Berita

Merawat Warisan Resep Nenek Moyang, Umi Salamah Populerkan Jamu untuk Generasi Muda

Merawat Warisan Resep Nenek Moyang, Umi Salamah Populerkan Jamu untuk Generasi Muda
Bagikan :

8463b96e-1eab-4fd5-82a1-e584e94b021d

Umi Salamah alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) yang berdayakan petani lokal Rembang melalui “Akar Jawi”. (Bagus Yusril)

REMBANG, utrembang.com – “Jamu itu bukan cuma tentang ramuan sehat, tapi soal bagaimana kita menjaga warisan nenek moyang,” kata Umi Salamah.

Prinsip itulah yang mendorong Umi untuk meracik kembali bahan-bahan herbal tradisional menjadi sajian yang lebih relevan, segar, dan ramah di lidah generasi muda.

Perpaduan resep warisan sang mertua dan bekal ilmu farmasi yang pernah ditimbanya di Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi fondasi bagi Umi dalam mengembangkan usaha jamu.

Dari tangannya, racikan jamu klasik bertransformasi menjadi minuman dengan cita rasa kekinian yang berusaha mendekatkan jamu dengan selera generasi muda.

Jauh sebelum menekuni usaha jamu, Umi telah lebih dahulu mencoba mengembangkan produk berbahan alami. Pengalamannya mengatasi kulit sensitif mendorong Umi meracik masker wajah sendiri ketika berada di Yogyakarta pada 2006.

Dengan latar belakang ilmu farmasi, ia mulai membuat masker berbahan alami yang memanfaatkan bahan-bahan dari lingkungan sekitar.

“Dulu awalnya sebelum buat jamu, saya malah bikin masker kulit dulu. Karena terkendala izin yang mahal dan perizinan, jadi memutuskan untuk berhenti saja dulu,” ungkap Umi.

Pada 2013, usaha yang telah dirintisnya selama hampir tujuh tahun itu harus terhenti karena persoalan perizinan dan regulasi. Keterbatasan modal membuat Umi belum mampu memenuhi berbagai persyaratan yang diperlukan untuk mengembangkan produk masker tersebut.

BACA JUGA :  Inovasi KUPASTI untuk Tekan Stunting, Hantarkan Desa Gambiran Wakili Rembang ke Tingkat Jawa Tengah

Kegagalan itu sempat menghentikan langkahnya. Namun, dukungan keluarga, terutama sang mertua yang kebetulan merupakan pengusaha jamu, mendorong Umi untuk mencoba jalan lain.

“Ndok, mbok jualan sana, jualan jamu saja. Eman ilmumu dulu pas kuliah, enggak buat buka usaha jamu,” tutur Umi sembari menirukan gaya bicara sang mertua.

Dorongan tersebut menjadi titik balik. Pada 2013, Umi mulai merintis usaha jamu dari rumahnya di Desa Sidorejo, Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang.

Awalnya, ia hanya menjual jamu tradisional kepada masyarakat di sekitar tempat tinggalnya. Dari pelanggan yang datang secara bertahap, usaha tersebut kemudian berkembang dan mulai memiliki pelanggan tetap.

Namun, pandemi Covid-19 yang melanda pada 2020 turut memengaruhi penjualan. Kondisi tersebut memaksa Umi kembali memutar otak untuk mencari bentuk produk yang lebih praktis, mudah dibawa, dan dapat dipasarkan secara lebih luas.

“Waktu pandemi Covid-19 itu usaha saya sempat mengalami penurunan. Namun, di situlah ide untuk kristalisasi jamu itu muncul,” terang Umi dengan penuh semangat.

