Idhofa, Lulusan Terbaik Salut Kartini Rembang yang Meraih Cumlaude di Tengah Kesibukan
REMBANG, utrembang.com – Tak ada gelar yang datang tanpa perjuangan. Kalimat itulah yang hidup dalam diri seorang perempuan yang nyaris tak pernah berhenti bergerak.
Namanya Idhofatun Ni’amah, seorang guru PAUD yang akrab disapa Idhofa atau “Bu Idho”, yang mampu membuktikan bahwa kesibukan bukanlah alasan untuk berhenti belajar.
Ia justru menjadikannya pijakan untuk meraih IPK tinggi di Salut Kartini Rembang pada wisuda Periode II Tahun Akademik 2024/2025 Universitas Terbuka pada Oktober lalu.
Gelar sarjana itu tidak datang dari jalan yang lapang, tetapi dari hari-hari panjang yang dirajut dengan disiplin dan ketekunan.
Di usianya yang ke-28 tahun, ia menuntaskan studi S1 PGPAUD-AKPMM di Universitas Terbuka selama 9 semester atau 4,5 tahun, hingga akhirnya menorehkan IPK 3,82.
Suatu prestasi yang menjadi kebanggaan tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi keluarga dan lembaga tempat ia mengajar.
Idhofa memilih UT bukan tanpa alasan. Salah satunya karena di lembaganya, para senior banyak yang merekomendasikan UT sebagai salah satu universitas negeri yang cocok bagi guru.
“Awal mula memilih UT karena di satu lembaga saya, yang alumni UT sudah tiga orang dan banyak yang merekomendasikan UT karena merupakan salah satu universitas negeri yang cocok untuk kita selaku guru atau pendidik sehingga bisa mengajar sambil belajar,” ungkapnya.
Para senior yang lebih dulu kuliah di UT menjadi salah satu inspirasi baginya.
Mereka membuktikan bahwa seorang guru bisa tetap mengajar sambil belajar.
Program studi PGPAUD dipilih karena sejalan dengan profesinya, dan Salut Kartini Rembang menjadi rumah belajar yang membesarkannya.
Di tempat itu, ia aktif dalam kepengurusan, menjadi panitia lomba Agustusan, dan merasakan hangatnya kebersamaan para mahasiswa lintas jurusan.
Di antara kesibukan yang ia jalani, Idhofa menyusun karya ilmiah berjudul “Penggunaan Media Plastisin pada Anak Usia 3–4 Tahun untuk Mengembangkan Keterampilan Mengenal Warna”.
Keterbatasan bimbingan tatap muka tidak membuatnya mundur.
Ia meracik metode bermain oper bola warna dengan sendok sehingga anak belajar warna sekaligus melatih motorik halus dan daya ingat.
Namun, perjalanan itu bukan tanpa tantangan. Mata kuliah statistika dan musik sempat membuatnya mundur beberapa langkah.
Dengan tekad yang ia genggam, Idhofa bertanya pada kakak tingkat, berdiskusi dengan teman yang lebih paham, hingga akhirnya mampu melewati rintangan tersebut.
Di balik perjuangannya, ada sosok-sosok inspiratif dalam perjalanannya meniti bangku kuliah.
“Beliau adalah kakak tingkat yang juga berprestasi dan para guru yang menanamkan keyakinan bahwa belajar tak mengenal usia,” ujar Idhofa.
Rahasia keberhasilannya sederhana: membaca modul setiap hari, menyimak materi, aktif bertanya, dan memanfaatkan waktu sekecil apa pun.
Jadwal hariannya padat, mulai dari membantu orang tuanya di pagi hari, mengajar PAUD, menyiapkan les anak SD di malam hari, lalu belajar hingga tugas terselesaikan.
Rutinitas yang bagi sebagian orang berat, namun bagi Idhofa adalah jalan menuju mimpi.
Kini, setelah toga itu resmi dikenakan, Idhofa tak ingin berhenti.
Ia ingin terus mengajar sambil menabung kesempatan untuk melanjutkan studi ke jenjang S2 bahkan S3.
Mimpinya jelas: menjadi perempuan berpendidikan yang bermanfaat bagi anak-anak, masyarakat, dan memperoleh kesetaraan profesi seperti guru TK dan SD lainnya.
Baginya, ilmu bukan sekadar gelar. Setiap hari ia menerapkan pembelajaran berbasis IT, metode bermain, dan dokumentasi pembelajaran seperti yang diajarkan UT.
Ilmu yang ia dapat selama kuliah kembali ke ruang kelas, kepada anak-anak kecil yang menjadi pusat hidupnya.
Idhofa memberikan pesan yang terasa seperti pijar semangat bagi mahasiswa lainnya.
“Tetap belajar walau hanya sebentar. Jangan menunggu menyesal. Berusahalah dari awal,” katanya.
Dan untuk menutup kisahnya, ia mengucapkan satu kalimat yang menjadi benang merah dalam perjalanan hidupnya.
“Tidak ada kata terlambat untuk menggapai cita-cita. Percaya pada kemampuanmu, karena mimpi tidak terwujud melalui sihir, tetapi oleh tekad nyata, usaha, ketekunan, dan kerja keras,” ucap Idhofa.
Kisah Idhofa menjadi bukti bahwa prestasi tidak selalu lahir dari kemewahan waktu, melainkan dari orang-orang yang mau berjuang bahkan ketika hari-hari terasa melelahkan.
Dari situlah ketekunan mampu mengantarkan siapa pun pada puncak pencapaian.
Video pilihan: Mimpi