Situs Umpak Dasun, Saksi Bisu Kejayaan Pelabuhan Lasem
REMBANG, utrembang.com – Di tengah hamparan tambak yang tampak tenang, berseberangan dengan Sungai Lasem yang membentang hingga ke laut, tersimpan jejak yang tak pernah hilang
Batu-batu tua itu memang tak lagi menyangga bangunan, namun masih tegak menopang ingatan.
Inilah Situs Umpak Kantor Bea Cukai Pelabuhan Lasem, saksi kejayaan Dasun sebagai gerbang perdagangan, tempat kapal datang dan berlayar, sekaligus ruang perjumpaan berbagai budaya.
Dari pondasi yang masih bertahan melawan waktu, tersimpan kisah tentang kejayaan maritim yang terus menunggu untuk dikenang.
Di antara tambak yang membentang di pintu masuk Pantai Dasun, berdiri deretan batu yang tampak biasa.
Tak ada dinding. Tak ada atap. Tak juga bangunan megah yang tersisa.
Namun, susunan batu-batu inilah yang pernah menjadi pondasi sebuah kantor yang sibuk mencatat keluar masuk kapal di Pelabuhan Lasem.
Sebuah tempat yang dahulunya menjadi gerbang masuknya perdagangan di pesisir utara Jawa.
Kini, masyarakat mengenalnya sebagai Situs Umpak Kantor Bea Cukai Pelabuhan Lasem.
Situs tersebut telah dilindungi melalui Peraturan Desa Dasun Nomor 4 Tahun 2022 tentang Pengelolaan Cagar Budaya. Selain itu, keberadaannya juga mendapat perlindungan berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
Menurut Sekretaris Desa Dasun sekaligus penikmat sejarah, Exsan Ali Setyonugroho, umpak merupakan pondasi rumah panggung yang dahulunya difungsikan sebagai kantor Pabean atau Bea Cukai.
“Umpak merupakan dasar rumah panggung yang difungsikan sebagai kantor Pabean atau Bea Cukai. Situs Pabean ini berkaitan dengan Pelabuhan Lasem,” jelas Exsan.
Di sinilah setiap kapal yang melintas Sungai Lasem pernah didata, begitu pula berbagai komoditas yang keluar maupun masuk melalui pelabuhan.
“Kaitannya dengan umpak ini adalah salah satunya untuk mencatat keluar masuknya barang melalui Pelabuhan Lasem,” imbuhnya.
Sulit membayangkan bahwa kawasan yang kini dikelilingi tambak ini dulunya berupa daratan yang ramai.
Tambak-tambak tersebut baru dibuat setelah Indonesia merdeka.
“Sebenarnya umpak ini cukup luas, tidak hanya beberapa titik saja seperti yang terlihat sekarang. Dahulu lokasinya berada di atas daratan, bukan di tengah tambak, karena kawasan tambak baru dibangun setelah Indonesia merdeka,” kata Exsan.
Sementara pada masa kejayaannya, kawasan ini menjadi bagian penting dari jalur perdagangan Lasem.
Dari pelabuhan inilah berbagai komoditas ekspor seperti beras, kayu, tembakau, kain sutra, hingga keramik dikirim ke berbagai daerah.
Tak heran jika hingga kini, terdapat pecahan keramik yang masih banyak ditemukan di sekitar muara Sungai Lasem.
“Dulu Lasem mengekspor beras, kayu, sebagian tembakau, tebu, dan kemudian juga mendatangkan kain sutera serta keramik sehingga banyak sekali ditemukan keramik di muara Sungai Lasem,” jelasnya.
Tak hanya itu, desa ini juga dikenal sebagai kawasan galangan kapal yang telah aktif sejak era Majapahit, Kesultanan Demak, VOC Belanda hingga masa pendudukan Jepang.
Di sepanjang tepian sungai, kapal-kapal kayu dibuat sebelum akhirnya diluncurkan ke perairan.
Sekitar tahun 1860-an, Dasun dipercaya menjadi tempat berkembangnya teknologi kapal uap pertama di Nusantara.
Sebuah tonggak sejarah maritim yang kini nyaris terlupakan.
Bangunan Kantor Bea Cukai tersebut memang telah lama runtuh.
Yang tersisa hingga kini hanyalah pondasi batu atau umpak yang dahulu berfungsi sebagai penyangga rumah panggung.
Menurut Exsan, rumah panggung tersebut kemungkinan besar dibangun menggunakan material kayu.
