Sebagian Sesi Diskusi Tuton Dihapus, Mahasiswa UT Salut Kartini Jadi Leluasa Bagi Waktu
REMBANG, utrembang.com – Sejak diberlakukannya sistem tuton terbaru pada semester 2025/2026 genap, mahasiswa Salut Kartini Rembang mulai beradaptasi dengan perubahan yang cukup signifikan.
Diskusi yang dulunya hadir di setiap sesi kini ditiadakan pada beberapa pertemuan, yaitu pada sesi 3, 5, dan 7.
Sejumlah mahasiswa mengaku dapat mengelola waktu belajar dengan lebih baik, terutama bagi mereka yang harus membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan.
Admin Salut Kartini Rembang, Bagus Tio Pambudi, menilai perubahan ini sebagai upaya untuk membuat pembelajaran agar lebih terarah.
Menurutnya, penghapusan diskusi pada sesi tertentu ini bertujuan agar mahasiswa dapat lebih fokus pada pengerjaan tugas.
“Sebagai admin, kami melihat perubahan ini sebagai upaya membuat pembelajaran lebih fokus, di mana sesi 3, 5, dan 7 diarahkan khusus untuk tugas tanpa diskusi. Meski begitu, kami tetap mendorong mahasiswa memaksimalkan sesi diskusi yang tersedia agar proses belajar dan pemahaman materi tetap optimal,” ujar Bagus.
Ia juga menambahkan, secara umum sistem baru ini cukup efektif, meskipun masih bergantung pada keaktifan mahasiswa dan peran tutor dalam memaksimalkan sesi diskusi yang tersedia.
Selain itu, dari sisi beban belajar, perubahan ini dinilai cukup membantu dan meringankan mahasiswa.
“Dengan ditiadakannya diskusi di sesi tersebut, beban mahasiswa menjadi sedikit ringan, lebih fokus, dan terkelola dengan baik,” imbuhnya.
Sementara itu, mahasiswa offline Program Studi Manajemen semester 6, Bahratussa’adah Alfiani, mengaku awalnya sempat terkejut dengan adanya perubahan tersebut.
Alfi baru menyadari penghapusan diskusi saat dirinya membuka salah satu mata kuliah yang langsung berisi tugas tanpa adanya forum diskusi di sesi 3.
Meski demikian, ia menilai kebijakan ini justru membantu meningkatkan fokus dalam belajar.
“Jadi, misal di sesi 3 ada diskusi 3 dan tugas 1 itu terkadang merasa terbelah untuk fokus pengerjaannya sehingga pada akhirnya kita memfokuskannya di tugas 1 dan untuk diskusinya sebisa mungkin untuk dikerjakan dan kurang diperhatikan,” ungkapnya.
Ia juga menilai penghapusan diskusi pada sesi ini membuat beban belajar lebih ringan, terutama karena masih harus menghadapi tugas lain dari perkuliahan tatap muka.
“Ketika diskusi di sesi 3, 5, dan 7 dihapus, saya merasa lebih ringan. Apalagi dalam perkuliahan tatap muka masih ada tugas individu dan kelompok, sehingga sering terasa kejar-kejaran waktu. Bagi mahasiswa yang juga bekerja, kondisi ini membuat diskusi sering kali terlewat dan justru menjadi beban,” tambahnya.
Ia menyatakan lebih mendukung sistem yang berlaku saat ini karena dinilai lebih meringankan beban belajar.
Menurutnya, penghapusan diskusi pada sesi 3, 5, dan 7 tidak perlu dikembalikan, kecuali jika terdapat pertimbangan yang jelas dari pihak penyelenggara.
“Saya lebih setuju dengan sistem yang sekarang karena terasa lebih ringan. Menurut saya, diskusi di sesi 3, 5, dan 7 tidak perlu dikembalikan, kecuali ada alasan yang benar-benar tepat,” jelas Alfi.
Hal serupa juga disampaikan oleh mahasiswa online Program Studi Akuntansi semester 4, Siti Nur Kholisoh, yang mengaku sebelumnya sempat khawatir harus mengerjakan banyak tugas dan diskusi secara bersamaan pada semester ini, terlebih karena juga bekerja.
“Dengan 8 mata kuliah dan kondisi saya yang juga bekerja, sebelumnya saya cukup kewalahan karena harus mengerjakan tugas dan diskusi bersamaan. Setelah diskusi di sesi 3, 5, dan 7 dihapus, saya merasa lebih ringan dan bisa lebih fokus memahami materi tanpa sekadar mengejar tenggat waktu,” ungkap Lilis.
Lilis mengaku dengan adanya sistem baru ini membuat beban belajarnya menjadi lebih seimbang dan terkontrol sehingga ia dapat lebih fokus pada kualitas tugas dan pemahaman materi.
“Saya merasa beban belajar sekarang lebih seimbang dan terkontrol. Dengan sistem tanpa diskusi di sesi 3, 5, dan 7, saya bisa lebih fokus pada kualitas tugas dan memahami materi dengan lebih baik, apalagi karena saya juga bekerja,” katanya.
Ia menilai diskusi pada sesi 3, 5, dan 7 tidak perlu dikembalikan karena dapat menambah tekanan bagi mahasiswa.
“Menurut saya, diskusi di sesi 3, 5, dan 7 tidak perlu dikembalikan karena justru bisa membuat mahasiswa lebih tertekan, terutama bagi yang juga bekerja dan memiliki banyak mata kuliah,” tuturnya.
Secara umum, mayoritas mahasiswa menilai penghapusan diskusi pada sesi 3, 5, dan 7 membantu meringankan beban belajar dan meningkatkan fokus.
Kebijakan ini dinilai memberikan dampak positif bagi pengelolaan waktu belajar mahasiswa.
Meski begitu, kebijakan ini tetap memerlukan evaluasi berkelanjutan agar keseimbangan antara pemahaman materi dan interaksi pembelajaran tetap terjaga.
Video pilihan: Karavista Musik