Opini

Gema Tradisi Kentungan Tergusur Dentuman Modernisasi

Gema Tradisi Kentungan Tergusur Dentuman Modernisasi
Bagikan :

Gema Tradisi Kentungan Tergusur Dentuman Modernisasi

Bagus Yusril

Oleh: Bagus Yusril *)

OPINI, utrembang.com – Dahulu, fajar di bulan Ramadan selalu menyapa dengan ketukan kayu yang ritmis dan sahutan vokal pemuda desa yang akrab di telinga, sebuah harmoni yang memicu kerinduan untuk segera kembali ke bulan suci berikutnya.

Ada kehangatan dalam setiap bunyi kentungan yang memadukan bambu dan kayu, sebuah tradisi membangunkan sahur yang penuh adab.

Namun kini, keheningan dini hari tak lagi dipecah oleh harmoni bambu, melainkan oleh invasi bising pengeras suara bermusik digital yang menggetarkan kaca jendela dan dada.

Kita dipaksa terjaga bukan oleh sapaan hangat, melainkan oleh suasana “diskotik berjalan” yang kita kenal sebagai sound horeg.

Lebih dari Sekadar Rutinitas Ramadan

Kentungan adalah simbol kesederhanaan, kebersamaan, dan ketulusan warga dalam menjaga harmoni saat Ramadan tiba.

Tanpa tuntutan upah maupun paksaan, tradisi ini dirawat dengan hati yang ceria dan semangat kekeluargaan yang kental.

BACA JUGA :  Mitos dan Fakta UT Salut Kartini Rembang

Keunikan irama yang tercipta dari setiap ketukannya pun bukan lahir dari latihan profesional bertahun-tahun, melainkan dari keterikatan rasa yang selaras.

Inilah melodi persaudaraan yang muncul secara alami ketika langkah kaki dan niat bergerak dalam satu irama dengan tujuan yang sama.

Invasi Dunia Modern Merusak Kesederhanaan

Namun, alunan nada syahdu yang dulu memicu kerinduan kini mulai tergusur dengan datangnya era modern yang membawa banyak kebisingan di telinga dan menggetarkan dada siapa saja yang mendengarkannya.

Lantunan musik Jawa yang dulu kerap kali dinyanyikan saat sahur tiba kini bergeser menjadi suara musik digital dengan nada keras seolah memaksa membuat kehilangan esensi spiritual ibadah puasa dan ketenangan warga yang sedang beristirahat.

Pergeseran Karakter (Dari Kebersamaan ke Eksistensi Ego)

Kentungan sejatinya berfokus pada membangunkan orang untuk sahur tanpa mengusik ketenangan, sementara sound horeg sering kali berfokus pada ajang adu gengsi untuk pamer kekuatan bunyi antar pemilik sewa sound.

BACA JUGA :  MAPABA-V PMII Sultan Mahmud Salut Kartini: Membentuk Intelektualitas dan Jaringan bagi Mahasiswa Baru

Hal ini memicu pergeseran sosial budaya pada masyarakat. Dulu warga saling menyapa saat rombongan lewat, kini warga hanya bisa menutup telinga karena suara musik yang terlalu kencang hingga memekakkan telinga pendengarnya.

Dilema Modernitas yang Salah Kaprah

Meskipun dianggap sebagai produk perkembangan zaman, sound horeg justru kerap kali menjadi ancaman bagi kelestarian tradisi.

Alih-alih merawat nilai lama, ia sering kali datang sebagai perusak ketenangan.

Tidak sedikit warga yang mengeluhkan pola perubahan tradisi ini. Getaran berlebih pada dini hari ini menyebabkan ancaman kesehatan bagi balita dan lansia.

Etika sahur yang dulu syahdu kini terkoyak oleh dentuman bising tak beraturan.

Solusi dari Perubahan Tradisi

Pemerintah harus memberikan regulasi khusus terkait pentingnya pembatasan desibel dan jam operasional penggunaan pengeras suara (sound horeg) di pemukiman warga agar lebih tertib.

Atau mungkin bisa dengan mengajak para generasi muda untuk mengemas kembali kentongan dengan cara modern secara proporsional.

BACA JUGA :  Belajar dari Praktisi, Peserta Bimtek Dinarpus Rembang Masuk Babak Baru Teknik Penulisan Artikel

Tujuannya untuk menciptakan inovasi budaya di mana sound system digunakan untuk mempertegas keindahan ritme nada, bukan sekadar menghasilkan kebisingan yang mengusik kenyamanan.

Memulihkan Kembali Tradisi yang Hampir Punah

Tidak ada salahnya menggunakan alat pengeras suara, namun bila dibiarkan tanpa batas, identitas budaya sahur kita yang ramah akan punah.

Karena hilangnya budaya komunal yang hangat para warga saat bersahutan saling membangunkan sahur bersama.

Mari kita kembalikan Ramadan sebagai ruang yang tenang dan penuh penghormatan terhadap sesama.

Sebuah harapan besar agar kelak, bunyi ketukan bambu yang jujur lebih dihargai daripada dentuman speaker keras yang merusak keakraban.

Sebab, sahur bukan tentang seberapa kencang kita berteriak, melainkan tentang seberapa hangat kita saling membangunkan dalam harmoni.

*) Mahasiswa Semester 4 Ilmu Komunikasi, UT Salut Kartini Rembang

Video pilihan: Karavista Musik


Bagikan :
Editor : Alfia Dwi Nastiti