Sementara itu, di sisi kanan dan kirinya masih ditemukan pondasi yang diduga tersusun dari batu bata atau semen pada masanya.
“Kemungkinan besar bangunan Bea Cukai ini terbuat dari kayu. Di samping kanan dan kirinya juga terdapat pondasi yang diduga berasal dari batu bata zaman dulu. Bahkan, ada dugaan bangunan di sekitarnya merupakan benteng karena kawasan Lasem pernah diserang pasukan Mangkunegara yang dipimpin Pangeran Sambernyawa,” tutur Exsan.
Di sekitarnya juga masih ditemukan jejak bangunan loji, gudang penyimpanan kayu, dok kapal, hingga Bong Belanda yang menjadi penanda keberadaan para pekerja dan pemilik galangan kapal pada masa kolonial.
Seluruhnya menjadi kepingan-kepingan sejarah yang menyusun perjalanan panjang Dasun sebagai kawasan maritim.
Menariknya, meski menyimpan nilai sejarah tinggi, Situs Umpak belum pernah melalui proses ekskavasi arkeologi.
Penelitian yang dilakukan selama ini masih sebatas kajian sejarah dan identifikasi permukaan oleh berbagai perguruan tinggi serta komunitas pelestari budaya.
Hal ini berarti bukan tidak mungkin masih banyak cerita yang seungguhnya masih tersimpan di bawah permukaan tanah.
Bagi Exsan, keberadaan Situs Umpak bukan sekadar tumpukan batu tua.
Situs ini merupakan bagian dari identitas Lasem sebagai kota pelabuhan yang pernah menjadi jalur perdagangan rempah dan tempat bertemunya budaya Jawa, Tionghoa, hingga Eropa.
Dari kawasan inilah berbagai pengaruh budaya masuk dan membentuk wajah Lasem yang dikenal hingga sekarang.
Mulai dari arsitektur, batik, bahasa, kuliner, hingga tradisi yang masih bertahan.
Kesadaran akan pentingnya sejarah mendorong Pemerintah Desa Dasun melakukan berbagai upaya pelestarian.
Upaya tersebut meliputi pemasangan papan informasi, pembersihan kawasan secara berkala, penyusunan Peraturan Desa Nomor 4 Tahun 2022 tentang Pengelolaan Cagar Budaya Desa Dasun, serta pengenalan situs kepada setiap tamu yang berkunjung.
Situs Umpak bahkan telah dimasukkan dalam buku tentang situs-situs bersejarah Desa Dasun sebagai bagian dari upaya dokumentasi sejarah.
Meski demikian, perjuangan melestarikan kawasan ini masih menghadapi tantangan.
Sayangnya, hingga kini kawasan bersejarah Dasun belum memperoleh penetapan resmi sebagai kawasan cagar budaya tingkat kabupaten.
Padahal, status tersebut menjadi pintu awal untuk memperoleh perlindungan yang lebih kuat hingga tingkat provinsi maupun nasional.
“Yang menjadi tantangan adalah belum adanya penetapan kawasan cagar budaya oleh pemerintah kabupaten. Padahal kajiannya sudah dilakukan, sehingga penetapan itu menjadi langkah penting agar kawasan ini bisa diusulkan ke tingkat provinsi maupun nasional,” ungkap Exsan.
Harapan terbesar mereka adalah penetapan kawasan ini sebagai cagar budaya agar perlindungan dan pengembangannya semakin kuat.
“Kami berharap situs ini tetap lestari dan menjadi tempat belajar bagi masyarakat. Semoga ada perhatian dari pemerintah melalui penetapan SK cagar budaya, sehingga kawasan ini dapat terus dikembangkan sebagai pusat edukasi sejarah,” tutup Exsan.
Kini, batu-batu itu memang tidak lagi menopang bangunan. Namun, batu-batu itu masih menopang ingatan.
Jika batu-batu tua di Situs Umpak dapat berbicara, mungkin mereka akan mengisahkan bagaimana Dasun pernah menjadi gerbang pertemuan berbagai bangsa dan budaya.
Tempat kapal-kapal berlayar membawa rempah, kain sutra, keramik, dan harapan.
Kini, di tengah hamparan tambak yang sunyi, jejak-jejak itu masih bertahan, menunggu untuk terus dikenali, dipelajari, dan dilestarikan sebagai bagian dari identitas maritim Lasem.
Video pilihan: Karavista Musik
