Berita

Hangatnya Nostalgia dalam Sepiring Lontong Tuyuhan

Hangatnya Nostalgia dalam Sepiring Lontong Tuyuhan
Bagikan :

Hangatnya Nostalgia dalam Sepiring Lontong Tuyuhan

Kuliner khas Rembang, Lontong Tuyuhan berikan rasa nostalgia bersama keluarga. (Bagus Yusril)

REMBANG, utrembang.com – Hujan rintik di Alun-Alun Rembang malam itu membawa saya pada sebuah aroma rasa yang tak terduga.

Di tengah upaya mencari makan malam, aroma bumbu lekat khas hari raya mendadak menyapa indra penciuman, memicu nostalgia akan hangatnya suasana Lebaran.

Itulah pesona Lontong Tuyuhan, sajian ikonik dengan kuah opor hangat dan ayam kampung empuk yang dimasak dalam balutan kari santan lezat, siap menghangatkan siapa saja yang menyantapnya.

Lontong Tuyuhan merupakan makanan khas dari Rembang, tepatnya Desa Tuyuhan.

Banyak yang menyebutkan bahwa masakan ini memiliki kaitan erat dengan sejarah penyebaran agama Islam di Rembang oleh Sunan Bonang pada masanya.

Nama Tuyuhan sendiri berasal dari kata uyuhan yang berarti “terkencing-kencing”, yakni nama daerah asal masakan tersebut.

BACA JUGA :  Dua Tahun Berturut-turut Capai Target Penerimaan Mahasiswa Baru, Salut Kartini Rembang Tingkatkan Pelayanan

Secara visual, hidangan ini menyerupai lontong opor pada umumnya. Namun, ketenaran daerah asalnya memberikan daya tarik tersendiri.

Fenomena ini diakui oleh para pedagang lokal yang menggantungkan hidup dari resep turun-temurun tersebut.

“Lontong Tuyuhan ini sebenarnya mirip dengan lontong opor lainnya, Mas. Yang membuatnya istimewa adalah sejarah dan kepopulerannya di daerah Tuyuhan yang kemudian menyebar luas. Karena banyak dijajakan di sana, orang-orang menganggap masakan ini berasal dari sana dan rasanya lebih autentik,” ungkap Sukarno, salah satu pedagang Lontong Tuyuhan di kawasan Alun-Alun Rembang.

Hidangan ini biasa disajikan dengan tampilan unik, yakni lontong berbentuk segitiga atau pasung yang melambangkan filosofi tertentu.

Lontong tersebut bersanding dengan potongan ayam kampung muda yang dimasak perlahan hingga seratnya terasa lembut dan empuk saat masuk ke dalam mulut.

BACA JUGA :  Festival Sastra Nusantara: Lomba Literasi sebagai Upaya Meningkatkan Minat Baca dan Kemampuan Berbahasa

Sebagai sentuhan akhir, guyuran kuah opor kuning yang kental menguar aroma kelapa dan rempah, menciptakan harmoni rasa gurih yang memanjakan lidah.

Lontong Tuyuhan memiliki harga yang sangat terjangkau. Biasanya, satu porsi hidangan ini dihargai kisaran Rp12.000 hingga Rp20.000, tergantung potongan daging ayam yang dipilih.

Harga yang ramah di kantong tersebut membuat Lontong Tuyuhan menjadi pilihan populer di kalangan masyarakat.

Bagi para pemburu kuliner, sajian legendaris ini dapat ditemukan di berbagai sudut Kabupaten Rembang.

6c066a52-c21b-4836-896b-437d7f833e4b

Selain di Desa Tuyuhan, Lontong Tuyuhan dapat ditemukan di tengah kota Rembang. (Bagus Yusril)

Namun, jika Anda berada di pusat kota, cobalah melipir ke pojok barat Alun-Alun Rembang, tepat di depan Masjid Agung Rembang.

Di bawah naungan tenda sederhana, Anda akan bertemu dengan Sukarno, pedagang Lontong Tuyuhan yang telah mendedikasikan lebih dari tiga dekade hidupnya untuk merawat cita rasa ini.

BACA JUGA :  Merajut Asa dari Rumah: Kisah Diah Kurniana Wati, Ibu Rumah Tangga yang Sekaligus Pelaku Usaha dan Mahasiswa

Pria yang telah berjualan sejak 1988 tersebut merupakan generasi penerus resep keluarga yang masih bertahan di tengah gempuran kuliner modern.

“Saya sudah berjualan hampir 37 tahun, Mas. Sejak saya masih muda sampai sekarang umur saya 68 tahun. Ini resep turun-temurun dari orang tua saya,” kenangnya.

Sambil melayani pelanggan, Sukarno menceritakan perjalanan hidupnya dengan raut wajah bangga, dihiasi senyum tipis yang mencerminkan ketulusan dalam setiap porsi yang disajikan.

Lontong Tuyuhan merupakan kuliner khas Rembang yang wajib dicoba. Tidak hanya lezat, sajian ini juga menyimpan jejak sejarah yang sarat makna.

Di tengah derasnya arus kuliner modern, menjaga eksistensi Lontong Tuyuhan bukan sekadar soal selera, melainkan upaya merawat peninggalan leluhur agar warisan rasa ini tidak hilang ditelan zaman, melainkan terus lestari dan menjadi kebanggaan generasi mendatang.

Video pilihan: Universitas Terbuka di Era Digital


Bagikan :
Editor : Alfia Dwi Nastiti