UT dan Stigma Salah Kaprah yang Melekat
Oleh: Munjiyati *)
OPINI, utrembang.com – Di tengah banyaknya kampus konvensional yang terus bersaing dalam meningkatkan kualitas pendidikan, di sisi lain Universitas Terbuka (UT) masih berkutat dengan stigma masyarakat.
Banyak masyarakat menganggap UT sebagai opsi terakhir saat gagal masuk universitas konvensional bergengsi. Faktanya, UT telah terakreditasi A oleh BAN-PT.
Fakta Akademik Terakreditasi
Akreditasi BAN-PT menjadi bukti bahwa UT memiliki dasar akademik yang kuat. UT selalu berupaya menerapkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja serta perkembangan teknologi.
Banyak lulusan UT yang bekerja di instansi pemerintahan maupun swasta.
Tak hanya itu, mahasiswa UT juga menorehkan banyak prestasi di bidang pendidikan maupun olahraga.
Terbaru, Nur Alam Rahmat meraih medali perak pada Kejuaraan Tingkat Nasional Taekwondo 20th POLTEK Cup 2025.
Fakta tersebut menjadi bukti bahwa stigma yang menyebut mahasiswa UT kurang berkompeten tidaklah tepat.
Fakta Fleksibilitas
UT dikenal sebagai perguruan tinggi yang fleksibel dan dapat diakses dari mana saja.
Pernyataan tersebut memang benar adanya, namun dengan kurikulum baru yang diberlakukan, stigma terkait “fleksibilitas” seakan sudah tidak relevan lagi.
Dalam kurikulum baru yang berlaku sejak semester 2025.2 (genap), terdapat sejumlah hambatan bagi mahasiswa, terutama yang sudah bekerja.
Tenggat waktu pengumpulan tugas diskusi dan tugas pertemuan yang sebelumnya dua minggu sekali kini menjadi satu minggu sekali, kecuali untuk tugas pertemuan.
Waktu tersebut dirasa tidak cukup untuk menyelesaikan seluruh tugas, terlebih setiap mahasiswa dalam satu semester menempuh 18 hingga 24 SKS.
Selain terkendala tenggat waktu, mahasiswa juga mengaku kesulitan karena kurangnya feedback yang diberikan oleh tutor dalam perkuliahan.
Apabila dosen memberikan feedback melebihi tenggat waktu pengumpulan tugas, maka mahasiswa tidak dapat merevisi jawaban dan memperbaiki nilai.
Hal tersebut tentu sangat disayangkan apabila terus berlanjut tanpa adanya evaluasi dari pihak UT terhadap para tutor online (tuton).
Akan tetapi, justru hal tersebut dapat membentuk karakter mandiri yang mampu memanajemen waktu dengan sangat baik antara bekerja dan kuliah, serta menjadikan mahasiswa pribadi yang bertanggung jawab terhadap tugasnya.
Hal ini sejalan dengan tujuan UT untuk menciptakan lulusan yang siap menghadapi dunia kerja.
Fakta Kelas Tatap Muka
Sebagai universitas negeri berbasis daring, banyak masyarakat yang mengira bahwa di UT hanya terdapat kelas online (tuton).
Faktanya, di UT juga tersedia kelas tatap muka (TTM) yang dilaksanakan setiap hari Sabtu dan Minggu.
Namun, hanya beberapa jurusan saja yang dapat melaksanakan pembelajaran tatap muka, seperti jurusan Ekonomi Pembangunan, Manajemen, PGSD, dan PGPAUD.
Kelas tatap muka juga hanya dapat dilakukan apabila mahasiswa mendaftar di UT melalui Sentra Layanan UT (SALUT) di daerahnya, seperti Salut Kartini Rembang.
Selain itu, jumlah mahasiswa dalam satu jurusan turut menentukan apakah kelas tatap muka pada mata kuliah tertentu dapat diajukan, terutama apabila dirasa sangat dibutuhkan.
Evaluasi UT
Dari berbagai fakta dan stigma yang ada, UT perlu melakukan evaluasi terhadap setiap kebijakan yang diterapkan, terutama terkait tutorial online (tuton).
Diharapkan UT dapat meningkatkan komunikasi, layanan akademik, dan transparansi agar dapat memperbaiki persepsi masyarakat serta memperkuat kualitas pendidikan jarak jauh di Indonesia.
Pada akhirnya, setiap evaluasi yang dilakukan tentu akan berdampak baik, khususnya sebagai bukti nyata dari komitmen UT untuk menjadi pelopor pendidikan modern berbasis teknologi.
*) Mahasiswa Semester 5 Ekonomi Pembangunan, UT Salut Kartini Rembang
Video pilihan: Short Movie: Pejuang Mimpi