Jalan Pengabdian Gus Hanies, Wakil Bupati Rembang: Menyambung Amanah dari Pesantren

Wakil Bupati Rembang, Mochamad Hanies Cholil Barro’ kisahkan perjalanannya meniti karir. (Alfia Dwi Nastiti)
REMBANG, utrembang.com – “Pemimpin harus bisa menjadi pelayan. Pelayan bagi yang dipimpin, di mana pun,” kalimat tersebut diungkapkan oleh Wakil Bupati Rembang, Mochamad Hanies Cholil Barro’ atau yang kerap disapa Gus Hanies kala dijumpai dalam sesi wawancara santai di ruang dinasnya.
Lahir, besar, dan tumbuh di lingkungan pesantren di Rembang, Gus Hanies menjalani pendidikan formal yang berjalan beriringan dengan kehidupan santri. Ia mengawali pendidikan di SD Kutoharjo 4 Rembang, kemudian melanjutkan ke MTs Mu’allimin Mu’allimat Rembang.
Saat sebagian kerabatnya memilih sekolah negeri, Gus Hanies justru melanjutkan pendidikan di MTs Mu’allimin Mu’allimat Rembang. Alasannya sederhana, sebagian besar santri dari pesantren tempatnya tinggal juga bersekolah di sana.
Selepas MTs, Gus Hanies melanjutkan pendidikan di MAN 2 Rembang sebelum merantau ke Yogyakarta untuk menempuh pendidikan tinggi di UIN Sunan Kalijaga. Di Yogyakarta, ia sempat menjadi santri di Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak dan Pondok Pesantren Nurul Ummah, meski dalam waktu singkat.
Namun, menjelang penyelesaian studi, ia memilih tinggal di rumah kos agar lebih fokus menyelesaikan skripsi.
Jika masa kecil hingga remajanya ditempa di Rembang, Gus Hanies mengaku proses pendewasaan dirinya justru banyak terbentuk ketika berada di Yogyakarta. Di Kota Pelajar itu pula ia dipertemukan dengan pendamping hidupnya, seorang alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM).
Perjalanan pengabdian Gus Hanies di organisasi dimulai tidak lama setelah menyelesaikan pendidikan tinggi. Ia aktif di Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) dan pada periode 2015–2020 dipercaya menjadi Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Rembang.
Setelah itu, kiprahnya berlanjut sebagai pengurus sekaligus Wakil Ketua Pimpinan Wilayah GP Ansor Jawa Tengah. Kini, pada kepengurusan Pimpinan Pusat GP Ansor periode 2024–2029 di bawah kepemimpinan Ketua Umum Addin Jauharudin, Gus Hanies dipercaya sebagai salah satu Ketua Pimpinan Pusat sekaligus Koordinator Wilayah Jawa Tengah–DIY.
“Setelah lulus kuliah saya bergabung di Ansor, dan ketika menjadi ketua cabang saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengurus organisasi. Sebagai pimpinan pusat, saya lebih banyak melakukan koordinasi dengan pimpinan cabang lain melalui daring, jarang langsung hadir di lokasi,” ujarnya.
Meski tidak bisa sering hadir dalam acara-acara Ansor di cabang, Gus Hanies mengaku ketika bertugas ke luar daerah, ia kerap menyempatkan diri singgah ke cabang-cabang Ansor untuk bersilaturahmi dan berdiskusi langsung.
Selain aktif di organisasi kepemudaan Nahdlatul Ulama (NU), Gus Hanies juga meniti karier politik melalui Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Ia menegaskan bahwa sepanjang perjalanan politiknya hanya berkiprah di PKB. Meski kini tidak lagi menjabat sebagai ketua partai di tingkat daerah, ia masih menjadi bagian dari kepengurusan sebagai Mustasyar (Dewan Pertimbangan).
Karier politik tersebut mengantarkannya maju dalam Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Rembang pada 2020 mendampingi Abdul Hafidz. Pasangan ini kemudian dipercaya masyarakat untuk memimpin Kabupaten Rembang sebagai bupati dan wakil bupati. Kemudian, pada 2024, Gus Hanies mendampingi Harno maju dalam Pemilihan Kepala Daerah dan terpilih kembali sebagai Wakil Bupati Rembang.
Meski berasal dari keluarga yang memiliki latar belakang politik, Gus Hanies mengaku tidak pernah sejak kecil menjadikan jabatan sebagai obsesi.
“Lebih kepada panggilan hati dan dorongan dari para guru serta para kiai untuk maju mengabdi. Kami mengalir saja,” tuturnya.
Keputusan maju sebagai calon wakil bupati, menurutnya, lahir dari komunikasi panjang bersama para ulama, tokoh NU, sahabat di GP Ansor, hingga rekan-rekan di PKB. Sejumlah ulama yang memberikan dukungan di antaranya KH M. Makin Shoimuri, KH Achmad Chazim Mabrur, serta banyak kiai lainnya.
Bagi Gus Hanies, kepemimpinan bukan tentang kekuasaan, melainkan pelayanan. Seorang pemimpin harus mampu membaur dengan masyarakat, memahami kebutuhan mereka, dan hadir sebagai pelayan bagi orang-orang yang dipimpinnya.
“Kalau menjadi pemimpin daerah, kita harus tahu apa kebutuhan masyarakat. Pemimpin harus menjadi pelayan. Bahkan dalam keluarga pun, seorang ayah harus tahu kebutuhan istri dan anak-anaknya,” ungkapnya.
Meski telah mengemban berbagai amanah, Gus Hanies meyakini bahwa proses belajar tidak pernah berhenti.
Menurutnya, menuntut ilmu merupakan kewajiban sepanjang hayat yang tidak dibatasi ruang kelas maupun jenjang pendidikan. Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, setiap orang dituntut mampu mengikuti perubahan tanpa kehilangan arah.
“Ikuti arus, tetapi jangan sampai terbawa arus. Ibarat naik perahu di sungai, kita tetap harus punya dayung untuk menentukan ke mana akan melaju,” pesan Gus Hanies.
Bagi Gus Hanies, jabatan, organisasi, maupun pengalaman hidup hanyalah bagian dari perjalanan panjang untuk terus belajar dan mengabdi kepada masyarakat.
Video pilihan: Karavista Musik

