang jelas.

Bagi pelajar, kondisi ini berdampak langsung pada kebiasaan sehari-hari. Waktu belajar menjadi berkurang, fokus mudah terpecah, dan produktivitas menurun. Tidak sedikit pelajar yang merasa sibuk, padahal sebenarnya tidak menghasilkan sesuatu yang bermakna. Di balik itu, FOMO juga menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi serta keinginan untuk berkembang. Di sinilah potensi besar yang perlu dimanfaatkan.

FOMO: Antara Tekanan Sosial dan Dorongan untuk Berkembang

FOMO sering muncul karena adanya tekanan sosial. Pelajar merasa perlu mengikuti tren agar tidak dianggap ketinggalan oleh lingkungan sekitarnya. Tanpa disadari, hal ini mendorong perilaku konsumtif, seperti menjalani gaya hidup yang tidak sesuai dengan kebutuhan atau sekadar ikut-ikutan tanpa tujuan yang jelas.

Dilihat dari sudut pandang yang berbeda, FOMO dapat menjadi dorongan untuk berkembang. Rasa tidak ingin tertinggal dapat diubah menjadi motivasi untuk mencoba hal baru, mempelajari keterampilan, dan menciptakan sesuatu yang lebih bernilai. Misalnya, ketika melihat teman membuat konten kreatif, pelajar terdorong untuk belajar penyuntingan video, desain, atau bahkan public speaking.

BACA JUGA :  Kupas Tuntas Istilah-Istilah di Universitas Terbuka

Hal ini sejalan dengan pandangan Kaplan dan Haenlein (2010) yang menjelaskan bahwa media sosial memungkinkan terjadinya interaksi dan penyebaran informasi secara luas. Artinya, pelajar tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga memiliki peluang yang sama untuk menyebarkan ide, karya, dan kreativitas mereka. Dengan demikian, FOMO dapat diarahkan menjadi energi positif untuk mendorong perkembangan diri.

Pelajar sebagai Agen Perubahan di Era Digital

Pelajar saat ini memiliki posisi yang sangat strategis dalam perkembangan teknologi digital. Mereka tumbuh di lingkungan yang penuh dengan akses informasi sehingga memiliki peluang besar untuk mengembangkan berbagai keterampilan. Namun, potensi ini tidak akan berkembang jika mereka hanya menjadi konsumen informasi semata.

Banyak pelajar yang masih terjebak menjadi penonton di media sosial. Padahal, dengan sedikit keberanian untuk mencoba, mereka dapat menjadi kreator yang menghasilkan karya. Perubahan peran dari konsumen menjadi produsen inilah yang menjadi kunci dalam meningkatkan produktivitas.

Menjadi kreator tidak harus dimulai dari hal besar. Pelajar dapat memulainya dengan membuat konten edukatif, berbagi pengalaman belajar, atau mengangkat potensi lokal daerah. Dari proses ini, pelajar belajar berpikir kreatif, menyusun ide, dan menyampaikan pesan kepada orang lain. Selain itu, aktivitas tersebut dapat meningkatkan rasa percaya diri serta kemampuan komunikasi.

Mengoptimalkan Media Sosial sebagai Sarana Produktivitas

Selama ini media sosial sering dianggap sebagai penyebab distraksi. Namun, jika dimanfaatkan secara bijak, media sosial dapat menjadi sarana produktivitas yang efektif. Pelajar dapat menggunakan platform digital untuk mempelajari hal baru, mengikuti kelas daring, atau mencari inspirasi untuk berkarya.

Selain itu, media sosial juga dapat digunakan untuk membangun personal branding. Pelajar dapat menunjukkan minat, bakat, dan kemampuan mereka melalui konten yang dibuat. Hal ini penting sebagai bekal di masa depan, terutama dalam menghadapi dunia kerja yang semakin kompetitif.

BACA JUGA :  Jadi Pionir Pendidikan Jarak Jauh, UT Berikan Akses Merata ke Pelosok Indonesia

Tidak hanya itu, media sosial juga membuka peluang kolaborasi. Pelajar dapat bekerja sama dengan teman atau komunitas untuk menciptakan proyek kreatif. Kolaborasi ini tidak hanya meningkatkan keterampilan, tetapi juga memperluas relasi yang bermanfaat di masa depan. Dengan demikian, media sosial tidak lagi menjadi sekadar hiburan, melainkan juga menjadi alat untuk berkembang.

