Bangun SDM Unggul dari Ruang Kelas Menuju Rembang yang Lebih Maju
Oleh: Aditiya Rohmaul Huda *)
OPINI, utrembang.com – Rembang bukanlah daerah yang kekurangan potensi. Berada di pesisir Pulau Jawa, kabupaten ini kaya akan sumber daya alam (SDA), mulai dari sektor perikanan tangkap, garam tambak, hingga sektor wisata pesisir yang belum sepenuhnya tergarap. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), sektor agraria dan kemaritiman masih menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat di Kabupaten Rembang. Namun, di balik sumber kekayaan alam yang melimpah, Kota Garam ini masih memiliki persoalan fundamental yang kerap luput dari perhatian, yaitu sumber daya manusia (SDM) yang belum optimal.
Hal ini tercermin dari beberapa indikator. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kabupaten Rembang masih berada pada kisaran angka 70-an (kategori sedang). Angka tersebut masih tergolong rendah apabila dibandingkan dengan rata-rata IPM Provinsi Jawa Tengah maupun nasional. Selain itu, persoalan yang belum juga teratasi adalah rata-rata lama sekolah yang masih di bawah sembilan tahun. Hal ini menandakan bahwa sebagian masyarakat di Kabupaten Rembang belum menyelesaikan pendidikan menengah secara utuh.
Masalah ini bukan semata-mata disebabkan oleh menurunnya kemampuan masyarakat, melainkan karena akses terhadap pendidikan, bahan bacaan, dan pelatihan keterampilan yang belum merata di Kabupaten Rembang. Menurut data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), kesenjangan literasi antara wilayah perkotaan dan perdesaan masih cukup tinggi.
Akibatnya, banyak potensi yang belum berkembang secara optimal, bahkan tidak berkembang sama sekali. Tidak sedikit generasi muda yang berbondong-bondong mengadu nasib di kota-kota metropolitan seperti Jakarta, Semarang, Bekasi, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya. Banyak pula generasi muda yang merantau ke luar negeri sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI), seperti ke Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Arab Saudi, hingga Australia.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa upaya peningkatan kualitas pendidikan dan pembangunan daerah masih perlu diperkuat agar mampu menjamin kesejahteraan masyarakat, baik dari aspek pendidikan, kesehatan, maupun lapangan pekerjaan. Oleh karena itu, seluruh masyarakat, khususnya pelajar, harus menjadi agen perubahan bagi Kabupaten Rembang. Langkah yang dilakukan pelajar saat ini sangat menentukan kualitas SDM Rembang pada masa depan.
Adapun langkah-langkah yang dapat ditempuh para pelajar untuk meningkatkan kualitas SDM yang unggul di Kabupaten Rembang. Pertama, pelajar dapat berperan sebagai agen literasi. Persoalan literasi masih menjadi tantangan serius di Indonesia, umumnya, dan di Kabupaten Rembang, khususnya. Maestro sastra Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, pernah berkata, “Bangsa yang rendah dalam literasi akan selalu rendah dalam peradaban.” Berdasarkan data yang dirilis oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), pelajar memiliki peran krusial dalam meningkatkan minat baca di Indonesia. Adapun langkah-langkah kecil yang dapat dilakukan pelajar, antara lain:
- Pelajar membangun budaya membaca di lingkungan sekolah.
- Membentuk komunitas literasi.
- Menggalakkan gerakan berbagi buku di desa masing-masing.
Bukan hanya itu, pelajar juga harus menjadi penggerak dan ikut andil dalam berbagai komunitas literasi di Kabupaten Rembang. Saat ini, banyak komunitas literasi yang kerap mengadakan bedah buku, diskusi publik, hingga lokakarya kepenulisan, seperti Komunitas Literasi Lubuk Ilmu, Taman Baca Salemba, Daily Sastra, dan masih banyak komunitas literasi lainnya di Kabupaten Rembang. Dengan budaya literasi yang kuat, kualitas SDM dapat meningkat secara bertahap dan berkelanjutan.
