Berita

Arya Sang Dalang Muda Rembang, Penjaga Nadi Wayang Kulit

Arya Sang Dalang Muda Rembang, Penjaga Nadi Wayang Kulit
Bagikan :

Arya Sang Dalang Muda Rembang, Penjaga Nadi Wayang Kulit

Arya Putra Widyastama, Mahasiswa UT yang lestarikan kebudayaan Jawa. (Bagus Yusril)

REMBANG, utrembang.com – Di malam hari yang riuh di tengah pementasan wayang kulit, terdengar suara tangisan tersedu-sedu seorang anak kecil.

Bukan karena takut pada karakter wayang yang menakutkan, melainkan karena ia sangat menginginkan sebuah wayang kertas yang dijual para pedagang kaki lima.

Bocah itu ialah Arya Putra Widyastama, mahasiswa semester 6 Program Studi Ilmu Hukum UT Salut Kartini Rembang.

Kini Arya telah tumbuh menjadi sosok pemuda yang lincah memainkan wayang di balik panggung kain putih bernama kelir.

Lahir di Rembang pada 25 Mei 2005, Arya bukanlah remaja biasa yang hanya menghabiskan waktunya dengan bermain gawai seperti remaja seusianya.

Sejak kelas 1 SD, lelaki berbadan gempal tersebut sudah mencicipi dinginnya angin malam di Taman Kartini untuk pementasan pertamanya.

Baginya, wayang adalah cinta pertamanya yang bermula dari ajakan sang ayah untuk menonton pertunjukan di Ngujung, Bojonegoro, saat ia masih TK.

BACA JUGA :  UT Salut Kartini dalam Angka: 2.608 Mahasiswa Aktif, Prodi Manajemen Paling Diminati

“Orang tua saya sangat mendukung hobi saya ini sejak kecil,” tuturnya dengan nada syukur.

Namun baginya, keahlian yang ia miliki saat ini bukan hasil kerja kerasnya sendiri.

Dengan terang, ia menyebutkan satu per satu sosok yang mendukung dan membentuk karakternya saat ini.

Awal perjalanannya dimulai dari Sanggar Seni Turus Gede di bawah bimbingan almarhum Bapak Subekti dan putranya, Mas Danang.

Kemudian dari situ, ia terus menimba ilmu kepada Bapak Rustamaji (Lasem), lalu berlanjut pada masa SMA bersama Pak Didik Suryono.

Kini, ia masih aktif mengasah kemampuannya di sanggar milik Bapak Sigid Arianto, bergabung dengan kawan-kawan dalam Paguyuban Dalang Muda Rembang.

“Wayang itu sangat menarik untuk dipelajari, selalu ada hal baru,” ujarnya.

Baginya, mencantumkan nama para guru dalam setiap proses perjalanannya adalah cara sederhana untuk menghargai jasa besar yang telah mereka wariskan kepadanya.

Meski dikenal berprestasi, lelaki bertubuh gempal nan cerdas tersebut tetaplah pemuda yang rendah hati dan juga memiliki sisi jenaka.

BACA JUGA :  OSMB Tuntas, Begini Tanggapan Para Mahasiswa UT Salut Kartini Rembang

Ia tertawa saat menceritakan pengalaman tak terlupakannya di atas panggung.

Siapa sangka, seorang dalang yang sudah bertahun-tahun berpentas di berbagai panggung juga pernah mengalami momen nge-blank.

“Terkadang suka lupa adegannya apa, dialognya apa, bahkan yang paling kocak itu salah ambil tokoh wayang,” ceritanya sambil terkekeh.

Namun, ketegangan itu seketika sirna saat ia melakukan sabetan (perang wayang) dan penonton memberikan tepuk tangan.

Baginya, itulah bahan bakar semangat yang tak ternilai harganya.

Rupanya, keberanian Arya di panggung terinspirasi dari tokoh idolanya, Raden Werkudara (Bima).

Ia mengagumi sosok Werkudara yang jujur tanpa basa-basi, berani membela kebenaran, dan teguh pada janji.

“Werkudara mengajarkan ketabahan dan kerja keras, tetapi punya hati yang lembut di balik penampilannya yang tegas,” imbuhnya.

Sifat itulah yang coba ia terapkan dalam kesehariannya sebagai mahasiswa sekaligus wirausaha.

Saat ditanya mengenai masa depan, Arya optimistis. Ia melihat pewayangan terus berevolusi.

BACA JUGA :  Tiga Skema Ujian UT, Mahasiswa Diimbau Jauhi Sistem SKS

Dari kisah Mahabharata klasik hingga munculnya Wayang Caraka yang mengisahkan kisah nabi, bahkan Wayang Kiai yang menceritakan sosok KH Hasyim Asy’ari.

“Dunia pewayangan terus berkembang mengikuti zaman, asal tidak keluar dari pakemnya,” tegas Arya.

Meskipun ia bertalenta besar dalam bidangnya, Arya secara jujur mengungkapkan bahwa mendalang tetap ia tempatkan sebagai hobi semata, bukan sebuah profesi utama.

Pilihan ini justru membuat setiap pementasannya terasa tulus tanpa beban komersial.

Arya berpesan kepada generasi selanjutnya dan seusianya. Ia mengajak anak muda Rembang untuk tidak malu belajar budayanya sendiri, salah satunya di Sanggar Taman Budaya, Sambongan, Kecamatan Sulang.

“Buat teman-teman, ayolah kita lestarikan budaya kita sendiri. Kalau bukan kita, terus siapa lagi?” pungkasnya.

Selama napas anak muda masih berkontribusi bersama tradisi, kebudayaan Jawa tidak akan pernah menemui titik henti.

Melestarikannya hari ini adalah cara kita memastikan sejarah tetap punya tempat hingga anak cucu kita kelak di masa depan.

Video pilihan: Karavista Musik


Bagikan :
Editor : Alfia Dwi Nastiti