Berita

Kisah Mahasiswa UT Salut Kartini Rembang Muhammad Muqimul Khikam, PPPK yang Tak Pernah Leha-Leha Demi Gelar Sarjana

Kisah Mahasiswa UT Salut Kartini Rembang Muhammad Muqimul Khikam, PPPK yang Tak Pernah Leha-Leha Demi Gelar Sarjana
Bagikan :

Kisah Mahasiswa UT Salut Kartini Rembang Muhammad Muqimul Khikam, PPPK yang Tak Pernah Leha-Leha Demi Gelar Sarjana

Hikam, Mahasiswa UT Salut Kartini Rembang yang Menyeimbangkan Pengabdian dan Pendidikan. (Novi Oktaviani)

REMBANG, utrembang.com – Bekerja bukanlah alasan untuk berhenti belajar demi menggapai impian.

Waktu terus berputar di antara pengabdian dan pendidikan. Langkah berpijak di lapangan dan ruang kelas, berjalan seimbang antara kewajiban dan harapan.

Di balik rutinitas, terukir semangat dan tekad untuk mencapai tujuan. Di sela kerja dan kuliah, Muhammad Muqimul Khikam merajut cita-cita dan mimpi untuk masa depan.

Muhammad Muqimul Khikam, atau yang akrab disapa Hikam, bukan sosok asing dengan kesibukan.

Mahasiswa UT Salut Kartini Rembang Program Studi Ekonomi Pembangunan semester lima ini, setiap Senin hingga Jumat mengabdikan dirinya sebagai PPPK di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Rembang.

Sementara itu, pada Sabtu dan Minggu, waktunya berpindah ke bangku kuliah tatap muka untuk menuntaskan kewajiban akademik sebagai bekal masa depan.

Keputusannya melanjutkan pendidikan tinggi di tengah kesibukan bekerja bukan tanpa alasan.

Sejak lama, ia menyimpan cita-cita sederhana namun bermakna, yakni menjadi pribadi yang sukses dan mampu membanggakan kedua orang tuanya.

Pendidikan dipilih sebagai jalan dengan keyakinan bahwa kecerdasan dan pengetahuan merupakan modal utama untuk mengubah nasib serta memberi makna pada pengabdian.

BACA JUGA :  Peringati HUT ke-80, Peresmian Gedung Baru PMI Rembang Jadi Kado Manis

“Dari dulu saya bercita-cita ingin menjadi orang sukses yang membanggakan kedua orang tua. Oleh karena itu, saya memilih menjadi orang yang cerdas dengan cara menempuh pendidikan tinggi,” ujar Hikam.

Ia memilih Universitas Terbuka karena sistem perkuliahannya yang fleksibel, sehingga memungkinkannya tetap bekerja di lingkungan dinas tanpa meninggalkan kewajiban akademik.

Menjalani dua peran sebagai mahasiswa dan aparatur negara tentu bukan perkara ringan.

Hikam mengaku pengalamannya terasa luar biasa karena fisik dan pikiran harus terbagi untuk menyelesaikan tuntutan pekerjaan dan perkuliahan.

Baginya, membagi fokus antara pekerjaan dan studi menjadi tantangan tersendiri, baik secara fisik maupun mental.

“Pengalaman yang luar biasa tentunya ketika otak dan fisik harus dibagi untuk menyelesaikan keduanya,” kata Hikam.

Ia mengenang masa ketika masih bertugas di lapangan, membersihkan kawasan Alun-Alun Rembang sejak dini hari, bahkan hingga akhir pekan. Seusai bekerja, ia harus langsung mengikuti perkuliahan.

“Subuh harus berangkat kerja, setelah selesai harus berkuliah. Tenaga dan pikiran benar-benar terkuras,” kenangnya.

BACA JUGA :  Kisah Sukses Farel Erfasa Ramadhan, Mahasiswa UT Rembang yang Tempati Jabatan Sekretaris BUMDes

Namun, hal tersebut tidak membuatnya mundur atau menyerah. Kini, ia ditempatkan sebagai tenaga administrasi di kantor.

Tantangan yang dihadapi pun bergeser, dari kerja fisik ke beban pemikiran. Meski demikian, kedua peran tersebut tetap ia jalani dengan disiplin dan tanggung jawab.

Di antara pengabdiannya sebagai aparatur negara dan statusnya sebagai mahasiswa, Hikam tidak pernah merasa harus memilih salah satu. Keduanya dijalani secara beriringan.

Sebagai aparatur negara dan mahasiswa, Hikam memaknai pengabdian sebagai proses berkelanjutan.

Ia menegaskan pentingnya peran generasi terdidik dalam melanjutkan pembangunan dan pelayanan publik.

“Pada akhirnya, mahasiswa harus memegang teguh Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian kepada masyarakat. Kalau bukan kita yang berpendidikan ini yang menggantikan, siapa lagi?” ujarnya lugas.

Ilmu yang diperoleh dari Program Studi Ekonomi Pembangunan turut memengaruhi cara pandangnya terhadap kinerja pemerintahan.

Ia mulai memahami tata kelola pembangunan yang baik serta melihat dinamika ekonomi dengan sudut pandang yang lebih kritis dan terukur.

Meski beberapa pengalaman lapangan terasa relevan dengan teori di kelas, Hikam memilih menjadikannya sebagai refleksi pribadi.

BACA JUGA :  Mahasiswa UT Wajib Tahu, Ini Syarat Menggugurkan SKS Berlebih Jelang Kelulusan

Prinsip hidup yang dipegangnya sederhana namun kuat, yakni disiplin dan bertanggung jawab. Baginya, apa yang dijalani hari ini akan membentuk masa depan seseorang.

“Intinya, kita harus disiplin dan bertanggung jawab terhadap tugas kita. Apa pun yang kita lakukan, nantinya akan menentukan bagaimana kita mengawalinya,” ucapnya.

Dari peran ganda tersebut pula, ia belajar tentang arti pertemuan, berjumpa dengan banyak orang hebat yang sebelumnya tak pernah ia bayangkan.

Menurut Hikam, pendidikan bagi aparatur negara merupakan kebutuhan penting di era saat ini. Hal tersebut bukan semata-mata soal jabatan, melainkan kemampuan mengeksplorasi potensi diri serta melaksanakan tugas secara kompeten dan bertanggung jawab.

Ia pun menyampaikan pesan kepada mahasiswa dan para pekerja yang masih ragu melanjutkan pendidikan.

“Apa pun pekerjaan dan keadaannya, banggalah bisa berkuliah. Pendidikan adalah investasi jangka panjang bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat,” ungkapnya.

Dari seragam kerja hingga kartu mahasiswa, dari lapangan hingga ruang kelas, kisah Hikam menjadi cermin bahwa pengabdian dan pendidikan bukan dua hal yang saling meniadakan, melainkan dua jalan yang saling menguatkan.

Video pilihan: Karavista Musik


Bagikan :
Editor : Alfia Dwi Nastiti