Menikmati Aneka Batik Tulis di Bangunan Tionghoa Oemah Batik Lasem
REMBANG, utrembang.com – “Batik adalah seni sekaligus jati diri bangsa. Tanpa batik, kita kehilangan identitas.” Itulah ungkapan dari Maestro Batik Indonesia, Iwan Tirta.
Ungkapan kalimat itu seakan tercermin di Oemah Batik Lasem, showroom batik tulis sejak 2018 di kawasan Heritage Lasem, yang setia menjaga tradisi membatik.
Memasuki showroom, pengunjung akan disambut dengan foto pasangan suami istri, pemilik Oemah Batik Lasem yaitu Oei Djio Nio dan Tjoa Tiong Bie.
Suasana semakin terasa syahdu dengan arsitektur bangunan nuansa tionghoa tegap kokoh, ditambah deretan piala dan piagam penghargaan yang berhasil digaet Oemah Batik Lasem di berbagai ajang kebudayaan, salah satunya Piala Bergilir Counter Terbaik PT Laut Bonang.
Di dalam showroom, batik-batik tulis terpampang rapih tanpa sedikit pun debu menempel.
Salah satu batik tulisnya yaitu Batik Johanna Tjoa, batik tulis khas Oemah Batik Lasem yang berbeda dari batik tulis biasanya karena memiliki ukuran lebih panjang serta memerlukan waktu yang tak singkat dalam proses pembuatannya.
“Kalau ini, batik tulis khas Oemah Batik Lasem, Batik Johanna Tjoa. Ukurannya lebih panjang daripada batik-batik tulis lainnya. Proses pembuatannya juga cukup lama bisa tujuh sampai delapan bulan, bahkan satu tahun,” ujar Salam, tour guide.
Batik-batik tulis di showroom ini dijual secara offline maupun online dengan harga yang bervariasi.
“Harga batik tulis di sini bermacam-macam mulai ratusan ribu sampai jutaan, tergantung berapa banyak warna dengan tingkat kesulitan prosesnya pun juga motifnya,” tambah Salam.
Selain menjual hasil karya pengrajin batik tulis karya sendiri, Oemah Batik Lasem juga berusaha membantu para pengrajin batik tulis di pelosok daerah Lasem.
“Di sini kita juga membantu UMKM. Ada beberapa pengrajin batik tulis di pelosok Lasem yang belum punya akses untuk tempat menjual hasilnya, jadi kita bantu jualin,” jelas Salam.
Salah satu pengrajin batik, Siti mengungkapkan bahwa dia membatik sudah dari SD dan sangat senang sekali membatik di Oemah Batik Lasem.
“Saya menjadi pengrajin batik sudah sangat lama, dari SD. Kemudian saya ikut bekerja membatik di showroom Oemah Batik Lasem karena dekat dari rumah juga,” ungkap Siti.
Proses membatik memakan waktu yang cukup lama menjadi tantangan tersendiri apalagi bagi pemula.
“Satu lembar kain segini butuh waktu yang lama sekali, tiga sampai empat bulan. Prosesnya panjang, mulai dari diketeli dengan minyak jarak, membuat pola, ngelengkreng, nembok sampai diberi warna. Prosesnya bisa berulang tergantung mau berapa warna,” imbuhnya.
Kerumitan membatik membuat regenerasi pengrajin batik menjadi tantangan yang sangat besar.
“Membatik memang susah, butuh kesabaran dan ketelatenan. Saya sangat senang apabila ada anak-anak muda yang datang ke sini untuk sekadar bertanya tentang batik ataupun belajar membatik. Pasti nanti akan saya dan ibu-ibu lain ajarin membatik. Supaya nanti ada penerusnya,” kata Siti.
Di tengah era berpakaian modern, Oemah Batik Lasem berdiri sebagai ruang pengingat bahwa batik bukan sekadar kain semata, namun juga identitas bangsa untuk terus dilestarikan.
Dari beberapa helai Johanna Tjoa yang panjang, hingga berbagai macam karya pengrajin batik tulis pelosok, semua menyatu menjadi satu kesenian indah.
Oemah Batik Lasem menjadi penghubung antara tradisi dan masa depan, antara generasi tua dan generasi muda daerah.
Video pilihan: Mimpi
