Tepuk Sakinah: Respons dan Refleksi bagi Generasi Muda
Oleh: Windy Eka Putri Devina *)
OPINI, utrembang.com – Hidup di era digital dan di tengah derasnya arus penggunaan media sosial hiburan seperti TikTok telah mendorong tidak hanya individu, tetapi juga lembaga, baik pemerintahan maupun masyarakat, untuk memiliki kreativitas yang tinggi.
Banyak lembaga kini mulai memanfaatkan platform TikTok untuk menyampaikan informasi, melakukan edukasi, serta menyuluhkan nilai-nilai penting di bidang masing-masing.
Menanggapi tantangan zaman, Kementerian Urusan Agama Menteng melalui salah satu kegiatan interaktif yang diunggah di akun TikTok-nya pada tahun 2024 berhasil menarik perhatian hingga menjadi tren di tengah masyarakat.
Video tersebut menampilkan sebuah yel-yel yang dikenal dengan sebutan “Tepuk Sakinah.”
Bukan sekadar hiburan, tetapi tepuk ini mengandung lima pilar keluarga sakinah, di antaranya yaitu berpasangan, mitsaqan ghaliza atau janji yang kokoh, mu’asyarah bil ma’ruf atau saling berbuat baik, musyawarah, dan taradhin atau saling rida.
Respons Gen Z dan Pandangan Publik
Video Tepuk Sakinah mendapat banyak tanggapan positif, terutama dari generasi muda yang tumbuh dalam budaya digital.
Bagi mereka, kegiatan semacam ini menunjukkan bahwa nilai-nilai spiritual dan pesan dakwah dapat disampaikan dengan cara kreatif, ringan, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Namun, di sisi lain muncul beberapa tanggapan kritis terkait konteks penggunaannya.
Beberapa pihak menilai bahwa Tepuk Sakinah sebaiknya tidak dilakukan di tengah prosesi akad nikah yang bersifat sakral.
Dalam sejumlah video serupa, tepuk tersebut ditampilkan sebagai selingan di momen akad, dan hal ini memicu perdebatan mengenai batas antara hiburan dan penghormatan terhadap nilai keagamaan.
Kendati demikian, tidak dapat dimungkiri bahwa Tepuk Sakinah menjadi salah satu bentuk tren positif dalam penyuluhan keagamaan.
Di tengah kesibukan dan derasnya arus hiburan digital, konten seperti ini mampu menghadirkan dakwah yang ringan, menyenangkan, sekaligus mengandung pesan moral yang kuat.
Tren Tepuk Sakinah menunjukkan bahwa penyampaian nilai-nilai spiritual maupun pesan moral lain dapat dikembangkan mengikuti perkembangan zaman tanpa menghilangkan esensinya.
Bagi generasi muda, terdapat pelajaran penting sekaligus pengingat bahwa media sosial bukan sekadar ruang hiburan, tetapi juga sarana untuk menebarkan nilai-nilai positif dengan tetap menjaga keseimbangan antara kreativitas dan kesakralan agar pesan yang disampaikan tidak kehilangan daya tarik di mata publik, namun tetap dihormati.
*) Mahasiswa Semester 5 Program Studi Agribisnis Pertanian, UT Salut Kartini Rembang.
Video pilihan: Tutorial Login Microsoft Teams menggunakan Akun Ecampus UT