Museum Islam Nusantara Lasem, Ruang Sunyi yang Menjaga Jejak Islam Pesisir

Museum Islam Nusantara simpan jejak tokoh dan sejarah Islam di pesisir Jawa. (Putri Ulya Najwa Robbaniya)
REMBANG, utrembang.com – Di kawasan Masjid Jami’ Lasem berdiri sebuah bangunan yang gagah nan kokoh, yakni Museum Islam Nusantara. Bangunan menyimpan jejak perjalanan Islam di pesisir utara Jawa.
Berbagai koleksi seperti manuskrip kuno dan artefak perdagangan menunjukkan peran Lasem sebagai jalur penting penyebaran Islam di Nusantara.
Melalui museum ini, sejarah Islam di pesisir terus dirawat dan diperkenalkan kepada generasi masa kini.
Memasuki area museum, pengunjung akan terlebih dahulu melihat bangunan yang berdiri di kompleks Masjid Jami’ Lasem ini.
Dari luar, arsitekturnya tampak menarik karena memadukan unsur rumah adat Minangkabau dengan sentuhan arsitektur Jawa.
Perpaduan tersebut mencerminkan keragaman budaya yang sejak lama berkembang di Lasem sebagai kota pesisir.
Saat melangkah ke dalam museum, suasana tenang langsung terasa.
Di sebelah kiri terdapat jendela-jendela yang menjulang setinggi dua meter. Mereka seolah menjadi gerbang bagi cahaya dan hembusan angin.
Sedangkan di sebelah kanan terdapat sekat-sekat ruangan yang dipenuhi berbagai koleksi yang berkaitan dengan sejarah perkembangan Islam di Nusantara.
Di beberapa bagian, pengunjung dapat melihat manuskrip kuno, artefak sejarah, serta benda-benda yang berkaitan dengan aktivitas perdagangan pada masa lalu.
Lebih jauh ke dalam, lalu naik ke lantai 2, perhatian pengunjung akan tertuju pada koleksi kaligrafi Al-Qur’an yang dipahat pada kayu jati.
Karya tersebut dirancang untuk memuat ayat-ayat Al-Qur’an hingga 30 juz. Proses pembuatannya membutuhkan ketelitian tinggi karena setiap huruf dipahat secara detail pada permukaan kayu.
“Museum ini dibuat untuk mengenalkan kembali sejarah Islam di Nusantara, khususnya yang berkaitan dengan Lasem,” ujar seorang penjaga museum.
Selain artefak tersebut, museum ini juga menampilkan informasi mengenai tokoh-tokoh penting dalam sejarah Islam Nusantara.
Dokumentasi yang dipajang menjelaskan bagaimana peran ulama dan para saudagar dalam menyebarkan ajaran Islam, terutama melalui jalur perdagangan di wilayah pesisir.
“Banyak pengunjung yang baru mengetahui bahwa Lasem dulu menjadi jalur penting perdagangan sekaligus penyebaran Islam di pesisir Jawa,” tambah penjaga museum tersebut.
Museum Islam Nusantara di Lasem tidak sekadar menjadi tempat penyimpanan benda bersejarah. Melalui koleksi yang tersusun di setiap ruangnya, museum ini merekam perjalanan panjang penyebaran Islam di wilayah pesisir Nusantara.
Keberadaannya menjadi pengingat bahwa sejarah tidak hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk dipelajari dan dijaga agar tetap hidup dalam ingatan generasi mendatang.
Di ruang yang menyimpan jejak panjang perjalanan Islam di pesisir ini, Museum Nusantara Sejarah Islam Lasem terus merawat kisah masa lalu melalui benda-benda yang tersusun tenang di setiap sudutnya.
Setiap koleksi seakan menjadi saksi bisu tentang dakwah, perdagangan, dan pertemuan budaya yang pernah hidup di kota pesisir ini.
Museum ini dinilai tidak hanya sebagai tempat menyimpan benda bersejarah, tetapi juga sebagai sarana edukasi bagi masyarakat untuk memahami perjalanan Islam di daerah pesisir Rembang, terkhusus wilayah Lasem.
Melalui koleksi dan cerita sejarah yang ditampilkan, museum ini menjadi bagian dari wisata sejarah yang memberi pengalaman belajar langsung bagi pengunjung, khususnya generasi muda.
Kepala Perpustakaan Masjid Jami’ Lasem sekaligus salah satu perintis berdirinya museum ini, Abdullah Hamid, menilai kunjungan ke museum juga dapat mendorong tumbuhnya kecintaan terhadap sejarah daerah.
Ia berharap sekolah, komunitas, hingga lembaga pendidikan dapat menjadikan museum sebagai tujuan kunjungan belajar.
Selain menambah pengetahuan, meningkatnya kunjungan masyarakat juga dinilai dapat membawa dampak positif bagi kehidupan sosial dan ekonomi warga di Lasem.
Namun, di tengah arus zaman yang terus bergerak, muncul satu pertanyaan yang menggantung di antara dinding-dinding museum—apakah tempat ini akan terus dikenal dan dikunjungi, khususnya oleh masyarakat Lasem, ataukah perlahan akan menjadi ruang sunyi yang hanya menyimpan cerita tanpa pendengar?
Video pilihan: Karavista Musik