Awas Plagiarisme, Mahasiswa Hukum UT Salut Kartini Soroti Etika Akademik
REMBANG, utrembang.com – Fenomena plagiarisme dalam mengerjakan tugas kuliah, khususnya TUTON (Tugas Online) untuk diskusi atau tugas 1–3, semakin marak di kalangan mahasiswa Universitas Terbuka (UT).
Hal tersebut terjadi karena banyak mahasiswa yang menyalin jawaban dari internet atau teman tanpa mencantumkan sumber.
Dari sudut pandang mahasiswa baru, seperti yang diungkapkan Ikhyansya Al Barca, mahasiswa semester 2 Program Studi Hukum UT Salut Kartini Rembang.
Menurutnya, fenomena tersebut didorong oleh keinginan menyelesaikan tugas dengan cepat tanpa repot, sekaligus rendahnya kesadaran terhadap etika akademik di era digital.
Ia menambahkan bahwa, dari perspektif mahasiswa baru, plagiarisme kerap terjadi akibat tekanan waktu dan kemalasan.
Ikhyansya menjelaskan bahwa pendorong utama mahasiswa melakukan plagiarisme adalah keinginan mempercepat pengerjaan tugas, terutama bagi mahasiswa UT yang kuliah sambil bekerja dengan waktu istirahat minim.
“Mungkin yang mendorong mahasiswa melakukan plagiarisme itu karena ingin mempercepat pengerjaan tugas. Sebagian besar mahasiswa UT berkuliah sambil bekerja dengan waktu istirahat yang minim. Setelah lelah, mereka ingin cepat menyelesaikan tugas dan diskusi TUTON, bahkan dengan plagiasi. Mereka memparafrase kalimat dari AI lalu mengklaimnya sebagai tugas sendiri,” tutur Ikhyansya.
Ia juga menegaskan bahwa berbagi jawaban secara langsung termasuk tindakan curang, kecuali jika dilakukan dalam bentuk diskusi bersama untuk mencari jawaban berdasarkan materi.
“Kalau berbagi jawaban secara langsung masuk kategori curang, kecuali berdiskusi untuk mencari jawaban bersama dengan membaca materi, bukan sekadar menjiplak,” jelasnya.
Untuk menghindari risiko tersebut, Ikhyansya memilih berdiskusi secara mandiri, meskipun tantangan utamanya terletak pada manajemen waktu di tengah kesibukan kuliah daring.
“Tantangan yang saya hadapi adalah manajemen waktu karena TUTON memiliki tenggat yang ketat. Namun, hal itu bisa diatasi dengan membuat jadwal belajar yang terstruktur,” paparnya.
Ia mengakui bahwa kondisi tersebut sedikit memengaruhi produktivitas, tetapi manfaat utama belajar secara jujur adalah memperoleh pemahaman materi yang lebih mendalam serta terhindar dari sanksi akademik.
Ikhyansya menilai bahwa di era digital, mahasiswa perlu belajar menghargai integritas akademik agar tidak tertinggal dalam persaingan.
“Selain menghindari sanksi, belajar dengan jujur membuat saya lebih memahami materi dibandingkan mereka yang menjiplak tanpa memahami risikonya,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa mahasiswa juga perlu membangun jaringan belajar yang etis dengan memanfaatkan forum diskusi sebagai sarana bertukar pengetahuan, bukan sekadar berbagi jawaban siap pakai.
“Di era digital ini, kita belajar menciptakan jaringan belajar yang etis dengan memanfaatkan forum sebagai referensi diskusi bersama,” lanjutnya.
Dengan kondisi tersebut, mahasiswa UT diharapkan semakin sadar akan pentingnya etika akademik, meskipun tekanan tugas terus berlanjut.
Sementara itu, mahasiswa Program Studi Hukum UT lainnya, Monica Nuzuluma Syahra, memaparkan sikapnya terhadap budaya “saling berbagi jawaban” di TUTON yang kerap dianggap sebagai kerja sama, tetapi sejatinya merupakan plagiarisme terselubung.
Ia menyebutkan bahwa sebagian mahasiswa sebenarnya memahami tindakan tersebut sebagai plagiarisme, namun tetap melakukannya demi mengejar penyelesaian tugas.
Menurut Monica, konsekuensi plagiarisme tergolong berat, baik secara akademik maupun hukum, meskipun kerap diabaikan mahasiswa.
“Konsekuensi paling ringan adalah nilai nol, sedangkan yang paling berat bisa dikeluarkan dari kampus. Namun, di lingkungan saya sendiri, teman-teman masih rajin sehingga saya tidak melihat adanya plagiarisme,” ujarnya.
Ia juga mengakui bahwa edukasi anti-plagiarisme dari pihak universitas masih perlu ditingkatkan agar mahasiswa baru tidak keliru membedakan antara kerja sama dan plagiarisme.
Pengalaman Ikhyansya dan Monica dinilai dapat menjadi pembelajaran bagi mahasiswa lain untuk lebih mengedepankan kejujuran akademik.
“Pengalaman saya cukup baik karena saya belajar mencari jawaban sendiri, bukan menyalin dari sumber lain,” tambah Monica.
Hal tersebut mendorong mahasiswa baru untuk menghindari plagiarisme, terutama di era digital yang memberikan kemudahan akses informasi sekaligus risiko penjiplakan yang tinggi.
Video pilihan: Karavista Musik