Berita

Penghafal Al-Qur’an di Barisan Paskibraka, Kisah Perjuangan Quinsha Zevina hingga Maju ke Tingkat Provinsi Jawa Tengah

Penghafal Al-Qur’an di Barisan Paskibraka, Kisah Perjuangan Quinsha Zevina hingga Maju ke Tingkat Provinsi Jawa Tengah
Bagikan :

7e98b6a4-1b74-4c16-bef8-ea86958485ff

Quinsha Zevina Anwar dari penghafal Al-Qur’an hingga menjadi Paskibraka. (Muhammad Yusril)

REMBANG, utrembang.com – Di balik ketegasan langkah dan kedisiplinannya dalam barisan Paskibraka, terdapat proses panjang yang membentuk karakter Quinsha Zevina Anwar.

Siswi SMA Negeri 1 Rembang itu merupakan penghafal empat juz Al-Qur’an. Sejak duduk di bangku SMP, ia telah menimba ilmu di pondok pesantren yang mengajarkannya untuk hidup disiplin dan mandiri.

Bekal tersebut menjadi bagian dari perjalanan Quinsha ketika berjuang menembus ketatnya seleksi Paskibraka Kabupaten Rembang.

Bersaing dengan sekitar 300 peserta dari berbagai sekolah, ia berhasil menjadi salah satu dari 31 peserta yang dinyatakan lolos dan kemudian dipercaya mewakili Kabupaten Rembang dalam seleksi Paskibraka tingkat Provinsi Jawa Tengah.

Bagi Quinsha, perjalanan menjadi Paskibraka bukan sekadar tentang kekuatan fisik dan ketepatan gerakan.

Kedisiplinan, kemandirian, serta ketahanan mental yang terbentuk sejak di pesantren menjadi bekal ketika ia harus menjalani latihan fisik dan menghadapi tekanan selama proses seleksi.

BACA JUGA :  Dari Pesantren ke Pendidikan Tinggi, Santri Pilih UT Salut Kartini Kejar Impian Jadi Sarjana

Momen pengumuman hasil seleksi menjadi salah satu titik balik yang paling berkesan baginya.

Bersaing dengan ratusan peserta membuat pengumuman tersebut terasa menegangkan. Terlebih, ketika melihat rekan-rekan satu sekolahnya di SMA Negeri 1 Rembang yang sama-sama berjuang keras, rasa syukur setelah dinyatakan lolos terasa semakin besar.

Di balik jadwal latihan Paskibraka yang padat, rutinitas kesehariannya tetap diisi dengan berbagai kegiatan produktif.

Selain menjalani kewajiban sebagai pelajar, ia juga disibukkan dengan jadwal les mata pelajaran peminatan serta les piano sebagai bagian dari hobinya di bidang musik.

Untuk menjaga kebugaran tubuh agar tetap siap menjalani pembinaan fisik, ia rutin berolahraga, seperti berenang dan bermain badminton setiap minggu.

Kunci utamanya adalah kedisiplinan, menjaga pola tidur dengan tidak begadang, serta konsisten mengonsumsi makanan bergizi.

BACA JUGA :  UT Wajah Baru, Penerapan Sistem Pembelajaran Teranyar Dimulai Tahun Akademik 2025/2026

Tidak ada hasil yang mengkhianati proses. Untuk mempersiapkan diri menghadapi seleksi, ia menjalani latihan fisik secara mandiri setiap hari, mulai dari lari, push-up, sit-up, hingga back-up.

Selama masa pelatihan, ia dituntut untuk belajar mandiri dan beradaptasi dengan ritme kedisiplinan yang tinggi.

Kebiasaan hidup disiplin yang telah dibangun sejak di pesantren membantunya menghadapi rutinitas tersebut.

Pengalaman menghafal Al-Qur’an juga melatihnya untuk menjaga konsistensi, membagi waktu, dan bertahan menjalani proses yang membutuhkan kesabaran.

Meski sudah terbiasa disiplin, rasa lelah dan jenuh tentu masih kerap menyapa. Ada kalanya tekanan dalam membagi waktu membuat mentalnya sempat turun.

Namun, dukungan dari sahabat dan sang mama selalu menjadi benteng utamanya untuk kembali bangkit.

Sang mama memang memiliki peran yang sangat penting dalam perjalanan tersebut. Sejak awal, ia menyimpan keyakinan kuat bahwa anaknya mampu menjadi bagian dari pasukan inti dan mengemban tugas membawa baki bendera pusaka.

BACA JUGA :  Kunjungan ke Perpustakaan Daerah Meningkat Hampir Tiga Kali Lipat, Fasilitas dan Event Jadi Penarik Utama

Keyakinan sang mama itulah yang membakar semangat Quinsha untuk terus bertahan.

Namun, ketika melangkah ke tingkat provinsi, langkahnya harus terhenti pada tahap penentuan akhir (pantukhir), tepatnya saat sesi wawancara.

Meski dinyatakan belum lolos dalam tahap akhir tersebut, kegagalan itu tidak mematahkan semangatnya.

Bagi Quinsha, Paskibraka bukan sekadar tugas mengibarkan bendera, melainkan simbol perjuangan, kebanggaan, dan cita-cita yang berhasil diwujudkan.

Perjalanan tersebut mengajarkannya bahwa untuk menggapai mimpi yang tinggi, dibutuhkan usaha yang tidak kalah besar.

“Cita-cita yang tinggi memaksa kita mengerahkan usaha yang luar biasa. Bahkan jika tidak mencapai puncak tertinggi, langkah kita sudah jauh melampaui titik awal. Jadi, jangan pernah takut bermimpi!” pesannya saat menutup perbincangan.

Video pilihan: Karavista Musik


Bagikan :
Editor : Alfia Dwi Nastiti