Alih-alih berhenti, situasi tersebut justru menjadi momentum bagi Umi untuk berinovasi. Ia mulai mengembangkan jamu serbuk instan dengan cita rasa yang lebih mudah diterima berbagai kalangan.

b9a2cfdb-c504-479d-8fae-c7e74ff74894

Produk UMKM Akar Jawi asal Desa Sidorejo, Pamotan mendunia hingga Malaysia. (Bagus Yusril)

Dari sinilah usaha jamu instan yang kemudian dikenal dengan nama Akar Jawi mulai berkembang. Produk tersebut secara perlahan memperluas jangkauan pemasarannya, tidak hanya di Rembang, tetapi juga ke sejumlah daerah di Indonesia.

BACA JUGA :  Revolusi Pendidikan Terbuka, UT Permudah Pendaftaran Mahasiswa Baru Lewat Salut Kartini Rembang

“Untuk pemasaran saat ini, kita sudah pasarkan mulai dari Yogyakarta, Jambi, Jabodetabek, dan ada yang sempat dibawa ke Malaysia juga sama reseller saya,” jelas Umi.

Menariknya, sebagian besar bahan baku yang digunakan Umi berasal dari petani lokal di wilayah Pancur, Banyuurip, dan Gambiran, Kabupaten Rembang. Bahan-bahan tersebut kemudian diolah sendiri untuk menghasilkan berbagai produk jamu.

Perjalanan mengembangkan jamu berbahan lokal tersebut juga membuahkan penghargaan. Pada 2021, Umi berhasil meraih juara pertama dalam ajang inovasi UMKM yang diselenggarakan oleh Semen Gresik/Semen Indonesia Group (SIG).

“Pada tahun 2021, saya menang juara pertama UMKM Kokoh dari Semen Gresik Rembang, SIG,” sebutnya.

Kini, Umi telah menghasilkan sejumlah produk jamu, di antaranya temulawak, jahe, jahe sereh, kunyit, kunyit instan, kunyit putih, rapat maja, wejah, serta KunJaeSer atau kunyit, jahe, dan sereh.

Sebagian resep dikembangkan sendiri, sementara sebagian lainnya lahir dari permintaan pelanggan.

BACA JUGA :  Setelah Vakum Empat Tahun, Rembang Wedding Expo 2026 Kembali Digelar

“Kalau proses R&D sih saya lakukan sendiri. Kadang malah tanpa R&D, jadi cuma by request saja. Kemudian kalau cocok dan banyak yang minat, bisa jadi produk baru,” ungkapnya sambil tertawa ringan.

Produk jamu Umi kini telah dipasarkan ke berbagai kota melalui reseller, baik secara luring maupun daring. Ke depan, ia juga berencana menghidupkan kembali usaha masker alami yang pernah dirintisnya, kali ini dengan produksi yang lebih terarah dan memenuhi persyaratan serta perizinan yang berlaku.

Di tengah perkembangan minuman kekinian, Umi menyadari bahwa tantangan lain justru datang dari selera konsumen muda. Ia berusaha menciptakan cita rasa jamu yang tetap mempertahankan karakter bahan herbal, tetapi lebih nyaman dikonsumsi generasi muda.

“Jamu itu kan identik dengan rasa pahit dan puket gitu. Nah, ini saya coba racik biar bisa enak dan mudah diterima lidah, apalagi buat anak muda sekarang yang banyak minum-minuman kekinian itu,” imbuh Umi.

Perjalanan Umi Salamah menunjukkan bahwa warisan tradisional dapat terus bertahan ketika mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

Di balik segelas jamu instan Akar Jawi, ada kisah tentang ketangguhan melawan badai kegagalan, keberanian berinovasi, serta komitmen mulia untuk memberdayakan petani lokal.

Di tangan Umi, jamu tak lagi dipandang sebagai obat pahit, melainkan simbol gaya hidup sehat dalam bentuk yang lebih praktis dan cita rasa yang lebih dekat dengan selera generasi muda, tanpa sepenuhnya meninggalkan akar tradisinya.

Video pilihan: Karavista Musik


Bagikan :
Editor : Alfia Dwi Nastiti