Peran Pelajar dalam Mendukung UMKM di Rembang

Kabupaten Rembang memiliki banyak potensi lokal, terutama pada sektor UMKM. Namun, masih banyak pelaku usaha yang belum optimal dalam memanfaatkan teknologi digital untuk promosi. Hal ini menjadi peluang besar bagi pelajar untuk mengambil peran.

Dengan kreativitas yang dimiliki, pelajar dapat membantu mempromosikan produk UMKM melalui media sosial. Misalnya, dengan membuat video promosi yang menarik, foto produk yang estetik, atau ulasan sederhana yang informatif. Konten-konten tersebut dapat meningkatkan daya tarik produk sekaligus menjangkau konsumen yang lebih luas.

Hal ini sejalan dengan konsep yang dikemukakan oleh Kotler, Kartajaya, dan Setiawan (2017) yang menyatakan bahwa digital marketing mampu menjangkau konsumen secara lebih luas dan interaktif. Dengan memanfaatkan strategi ini, pelajar tidak hanya membantu UMKM, tetapi juga belajar secara langsung mengenai dunia pemasaran digital.

Lebih dari itu, keterlibatan pelajar dalam mendukung UMKM memberikan dampak yang lebih luas. Ketika UMKM berkembang, perekonomian daerah pun ikut meningkat. Dengan demikian, pelajar secara tidak langsung berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Rembang.

Transformasi Perilaku: Dari Konsumtif ke Produktif

Perubahan perilaku dari konsumtif menjadi produktif merupakan langkah penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Pelajar yang mampu mengelola waktu penggunaan media sosial serta memanfaatkan teknologi secara bijak akan memiliki keunggulan dibandingkan mereka yang hanya menjadi pengguna pasif.

BACA JUGA :  Cinta, Mandiri, Karier: Kisah Yuyun, Alumni UT Salut Kartini yang Sukses Raih Prestasi dan Beasiswa Bidikmisi

Transformasi ini tidak terjadi secara instan. Dibutuhkan kesadaran, konsistensi, dan kemauan untuk berubah. Pelajar perlu mulai mengatur waktu penggunaan media sosial, menetapkan tujuan, serta memilih aktivitas yang memberikan manfaat jangka panjang.

Keterampilan seperti kreativitas, kemampuan berpikir kritis, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan menjadi faktor penting dalam membentuk SDM yang unggul. Pelajar yang terbiasa mengembangkan diri akan lebih siap menghadapi tantangan global serta mampu menciptakan peluang baru, baik bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitarnya.

Penutup: Dari Kebiasaan Kecil Menuju Perubahan Besar

FOMO bukan untuk dihindari sepenuhnya, melainkan merupakan fenomena yang harus dikelola secara bijak. Dengan pemahaman yang tepat, FOMO dapat menjadi dorongan untuk melakukan hal-hal yang lebih produktif.

Pelajar memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas SDM di Kabupaten Rembang. Melalui pemanfaatan media sosial secara kreatif dan produktif, pelajar tidak hanya mengembangkan potensi diri, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan sekitarnya.

Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Ketika pelajar mulai mengubah kebiasaan dalam menggunakan teknologi, secara perlahan akan terbentuk generasi yang lebih adaptif, inovatif, dan berdaya saing. Inilah yang menjadi fondasi utama untuk membangun SDM yang berkualitas dan mampu membawa Rembang menuju masa depan yang lebih baik.

*) Siswa SMK Cendekia, juara kedua lomba menulis artikel HUT UT Salut Kartini Rembang Tahun 2026.

Daftar Puskata
Kaplan, Andreas M., dan Michael Haenlein. 2010. “Users of the World, Unite! The Challenges and Opportunities of Social Media.” Business Horizons, 53(1): 59–68.

Kotler, Philip, Hermawan Kartajaya, dan Iwan Setiawan. 2017. Marketing 4.0: Moving from Traditional to Digital. New Jersey: John Wiley & Sons.

Przybylski, Andrew K., et al. 2013. “Motivational, Emotional, and Behavioral Correlates of Fear of Missing Out.” Computers in Human Behavior, 29(4): 1841–1848.

Video pilihan: Karavista Musik


Bagikan :
Editor : Alfia Dwi Nastiti