Kedua, pelajar berperan sebagai calon inovator. Pelajar harus menjadi inovator bagi masyarakat. Menurut data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop UKM), Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berkontribusi lebih dari 60 persen terhadap perekonomian nasional. Hal ini menjadi peluang besar bagi pelajar untuk mulai mengenal dunia kewirausahaan sejak dini. Meskipun masih berstatus sebagai pelajar, mereka perlu mempelajari potensi sumber daya alam, kreativitas, dan kewirausahaan. Dengan bekal kemampuan kewirausahaan yang baik, pelajar dapat menjadi agen promosi berbagai produk lokal Rembang, baik berupa makanan maupun kerajinan, seperti Batik Lasem, Lontong Tuyuhan, Sirup Kawista, Dumbek, Petis Rembang, dan berbagai produk khas lainnya. Selain itu, pelajar juga dapat mempromosikan komoditas unggulan Rembang, baik dari sektor pertanian maupun perikanan.
Ketiga, pelajar dapat menjadi penggerak lingkungan sosial. Pelajar harus menjadi penyemangat dalam setiap kegiatan sosial kemasyarakatan. Melalui organisasi, seperti OSIS, kegiatan ekstrakurikuler, maupun komunitas belajar, pelajar dapat berkontribusi dalam berbagai kegiatan sosial, baik di bidang keagamaan maupun kebangsaan. Kontribusi tersebut dapat dilakukan di tingkat desa, kecamatan, kabupaten, hingga tingkat nasional bahkan internasional. Dari berbagai keterlibatan tersebut, pelajar belajar bahwa peningkatan kualitas SDM harus dimulai dari diri mereka sendiri. Pelajar juga dapat berkontribusi dan berkolaborasi secara langsung melalui Ikatan Mas Mbak Rembang (IMMR).
Keempat, pelajar berperan sebagai generasi yang melek digital. Di era globalisasi dan transformasi informasi yang berlangsung begitu pesat, pelajar perlu mempelajari perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI). Bayangkan apabila generasi muda Indonesia mampu mengembangkan teknologi sebagaimana negara-negara seperti Tiongkok, Amerika Serikat, India, dan Singapura. Kondisi tersebut tentu akan memberikan banyak manfaat bagi bangsa. Anggaran negara tidak perlu terlalu bergantung pada impor berbagai produk teknologi dari luar negeri. Lebih dari itu, apabila Indonesia mampu menciptakan produk teknologi sendiri, peluang untuk meningkatkan nilai ekspor dan pendapatan negara juga akan semakin besar.
Namun demikian, peran pelajar tetap membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, mulai dari guru, sekolah, masyarakat, hingga pemerintah daerah. Berbicara mengenai peningkatan mutu SDM memang tidaklah sederhana karena akar permasalahannya sangat kompleks. Diperlukan kerja sama secara kolektif, baik dari pemerintah maupun masyarakat. Pelajar dan guru perlu menyadari bahwa pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada nilai akademik, tetapi juga harus mampu mendorong kreativitas, keterampilan, serta kepedulian sosial.
Pada akhirnya, masa depan Rembang tidak hanya ditentukan oleh besarnya potensi yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat dalam mengelola dan melestarikannya. Peningkatan mutu SDM harus terus dikampanyekan, diwujudkan, dan diperkuat. Percuma apabila sumber daya alam (SDA) yang dimiliki melimpah, tetapi kualitas sumber daya manusia (SDM) masih rendah. Pada akhirnya, kita tidak akan mampu mengelola potensi tersebut secara mandiri dan akan terus bergantung pada tenaga kerja maupun keahlian dari luar.
“Bila kaum muda terpelajar enggan melebur dengan masyarakat dan melakukan kerja-kerja konkret, maka sebaiknya pendidikan itu dihapuskan saja.”
— Tan Malaka
*) Siswa MAN 2 Rembang, juara ketiga lomba menulis artikel HUT UT Salut Kartini Rembang Tahun 2026
Daftar Pustaka:
Badan Pusat Statistika (2023). Kabupaten Rembang dalam angka 2023. Rembang: BPS Kaupaten Rembang
Badan Pusat Statitika (2023). Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten/Kota di Jawa Tengah 2022-2023. Jakarta: BPS.
Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. (2022). Indeks Aktivitas Literasi Membaca Nasional. Jakarta: Kemendikbudristek.
Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. (2023). Status Literasi Digital Indonesia 2022. Jakarta: Kominfo.
Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia. (2023).
Pembangunan Data Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dan Kontribusinya Terhadap PDB Nasional. Jakarta: Kemenkop UKM.
UNESCO. (2021). Literacy Trends an Challengs in Indonesia. Paris: UNES
Video pilihan: Karavista Musik